Search Results for: contoh naskah drama pelayanan kb

Jurnal Kesehatan : Manajemen Unit Gawat Darurat pada Penanganan Kasus Kegawatdaruratan Obstetri di Rumah Sakit Umum Tengku Mansyur Tanjung Balai

Oleh :

Nurhidayah A. Ritonga, Mubasysyir Hasanbasri

Latar Belakang

Undang-undang Nomor 32 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah telah menetapkan bidang kesehatan sebagai salah satu urusan wajib yang harus dilaksanakan oleh kotamadya/kabupaten. Penyelenggaraan urusan wajib oleh daerah merupakan perwujudan otonomi yang bertanggungjawab sebagai pengakuan hak dan kewenangan daerah dalam wujud tugas dan kewajiban yang harus dipikul. Rumahsakit sebagai suatu organisasi yang khusus memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat harus dilihat sebagai suatu institusi yang sangat fital demi kelangsungan hidup manusia. Penanganan kasus gawat darurat pada setiap rumahsakit khususnya obstetri sering menjadi sorotan publik sebagai pengguna jasa pelayanan kesehatan yang sering merasa terabaikan dan tidak jarang berakhir pada kematian.

Kematian dan kesakitan ibu sebenarnya dapat dikurangi atau dicegah dengan berbagai usaha perbaikan dalam bidang pelayanan kesehatan obstetri. Pelayanan kesehatan tersebut dinyatakan sebagai bagian integral dari pelayanan dasar yang terjangkau seluruh masyarakat. Kegagalan dalam penanganan kasus kedaruratan obstetri umumnya disebabkan oleh kegagalan mengenal resiko kehamilan, keterlambatan rujukan, kurangnya sarana yang memadai untuk perawatan ibu hamil dengan risiko tinggi maupun pengetahuan tenaga medis, paramedis dan penderita dalam mengenal kehamilan resiko tinggi, secara dini, masalah dalam pelayanan obstetri, maupun kondisi ekonomi. Penyebab utama tingginya angka kematian ibu ialah adanya 3 terlambat (3T) yaitu terlambat mencari pertolongan, terlambat mencapai tempat tujuan dan terlambat memperoleh penanganan yang tepat setelah tiba ditempat tujuan.

Pelayanan gawat darurat bertujuan menyelamatkan kehidupan penderita, sering dimanfaatkan hanya untuk memperoleh pelayanan pertolongan pertama dan bahkan pelayanan rawat jalan. Pelayanan gawat darurat terdiri dari; falsafah dan tujuan, administrasi dan pengelolaan, staf dan pimpinan, fasilitas dan peralatan, kebijakan dan prosedur, pengembangan staf dan program pendidikan, evaluasi dan pengendalian mutu.

Alamat Download : http://lrc-kmpk.ugm.ac.id /id/UP-PDF/_working/No.13_Ritonga_04_07.pdf

Desa Siaga

Desa SiagaDefinisi
Desa Siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan kesehatan secara mandiri. Sebuah Desa dikatakan menjadi desa siaga apabila desa tersebut telah memiliki sekurang-kurangnya sebuah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) (Depkes, 2007).

Pos Kesehatan Desa
Poskesdes adalah Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang dibentuk di desa dalam rangka mendekatkan/menyediakan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat desa. UKBM yang sudah dikenal luas oleh masyarakat yaitu Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), Warung Obat Desa, Pondok Persalinan Desa (Polindes), Kelompok Pemakai Air, Arisan Jamban Keluarga dan lain-lain (Depkes, 2007). Continue reading

Pengertian Distribusi Epidemiologi

A. PENGERTIAN EPIDEMIOLOGI
1. Pengertian Epidemiologi Menurut Asal Kata
Jika ditinjau dari asal kata Epidemiologi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari 3 kata dasar yaitu EPI yang berarti pada atau tentang, demos yang berati penduduk dan kata terakhir adalalah logos yang berarti ilmu pengetahuan. Jadi epidemilogi adalah ilmu yang mempelajari tentang penduduk.
Sedangkan dalam pengertian modern pada saat ini EPIDEMIOLOGI adalah :
“Ilmu yang mempelajari tentang Frekuensi dan Distribusi (Penyebaran) serta Determinat masalah kesehatan pada sekelompok orang/masyarakat serta Determinannya (Faktor – factor yang Mempengaruhinya). Continue reading

Jurnal Kesehatan : PELAKSANAAN PERAWATAN KESEHATAN MASYARAKAT OLEH BIDAN DESA DI KABUPATEN AGAM

Oleh :

Nurmalis, Widodo Wirawan, Kristiani

LATAR BELAKANG
Upaya kesehatan berbasis masyarakat dalam pelayanan kesehatan ibu dan bayi masih sangat kurang dan perlu dilakukan perbaikan, terutama di pedesaan. Penempatan bidan di desa sebagai tenaga kesehatan berperan sangat penting dalam mengatasi masalah tersebut. Mereka ditempatkan dan bertugas di desa yang mempunyai wilayah kerja satu sampai dua desa dalam melaksanakan tugas pelayanan medis baik di dalam maupun di luar jam kerja dan bertanggung jawab langsung kepada kepala puskesmas1 . Tujuan penempatan bidan desa ialah untuk meningkatkan mutu dan pemerataan pelayanan kesehatan melalui puskesmas dan posyandu dalam rangka menurunkan angka kematian ibu, bayi dan balita serta meningkatkan kesadaran masyarakat untuk berperilaku hidup sehat 2. Tetapi, beban kerja bidan desa, khususnya di Kabupaten Agam, semakin
bertambah seiring peluncuran program perawatan kesehatan masyarakat (Perkesmas) secara Nasional. Perkesmas merupakan bagian integral dari upaya kesehatan di puskesmas dan terintegrasi kedalam kelompok upaya kesehatan wajib maupun pengembangan. Tujuannya untuk pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan masyarakat dan mempertimbangkan masalah kesehatan masyarakat yang mempengaruhi individu, keluarga, dan masyarakat.

Program Perkesmas yang seharusnya dilaksanakan oleh tenaga keperawatan, dilaksanakan oleh bidan desa karena keterbatasan tenaga perawat. Jumlah tenaga bidan di Agam sebesar 250 orang, 96 orang di antaranya ialah bidan desa, sedangkan jumlah perawat hanya 137 orang. Kondisi tersebut mendasari kebijakan program perawatan kesehatan masyarakat dilaksanakan oleh bidan.

Sejak penerapan Perkesmas oleh bidan, derajat kesehatan yang berkaitan dengan perawatan kesehatan masyarakat di Agam belum memenuhi target terutama untuk kasus bayi kurang gizi. Harapan yang belum tercapai dimungkinkan oleh kelemahan managemen meliputi input (tenaga, dana dan sarana) atau proses (pengelolaan) di tingkat puskesmas. Indikator untuk menilai mutu pelayanan kesehatan dapat dilihat dari tingkat kepatuhan atau compliance rate terhadap SOP (standard operational procedure). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengelolaan program Perkesmas oleh puskesmas di Kabupaten Agam. Mengetahui faktor input dan proses, mengetahui hubungan antara sumberdaya manusia, dana dan sarana, serta persepsi bidan tentang manajemen puskesmas dalam Perkesmas dengan kualitas pelayanan dan kualitas administrasi, dan mengetahui gambaran kualitas pelaksanaan Perkesmas dan cakupan pelaksanaannya.

Download selengkapnya di : lrc-kmpk.ugm.ac.id/id/UP-PDF/_working/No.7%20_Nurmalis_07_07.pdf

Kondisi Yang Mempengaruhi Minat

Menurut Hurlock (1999), ada beberapa kondisi yang mempengaruhi minat, diantaranya :
1. Status Ekonomi
Status ekonomi membaik, orang cenderung memperluas minat mereka untuk mencakup hal yang semula belum mereka laksanakan. Sebaiknya, kalau status ekonomi mengalami kemunduran karena tanggung jawab keluarga tatu usaha yang kurang maju, maka orang cenderung untuk mempersempit minat mereka. Menurut Benyamin Luminto (1998), bahwa tingkat pencapaian pelayanan medis ditentukan oleh biaya yang meningkat, sehingga faktor ekonomi menjadi penyebab naik turunya tingkat pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan, terutama oleh si miskin. Continue reading

Jurnal Kesehatan : Pelaksanaan Desa Siaga Percontohan di Cibatu, Purwakarta

Oleh

Taufik Noor Azhar, Eunice Setiawan, Dewi Marhaeni, Mubasysyir Hasanbasri

Latar Belakang
Indonesia memiliki angka kematian ibu tertinggi dibandingkan dengan negara-negara anggota Assosiation of South East Asian Nations. Faktor resiko komplikasi kehamilan dan cara pencegahan pada ibu hamil telah diketahui tetapi jumlah kematian ibu dan bayi masih tetap tinggi. Lima juta persalinan terjadi setiap tahun di Indonesia tetapi dua puluh ribu diantaranya berakhir dengan kematian. Pada tahun 1988, Indonesia melaksanakan Program Safe Motherhood yang secara aktif melibatkan sektor-sektor pemerintah, organisasi non-pemerintah dan masyarakat, serta badan-badan Internasional. Program ini ternyata cukup berhasil menurunkan angka kematian ibu dari 450 per 100.000 kelahiran hidup di tahun 1985 menjadi 334 per 100.000 kelahiran hidup di tahun 1997. Tetapi, pemerintah memiliki target nasional menurunkan angka kematian ibu sampai 125 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2010. Penurunan angka kematian ibu sesuai target nasional tentu belum dapat tercapai jika pemerintah hanya mengandalkan Program Safe Motherhood saja.

Propinsi Jawa Barat memiliki angka kematian ibu dan bayi masih lebih tinggi dibandingkan dengan angka nasional. Data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada tahun 2003 angka kematian ibu sebesar 321,15 per 100.000 kelahiran hidup dan angka kematian bayi sebesar 44,36 per 1000 kelahiran hidup. Upaya-upaya untuk mengendalikan angka kematian ibu dan bayi pun dilaksanakan seperti usaha pemeliharaan dan pengawasan antenatal sedini mungkin, serta persalinan yang aman dan perawatan masa nifas yang baik.

Kabupaten Purwakarta melaporkan bahwa pada tahun 2005 angka cakupan kumulatif K1 sebesar 81%, cakupan K4 baru mencapai 75%, kunjungan neonatus mencapai 62% dan persalinan oleh tenaga kesehatan baru mencapai 65%. Walaupun angka cakupan tersebut cukup baik namun masih belum mencapai target Standar Pelayanan Minimal K1 sebesar 90%, K4 sebesar 85%, kunjungan neonatus 80%, dan persalinan oleh tenaga kesehatan sebesar 80%. Kabupaten

Purwakarta memiliki 896 posyandu dengan ratio 4 sampai 5 posyandu per desa. Kader berjumlah 2.908 orang yang tersebar di 192 desa dengan ratio kader 2 sampai 3 kader per posyandu. Pengelolaan posyandu juga dilakukan oleh anggota masyarakat terutama kader, yang peduli terhadap masalah kesehatan di desa. Tetapi, akses ke sarana pelayanan kesehatan masih menjadi masalah bagi ibu-ibu hamil atau yang akan segera melahirkan karena jumlah polindes di Kabupaten Purwakarta hanya ada 8 unit saat ini. Selain itu, upaya kesehatan berbasis masyarakat yang secara spesifik terfokus pada ibu dan bayi belum ada sedangkan upaya kesehatan melalui Pos Obat Desa terdiri dari 14 unit, Saka Husada terdiri dari 6 unit, dan upaya kesehatan kerja terdiri dari 6 unit, masih bersifat pelayanan umum.

Download selengkapnya di lrc-kmpk.ugm.ac.id/id/UP-PDF/_working/No.19_Taufik_Noor_Azhar_07_07.pdf

Konsep Pemikiran Tentang Kesehatan Reproduksi Wanita

Pembangunan kesehatan bertujuan untuk mempertinggi derajat kesehatan masyarakat. Demi tercapainya derajat kesehatan yang tinggi, maka wanita sebagai penerima kesehatan, anggota keluarga dan pemberi pelayanan kesehatan harus berperan dalam keluarga, supaya anak tumbuh sehat sampai dewasa sebagai generasi muda. Oleh sebab itu wanita, seyogyanya diberi perhatian sebab : Continue reading

Penanganan Anak Tuna Daksa

Penanganan Anak Tuna Daksa

Penanganan Anak Tuna Daksa TUJUAN

1.  Mengetahui hubungan masalah ortopedi anak tuna daksa dengan kelainan fungsi.

2. Memahami prinsip penanganan ortopedi bagi anak tuna daksa dalam upaya pemulihan fungsi.

3. Memahami prinsip-prinsip rehabilitasi bagi anak tuna daksa dalam upaya pemulihan fungsi.

4. Memahami hubungan prinsip penanganan ortopedi dan rehabilitasi dengan kegiatan pendidikan anak tuna daksa.

LATAR BELAKANG

Telah dibahas keadaan ATD mulai dari tanda gerak tidak normal, perjalanan dan gejala penyakit sebagai penyebab timbulnya gangguan fungsi.  Gangguan fungsi tersebut diantaranya adalah gerak tidak normal. Gerak tidak normal sering timbul akibat fungsi saraf, otak, tepi, tulang, dan sendi serta otot.

Kelainan tulang, sendi, saraf, dan otot ini, merupakan bagian yang dibahas oleh bidang ortopedi. Adapun penyakit penyebab timbulnya kelainan fungsi dari segi ortopedi adalah penyakit yang sering menimbulkan gangguan fungsi pada anak tuna daksa. Maka pembahasan penyebab ATD ini hanya terbatas pada penyakit cerebral palsy, polioelitis, muskular distropi, dan kelainan utama berupa amputasi.

1.  Penyembuhan / pemulihan dari penderita sakit, cedera, cacat akan tergantung pada keadaannya dan penggunaan semua bantuan medis serta alat yang berguna untuk membantu jasmaninya.

2. Seorang penderita cacat harus dapat perhatian secara keseluruhan dan tidak terbatas pada bagian organ maupun anggota tubuh, tujuannya adalah mengintegrasikan seluruh fungsi ke arah pola yang dinamis efektif.

3. Pengobatan penyembuhan harus dimulai sedini mungkin untuk mencegah kelainan sebagai akibat dari imobilisasu yang terlalu lama dengan adanya kehilangan tonus, kelainan metabolik dan  gangguan fungsi biologis.

Keuntungan pelayanan unit rehabilitasi medis:

- Peningkatan pelayanan kesehatan

- Masa penyembuhan dan perawatan dipersingkat

- Mengurangi penderita yang dikirim ke pusat rehabilitasi.

Mengenal kelainan fungsi pada ATD akibat penyakit tersebut ditinjau dari segi ortopedi dan hubungannya dengan kepentingan pendidikan. ATD. Penyebab timbulnya gangguan fungsi ATD ditinjau dari segi ortopedi, gejala-gejaja spesifik kelainan fungsi ATD tersebut akhirnya dibahas pula prinsip dasar cara mengenal kelainan fungsi pada ATD.

Setelah mengetahui permasalahan ATD baik mengenai masalah gangguan fungsi yang ada kaitannya dengan faktor ortopedi maupun dengan kepentingan pendidikan ATD, maka yang akan dibahas berikutnya adalah upaya memperhatikan peran ortopedi dalam penanganan demi kelancaran pendidikan.

PENDAHULUAN

Selanjutnya akan dibahas mengenai upaya-upaya penanganan terpadu gangguan fungsi akibat kelainan otot, tulang, sendi, saraf. Tujuan utama dari penanganan adalah sebagai upaya untuk mempertahankan ,atau memulihkan fungsi semaksimal mungkin, sehingga keadaan fungsi ATD akibat penyakit tersebut dapat mencapai tingkat atau derajat fungsi yang mampu melaksanakan kegiatan komunikasi, memelihara diri sendiri melaksanakan kegiatan mobilisasi dan jalan. Dengan kemampuan fungsi tersebut ATD diharapkan akan mampu melaksanakan kegiatan pendidikan dan mampu mandiri di tengah-tengah masyarakat.

Ditinjau secara keseluruhan ATD akan mengalami kelainan struktur alat gerak sebagai bagian dari ilmu medik ortopedi yang meliputi faktor otot, tulang, sendi, dan saraf. Seluruhnya kelainan faktor ortopedi ini akan merupakan masalah faktor medik atau masalah medik.

Selanjutnya akibat faktor medik akan terjadi masalah fungsi ATD secara keseluruhan yang disebut masalah habilitasi atau rehabilitasi. Dengan demikian pada ATD akan sering ditemukan dua kelompok masalah yaitu masalah medik dan selalu berhubungan dengan- sebab timbulnya masalah fungsi atau masalah rehabilitasi atau habilitasi medik.

Selanjutnya akan diuraikan pokok-pokok bahasan sebagai berikut:

1. Prinsip penanganan masalah dari segi ortopedi dan kaitannya dengan mengatasi kelainan fungsi dalam upaya pemulihan fungsi ATD. Disebut juga mengatasi masalah medik. Sasarannya adalah mengatasi keseluruhan nyeri, hambatan gerak sendi, otot yang lemah, gangguan koordinasi gerak dan hambatan gerak fungsional.

2. Prinsip rehabilitasi atau habilitasi medik ada kaitannya dengan upaya mengatasi kelainan fungsi untuk mengembalikan fungsi yang tidak normal pada ATD sehingga anak mampu melaksanakan kegiatan sehari-hari atau sampai dapat mengikuti kegiatan pendidikan. sasarannya adalah mengatasi hambatan komunikasi, ADL, mobilisasi dan jalan.

3.  Pelaksanaan upaya pemulihan fungsi dari segi rehabilitasi atau habilitasi medik bersifat terpadu dan menyeluruh serta dilaksanakan secara tim dengan hubungan kerja secara interdisipliner. Hubungan kerja secara interdisipliner mengharuskan setiap anggota tim memahami hal-hal sebagai berikut:

a. Satu tujuan upaya terpadu yaitu memulihkan fungsi anak secara keseluruhan baik yang menyangkut aspek fisik, mental psikologi., sosial dan pendidikan.

b. Karena sifat kegiatannya terpadu dan terkait maka tiap anggota tim berkewajiban mengetahui/ memahami kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh anggota tim lainnya baik cara tindakannya maupun tujuan akhirnya.

Dalam pelaksanaannya, maka setiap periode tertentu perlu adanya pertemuan tim yang akan melaksanakan saling tukar informasi perkembangan hasil kegiatan tiap anggota tim. Untuk selanjutnya tim akan menentukan target kegiatannya dalam upaya mencapai sasaran akhir pemulihan fungsi tersebut. Tujuan akhir yang akan dicapai dalam waktu yang diperlukan ditentukan oleh tim.

1. Penanganan masalah rehabilitasi medis secara pendekatan tim untuk ATD.

Dalam upaya menyelesaikan masalah rehabilitasi atau habilitasi medis perlu tim khusus. Tim ini terdiri dari berbagai cabang keahlian profesional yang akan bekerja secara tim. Anggota tim terdiri dari:

a. Dokter spesialis rehabilitasi medik.

Dokter spesialis rehabilitasi medik akan memeriksa dan menilai jenis kelainan fungsi, problem medis dan rehabilitasi serta hubungan kelainan fungsi yang timbul. Selanjutnya akan menentukan garis besar program-program rehabilitasi serta tujuan yang ingin dicapai yang akan dilaksanakan anggota tim dalam bentuk kerjasama interdisipliner.

b. Fisioterapis / Fisikalterapis

Fisioterapis akan mengadakan penilaian dan melaksanakan program rehabilitasi medis untuk menyelesaikan masalah mobilisasi. Bentuk kegiatannya kebanyakan mengatasi gangguan sendi, menguatkan otot dan saraf yang lemah yang menunjang untuk kegiatan mobilisasi dan khususnya jalan dengan bantuan atau tanpa alat.

c. Okupasional terapis

Okupasional terapis akan mengadakan penilaian dan melaksanakan program rehabilitasi medis untuk melatih fungsi tangan, untuk kegiatan ADL. Bentuk kegiatan dasar terutama untuk kegiatan makan, minum, mandi dan berpakaian.

d. Speech terapis

Speech terapis akan mengadakan penilaian dan melaksanakan program mengatasi hambatan komunikasi. Biasanya ATD akibat polio tidak sering mengalami hambatan komunikasi.

e. Prostetis dan ortosis

Prostesis dan ortosis akan mengadakan penilaian dan melaksanakan pengukuran, pengepasan dan menyerahkan alat bantu ortesa sebagai alat penunjang mobilisasi ADL. Alat yang diberikan untuk kaki adalah brace pendek (SLB) atau brace panjang (LLB), sepatu koreski. tongkat kruk, splin untuk tangan dan sebagainya, semua peralàtan bantu ini dapat menunjang kelancaran upaya pemulihan fungsi.

f. Psikolog

Psikologi akan mengadakan penilaian dan membuat program Psikoterapi untuk memperbaiki atau meningkatkan motivasi anak dalam upaya pemulihan fungsi secara keseluruhan.

g. Sosial Medis

Sosial medis akan menyelesaikan masalah keluarga agar dapat berpartisipasi aktif dalam upaya memulihkan fungsi anak. Keterlibatan orang tua dalam masalah finansial dan hubungan interaksi antar anak dalam keluarga ikut menentukan keberhasilan upaya rehabilitasi medis.

h. Pendidik

Pendidik ATD akibat polio ikut menentukan keberhasilan upaya rehabilitasi medis secara keseluruhan dalam hal mencerdaskan anak, sesuai dengan kondisi fisik yang ada menuju tercapainya anak berkualitas. Upaya pendidik harus sesuai dengan derajat fungsi dan faktor penyebabnya, serta program rehabilitas yang diberikan perlu dilaksanakan sambil melaksanakan kegiatan pendidik.

AFR Pada Penderita Diabetes Mellitus (DM)

Diabetes Mellitus

Diabetes MellitusBab I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan manusia seutuhnya terkait dengan semua aspek kehidupan manusia seperti demografi. Keadaan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat, keadaan dan perkembangan Iingkungan fisik dan biologis serta sosial budaya, termasuk sumber daya khususnya dibidang ,kesehatan.

Sasaran pembangunan kesehatan yaitu terselenggaranya layanan kesehatan yang makin bermutu dan merata yang mampu wujudkan manusia tangguh, sehat, dan produktif. Pembangunan bidang kesehatan telah mengalami kemajuan yang ditandai dengan makin tingginya derajat kesehatan masyarakat, luasnya cakupan upaya layanan dan semakin meratanya hasil-hasil pembangunan dibidang  kesehatan yang telah dinikmati oleh masyarakat. Maka itu perlunya motivasi yang kuat dan sungguh-sungguh dan disertai keikhlasan dalam menjalankan profesi dibidang pelayanan kesehatan.

TUJUAN

Tujuan umum

Menyajikan AFR pada penderita dengan berbagai kondisi.

Tujuan khusus

2.1. Melatih AFR pada penderita DM dengan cara ADL sehari-hari

2.2. mempertahankan ketahanan fisik, ROM dan mendukung sifat/fungsi psikososial

Bab II

PEMBAHASAN

A. DEFINISI / PENGERTIAN DIABETES MILITUS

Diabetes militus adalah kelainan metabolisme yang dturunkan secara genetik akibat karena glikemia puasa. atreosklerosis. dan kelainan neoropatis atau Diabetes militus adalah keadaan hiperglikimia kronik disertai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal saraf dan pembuluh darah disertai lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop dengan mikroskop electron.

B. PERUBAHAN PATOLOGI

1. Penyebab

Diabetes militus dibedakan/terbagi atas:

IDDM (Insulin Dependent Diabetes Militus) atau diabetes militus tergantung insulin yang disebabkan destruksi sel B pulau langerhans akibat proses autoimun dan NIDDM (Non IDDM) atau Diabetes militus tidak tergantung insulin disebabkan kegagalan relative sel B dan Resistensi lnsun atau turunnya kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan glukosa oleh hati. Oleh sebab itu sel tidak mampu mengimbangi resistensi ini sepenuhnya, artinya terjadinya defisiensi relative insulin. Ketidakmampuan ini dilihat dari berkurangnya sekresi insulin pada rangsangan glukosa, maupun pada rangsangan bersama bahan perangsang sekresi insulin lain. Berarti sel B pancreas desensitisasi terhadap glukosa.

2. Gejalah-gejalah

A. Poli uria (banyak kencing).

B. Poli dipsia (banyak minum).

C. Poli pagia (banyak makan).

D. Rasa gatal-gatal.

E. Rasa manis pada kencing yang tandai dengan air kemih penderita dikerumuni semut.

F. Hasil tes toleransi glukosa yang has baik gula darah puasa atau rutin/sewaktu.

G. Hasil pemeriksaan glukotes positif.

H. Lemas.

I.berat badan turun.

J. Kesemutan.

K Mata kabur.

L. Impotensi pada pria.

M. Pruritus vulva pada wanita.

Komplikasi

A. Akut:

1 Koma Hipoglekemia

2. Keroasidosis

3, Koma Hiperosmolar non Ketotik

B. Kronis

1. Makroangiopati, mengenai pembuluh darah besar, pembuluh darah jantung, pembuluh darah tepi, pembuluh darah otak.

2. Makroangiopati, mengenai pembuluh darah kecil, retinopati diabetik, nefropati diabetik,

3 Neuropati diabetic.

4. Rentan infeksi seperti TBC paru, Gingivitis dan infeksi saluran kemih.

5 Kaki diabetic.

C. PROBLEM ATAU HAMBATAN AKTIVITAS KEGIATAN SEHARI-HARI

Di lihat dari gejala yang ditimbulkan hambatan tersebut dapat berupa

• Rentan terhadap infeksi:

Maka sebaliknya latihan diprioritaskan pada tempat-tempat di Rumah Sakit seperti ruangan pemeriksaan atau penyakit dan sebagainya.

• Mengingat penyakit ini dapat menyebabkan berbagai komplikasi sebaiknya latihan menurut petunjuk dokter yang disesuaikan dengan pengobatan.

D. PEMERIKSAAN FISIK

1. Aspek jasmani

a. Penglihatan;

Penderita dapat membedakan warna, dapat melihat lubang kencing (apakah ada katarak).

b. Cepat Ielah

c. Dan tugas makin lama ditambah beratnya

- Untuk ibu:

a. Mulai ADL pribadi tanpa kesulitan Misalnya makan, minum, berpakaian.

b. ADL Iebih luas / pekerjaan RT dapat dilaksanakan di ruangan Misalnya : cuci piring, menyulam, meremas pakaian, menanam bunga, dan lain-lain.

- Untuk anak-anak:

ADL menurut umumya:

Misalnya permainan dengan bola teka-teki dan lain-lain.

E. PELAKSANAAN PEMBERIAN AKTIVITAS

1. Misalnya mempertahankan ROM.

Pada semua penderita dapat dilakukan dengan latihan bola sendirian (untuk anggota atas atau bawah) atau bersama dengan penderita lain di luar ruangan dengan cara duduk atau berdiri.

2. mempertahankan kekuatan fisik melalui kegiatan sehari-hari. Dapat dilakukan dengan cara melaksanakan kegiatan sehari-hari seperti makan sendiri, minum, mandi, berpakaian, ataupun kerajinan tangan yang lain.

3. untuk mendukung sifat dan psikososial dapat dilakukan dengan cara mernberikan dorongan kepada . penderita disamping melatihnya, bahwa dia dapat melakukan itu sendiri.

F. KEAMANAN YANG HARUS DIPERHATIKAN PADA PASIEN

1. Kita harus memikirkan waktu memberikan aktivitas pada penderita waktu makan, minum obat, suntikan dan lain-lain sebagainya dalam memberikan latihan tidak boleh sampai menyita waktu dari kebutuhan penderita.

2. Jagalah supaya penderita dengan cara yang aman mencegah terjadinya luka-Iuka.

3. Mencegah mata jangan terlalu lelah.

4. Mendidik supaya penderita supaya duduk jongkok, berdiri, dengan posisi yang betul, mencegah kecapaian kesakitan pada otot kalau posisi salah.

5. Mendukung penderita supaya komplikasi yang lain jangan sampai timbul.

Dan tugas makain lama ditambah beratnya

- Untuk ibui :

a. Mulai ADL pribadi tanpa kesulitan

Misalnya, makan, minum, berpakaian.

b. ADL lebih Iuas/pekerjaan RT dapat dilaksanakan di ruangan MisaInya cuci piring, menyulam, meremas pakaian, menanam bunga, dan lain-lain.

- Untuk anak-anak

ADL menurut umumya:

Misalnya : permainan dengan bola teka-teki dan Iain-lain.

G. PELAKSANAAN PEMBERIAN AKTVITAS

1. Misalnya mempertahankan ROM.

Pada semua penderita dapat dilakukan dengan latihan bola sendirian (untuk anggota atas atau bawah) atau bersama dengan penderita lain di luar ruangan dengan cara duduk atau berdiri.

2. mempertahankan kekuatan fisik melalui kegiatan sehari-hari.

Dapat dilakukan dengan cara melaksanakan kegiatan sehari-hari seperti makan sendiri, minum, mandi, berpakaian ataupun kerajinan tangan yang lain.

3. untuk mendukung sifat dan psikososial dapat diakukan dengan cara memberikan dorongan kepada penderita disamping melatihnya, bahwa dia dapat melakukan itu sendiri.

H. KEAMANAN YANG HARUS DIPERHATIKAN PADA PASIEN

1. Kita harus memikirkan waktu memberikan aktivitas pada penderita waktu makan, minum obat, suntikan dan lain-lain sebagainya dalam memberikan latihan tidak boleh sampai menyita waktu dari kebutuhan penderita.

2. Jagalah supaya penderita dengan cara yang aman mencegah terjadinya luka-Iuka.

3. Mencegah mata jangan terlalu lelah.

4. Mendidik supaya penderita supaya duduk jongkok, berdiri, dengan posisi yang betul, mencegah kecapaian kesakitan pada otot kalau posisi salah.

5. Mendukung penderita supaya komplikasi yang lain jangan sampai timbul.

6. Mendukung penderita mengenal dietnya.

7. Memberi peranan pada anggota keIuarga mengenai keamanan tersebut di atas dan aturan-aturan kegiatan-kegiatan, istirahat, makan.

I. EVALUASI

Evaluasi dapat dilakukan dengan cara:

Evaluasi sesaat:

Kegiatan AFR dapat meringankan:

- Rasa putus asa

- GeIisah

- Ketakutan pada penderita Evaluasi berkala:

Dengan melatih penderita ADL.. sehari-hari diharapkan penderita dapat mengembalikan kemampuan fungsional dan gerak agar dalam interaksinya dia tidak tergantung orang lain.

- Dengan latihan ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan fisik atau ROM agar lebih tertingkatkan.

J. PEMBERIAN ALAT BANTU SESUAI KECATATAN

Penyakit DM bisa menyebabkan amputasi anggota tubuh dan menyebabkan cacat, dikarenakan luka DM sukar sembuh dan dapat menyebabkan banyak jaringan tubuh mengalami nekrosis. Alat bantu yang diberikan misalnya:

- Tongkat atau kursi roda untuk membantu penderita berjalan dalam melaksanakan ADL sehari-hari.

- Pengalas tangan saat bekerja dan berjalan ditambah pengalas kaki dan lain-lain.

K. SARAN/HOME PROGRAM

1. Penderita harus patuh untuk diet dan mengkonsumsi obat-obatan sesuai pengobatan.

2. Penderita harus selalu mengontrol darah gula.

3. Penderita harus melakukan ADL sehari-hari untuk mempertahankan ketahanan otot dan mempertahankan ROM.

4. Sebagai seorang fisioterafis, kita harus memberikan support bahwa penyakitnya itu dapat disembuhkan.

5. Penderita tidak boleh takut, gelisah, atau putus asa.

Masalah yang di Timbulkan Penyakit Kusta

Permasalahan penyakit kusta ini bila dikaji secara mendalam merupakan permasalahan yang sangat kompleks dan merupakan permasalahan kemanusiaan seutuhnya. Masalah yang dihadapi pada penderita bukan hanya dari medis saja tetapi juga adanya masalah psikososial sebagai akibat penyakitnya. Dalam keadaan ini warga masyarakat berupaya menghindari penderita. Sebagai akibat dari masalah-masalah tersebut akan mempunyai efek atau pengaruh terhadap kehidupan bangsa dan negara, karena masalah-masalah tersebut dapat mengakibatkan penderita kusta menjadi tuna sosial, tuna wisma, tuna karya dan ada kemungkinan mengarah untuk melakukan kejahatan atau gangguan di lingkungan masyarakat. Continue reading