Search Results for: asuhan keperawatan paraparese

Proses Terjadinya Penuaan

1. Biologi

a. Teori “Genetic Clock”;

Teori ini menyatakan bahwa proses menua terjadi akibat adanya program jam genetik didalam nuklei. Jam ini akan berputar dalam jangka waktu tertentu dan jika jam ini sudah habis putarannya maka, akan menyebabkan berhentinya proses mitosis. Hal ini ditunjukkan oleh hasil penelitian Haiflick, (1980) dikutif Darmojo dan Martono (1999) dari teori itu dinyatakan adanya hubungan antara kemampuan membelah sel dalam kultur dengan umur spesies Mutasisomatik (teori error catastrophe) hal penting lainnya yang perlu diperhatikan dalam menganalisis faktor-aktor penyebab terjadinya proses menua adalah faktor lingkungan yang menyebabkan terjadinya mutasi somatik. Sekarang sudah umum diketahui bahwa radiasi dan zat kimia dapat memperpendek umur. Menurut teori ini terjadinya mutasi yang progresif pada DNA sel somatik, akan menyebabkan terjadinya penurunan kemampuan fungsional sel tersebut. Continue reading

Asuhan Fisioterapi Pada Arthrosis Carpalia

Pengertian
Adalah proses fisioterapis yang terapkan oleh arthrosis carpalia.

Tujuan
Melaksanakan asuhan fisioterapi secara akurat, parupurna, efektif dan efesien dengan hasil yang optimal. Continue reading

Pengertian Distribusi Epidemiologi

A. PENGERTIAN EPIDEMIOLOGI
1. Pengertian Epidemiologi Menurut Asal Kata
Jika ditinjau dari asal kata Epidemiologi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari 3 kata dasar yaitu EPI yang berarti pada atau tentang, demos yang berati penduduk dan kata terakhir adalalah logos yang berarti ilmu pengetahuan. Jadi epidemilogi adalah ilmu yang mempelajari tentang penduduk.
Sedangkan dalam pengertian modern pada saat ini EPIDEMIOLOGI adalah :
“Ilmu yang mempelajari tentang Frekuensi dan Distribusi (Penyebaran) serta Determinat masalah kesehatan pada sekelompok orang/masyarakat serta Determinannya (Faktor – factor yang Mempengaruhinya). Continue reading

Jurnal Kesehatan : PELAKSANAAN PERAWATAN KESEHATAN MASYARAKAT OLEH BIDAN DESA DI KABUPATEN AGAM

Oleh :

Nurmalis, Widodo Wirawan, Kristiani

LATAR BELAKANG
Upaya kesehatan berbasis masyarakat dalam pelayanan kesehatan ibu dan bayi masih sangat kurang dan perlu dilakukan perbaikan, terutama di pedesaan. Penempatan bidan di desa sebagai tenaga kesehatan berperan sangat penting dalam mengatasi masalah tersebut. Mereka ditempatkan dan bertugas di desa yang mempunyai wilayah kerja satu sampai dua desa dalam melaksanakan tugas pelayanan medis baik di dalam maupun di luar jam kerja dan bertanggung jawab langsung kepada kepala puskesmas1 . Tujuan penempatan bidan desa ialah untuk meningkatkan mutu dan pemerataan pelayanan kesehatan melalui puskesmas dan posyandu dalam rangka menurunkan angka kematian ibu, bayi dan balita serta meningkatkan kesadaran masyarakat untuk berperilaku hidup sehat 2. Tetapi, beban kerja bidan desa, khususnya di Kabupaten Agam, semakin
bertambah seiring peluncuran program perawatan kesehatan masyarakat (Perkesmas) secara Nasional. Perkesmas merupakan bagian integral dari upaya kesehatan di puskesmas dan terintegrasi kedalam kelompok upaya kesehatan wajib maupun pengembangan. Tujuannya untuk pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan masyarakat dan mempertimbangkan masalah kesehatan masyarakat yang mempengaruhi individu, keluarga, dan masyarakat.

Program Perkesmas yang seharusnya dilaksanakan oleh tenaga keperawatan, dilaksanakan oleh bidan desa karena keterbatasan tenaga perawat. Jumlah tenaga bidan di Agam sebesar 250 orang, 96 orang di antaranya ialah bidan desa, sedangkan jumlah perawat hanya 137 orang. Kondisi tersebut mendasari kebijakan program perawatan kesehatan masyarakat dilaksanakan oleh bidan.

Sejak penerapan Perkesmas oleh bidan, derajat kesehatan yang berkaitan dengan perawatan kesehatan masyarakat di Agam belum memenuhi target terutama untuk kasus bayi kurang gizi. Harapan yang belum tercapai dimungkinkan oleh kelemahan managemen meliputi input (tenaga, dana dan sarana) atau proses (pengelolaan) di tingkat puskesmas. Indikator untuk menilai mutu pelayanan kesehatan dapat dilihat dari tingkat kepatuhan atau compliance rate terhadap SOP (standard operational procedure). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengelolaan program Perkesmas oleh puskesmas di Kabupaten Agam. Mengetahui faktor input dan proses, mengetahui hubungan antara sumberdaya manusia, dana dan sarana, serta persepsi bidan tentang manajemen puskesmas dalam Perkesmas dengan kualitas pelayanan dan kualitas administrasi, dan mengetahui gambaran kualitas pelaksanaan Perkesmas dan cakupan pelaksanaannya.

Download selengkapnya di : lrc-kmpk.ugm.ac.id/id/UP-PDF/_working/No.7%20_Nurmalis_07_07.pdf

Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Ankle Sprain

Physiotherapy In Ankle sprainPenatalaksanaan Fisioterapi Pada Ankle Sprain
Pengertian:
Adalah proses fisioterapi yang diterapkan pada Ankle sprain
Tujuan:
Melaksanakan asuhan fisioterapi secara tepat, efektif dan efisien dengan hasil yang optimal.
Kebijakan:
Indikasi:
- Asesmen fisioterapi dan temuannya pd kasus Ankle Sprain
- Intervensi fisioterapi pada Ankle Sprain Continue reading

Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Tennis Elbow (Epicondylitis lateralis)

Fisioterapi Pada Tennis ElbowPenatalaksanaan Fisioterapi Pada Tennis Elbow (Epicondylitis lateralis)
Pengertian:
Adalah proses asuhan fisioterapi yang diterapkan pada tennis elbow
Tujuan:
Melaksanakan penatalaksanaan fisioterapi secara akurat, paripurna, efektif dan efisien dengan hasil yang optimal.
Kebijakan:
Patologi:
- Epicondylitis lat. Humeri.
- Inflamasi akibat stretch injury, dapat didahului degenerasi tendon.
- Tennis elbow tipe I: Tendon extensor carpiradialis longus
- Tennis elbow tipe II: Tendoperiosteal extensor carpiradialis brevis
- Tennis elbow tipe III: Tendon-muscular juction extensor carpiradialis brevis
- Tennis elbow tipe IV: Muscle belly extensor carpiradialis brevis Continue reading

Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Kontraktur Sendi Siku Pasca Immobilisasi

Fisioterapi Pada Kontraktur Sendi Siku Pasca ImmobilisasiPenatalaksanaan Fisioterapi Pada Kontraktur Sendi Siku Pasca Immobilisasi
Pengertian:
Adalah proses asuhan fisioterapi yang diterapkan pada kontraktur sendi siku pasca immobilisasi
Tujuan:
Melaksanakan penatalaksanaan fisioterapi secara akurat, paripurna, efektif dan efisien dengan hasil yang optimal.
Kebijakan:
Patologi:
- Pasca immobilisasi fraktur/dislokasi
- Pasca operasi fraktur supracondylar siku, fraktur ante brachii, tumor dan lain-lain
- Kontraktur kapsulo-ligamenter, kontraktur otot siku. Continue reading

Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Thoracic (Compression) Outlet Syndrome: Scalenus Syndrome

Physiotherapy In ThoracicPenatalaksanaan Fisioterapi Pada Thoracic (Compression) Outlet Syndrome: Scalenus Syndrome

Pengertian:
Adalah proses fisioterpi yang diterapkan pada Thoracic (Compression) Outlet Syndrome : Scalenus Syndrome.
Tujuan:
Melaksanakan asuhan fisioterapi secara akurat, paripurna, efektif dan efisien dengan hasil yang optimal
Kebijakan:
Indikasi :
- Asesmen fisioterapi dan temuannya pd kasus Thoracic (Compression) Outlet Syndrome : Scalenus Syndrome
- Intervensi fisioterapi pada Thoracic (Compression) Outlet Syndrome : Scalenus Syndrome Continue reading