Search Results for: faktor resiko fraktur

Faktor Resiko Penyakit Stroke

Faktor Resiko Penyakit StrokeUsia merupakan faktor risiko stroke, semakin tua usia maka risiko terkena strokenya pun semakin tinggi. Namun, sekarang kaum usia produktif perlu waspada terhadap ancaman stroke. Pada usia produktif, stroke dapat menyerang terutama pada mereka yang gemar mengkonsumsi makanan berlemak dan narkoba (walau belum memiliki angka yang pasti).

Sebagian faktor resiko dapat dikendalikan atau dihilangkan sama sekali baik dengan cara medis, misalkan meminum obat tertentu, atau dengan cara nonmedis, misalnya perubahan gaya hidup. Namun, terdapat sejumlah faktor resiko yang tidak dapat diubah (dimodifikasi), seperti penuaan, genetis, dan lain-lain. Continue reading

Fraktur 1/3 Proksimal Humerus

a. Definisi Fraktur Humerus
Diskontinuitas yang terjadi pada diafisis shaft tulang humerus karena rudapaksa / trauma
Klasifikasi fraktur humerus
1. Fraktur proksimal humerus
- One part fractures (minimally displaced)
- Two part fractures
• Fraktur tuberositas minor
• Fraktur tuberositas mayor Continue reading

Pembagian Cedera Olahraga dan Faktor Resiko

Pembagian Cedera Olahraga dan Faktor ResikoSecara garis besar, cidera olahraga dapat dibagi menjadi 3, yaitu :

- Cidera akibat faktor ekstrinsik (pengaruh dari luar)

- Cidera akibat faktor intrinsik (pengaruh dari dalam)

- Cidera akibat overuse/overstretch.

Berdasarkan kejadiannya, cidera olahraga dapat dikategorikan menjadi 2, yaitu :

- Traumatik injury = cidera olahraga yg disebabkan oleh trauma

- Repetitive strain/sprain = tekanan/kelelahan/trauma ke-cil yang berulang-ulang.

FAKTOR-FAKTOR RESIKO CIDERA

1. Faktor atlet

- Umur

- Karakteristik atlet

- Pengalaman

- Level training/latihan

- Teknik

- Waktu pemanasan yang tidak cukup

- Kompetisi & program latihan yang terlalu berat

- Problem kesehatan

- Keseimbangan dan diet nu-trisi

- Kondisi umum

2. Peralatan & fasilitas olahraga/latihan

- Peralatan olahraga/latihan

- Pelindung/pengaman

- Fasilitas Olahraga

- Penerangan

- Kondisi cuaca

3. Karakteristik olahraga

Pengertian Distribusi Epidemiologi

A. PENGERTIAN EPIDEMIOLOGI
1. Pengertian Epidemiologi Menurut Asal Kata
Jika ditinjau dari asal kata Epidemiologi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari 3 kata dasar yaitu EPI yang berarti pada atau tentang, demos yang berati penduduk dan kata terakhir adalalah logos yang berarti ilmu pengetahuan. Jadi epidemilogi adalah ilmu yang mempelajari tentang penduduk.
Sedangkan dalam pengertian modern pada saat ini EPIDEMIOLOGI adalah :
“Ilmu yang mempelajari tentang Frekuensi dan Distribusi (Penyebaran) serta Determinat masalah kesehatan pada sekelompok orang/masyarakat serta Determinannya (Faktor – factor yang Mempengaruhinya). Continue reading

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Status Gizi

Pengertian Status Gizi

Status gizi adalah ukuran keberhasilan dalam  pemenuhan nutrisi untuk anak yang diindikasikan oleh berat badan dan tinggi badan anak. Status gizi juga didefinisikan sebagai status kesehatan yang dihasilkan oleh keseimbangan antara kebutuhan dan masukan nutrien. Penelitian status gizi merupakan pengukuran yang didasarkan pada data antropometri serta biokimia dan riwayat diit (Beck, 2000: 1). Continue reading

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Konseling

a. Faktor Individual

Orientasi cultural (keterikatan budaya) merupakan factor individual yang dibawa seseorang dalam melakukan interaksi. Orientasi ini merupakan gabungan dari :

1) Faktor Fisik

Kepekaan panca indera pasien yang diberi konseling akan sangat mempengaruhi kemampuan dalam menangkap informasi yang disampaikan konselor.

2) Sudut Pandang

Nilai-nilai yang diyakini oleh pasien sebagai hasil olah pikirannya terhadap budaya dan pendidikan akan mempengaruhi pemahamannya tentang materi yang dikonselingkan.

3) Kondisi Sosial

Status sosial dan keadaan disekitar pasien akan memberikan pengaruh dalam memahami materi.

4) Bahasa

Kesamaan bahasa yang digunakan dalam proses konseling juga akan mempengaruhi pemahaman pasien.

b. Faktor-faktor yang berkaitan dengan interaksi

Tujuan dan harapan terhadap komunikasi, sikap terhadap interaksi, pembawaan diri seseorang terhadap orang lain (seperti kehangatan, perhatian, dukungan) serta sejarah hubungan antara konselor dan asien akan mempengaruhi kesuksesan proses konseling.

c. Faktor Situasional

Percakapan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, situasi percakapan kesehatan antara bidan dan klien akan berbeda dengan situasi percakapan antara polisi dengan pelanggar lalu lintas.

d. Kompetensi dalam melakukan percakapan

Agar efektif, suatu interaksi harus menunjukkan perilaku kompeten dari kedua pihak. Keadaan yang dapat menyebabkan putusnya komunikasi adalah :

1) Kegagalan menyampaikan informasi penting.

2) Perpindahan topik bicara yang tidak lancar.

3) Salah pengertian.

Faktor Terjadinya Cedera Olahraga

Cedera OlahragaTidak dapat dipungkiri lagi akan besarnya manfaat latihan fisik dan olahraga, terutama  yang dilakukan secara rutin dan teratur,  dengan tingkat kesehatan badan kita. Sungguh  amat menggembirakan bahwa partisipasi masyarakat yang makin meningkat dalam  melaksanakan kegiatan latihan fisik dan olah raga. Namun disamping manfaat yang besar  dari olahraga terhadap kesehatan tubuh, harus selalu diwaspadai bahwa setiap kegiatan  olahraga apapun  juga mengandung resiko terjadinya Cedera Olah Raga ( COR ),  terutama apabila kegiatan olahraga ini dilakukan tanpa persiapan dan pelaksanaan yang  baik dan benar. COR yang paling sering terjadi adalah cedera yang mengenai jaringan  lunak terutama otot, tendon dan ligamen. Apabila cedera ini tidak ditangani dengan baik  maka dalam jangka panjang  dapat menurunkan performance si atlit.

Secara garis besar ada dua faktor resiko besar  yang melatarbelakangi terjadinya COR,

yaitu :

1.  Faktor Intrinsik :        

a. Usia, Jenis kelamin, Berat Badan dan komposisi tubuh

b. Keadaan otot ( kekuatan setiap otot, keseimbangan antar otot,    fleksibilitas dan endurance otot )

c. Fleksibilitas sendi ( terlalu fleksibel atau kurang fleksibel ) Continue reading

Metode Pengukuran Sendi (ROM)

Metode pengukuran sendi (ROM)Atas dasar keputusan bersama pada akademi dari pembedahan ortepedi di amerika, maka memperoleh suatu keputusan mengenai cara pengukuran sendi. Pada tahun 1961 cara peguluran sendi tersebut telah di modernisasi serta mendapatkan perubahan-perubahan oleh ahli bedah di Amerika, Selandia Baru, Australia, Canada dan Inggris. Sehingga pada tahun 1962 diterbitkan suatu buku pedoman cara pengukuran sendi yang banyak digunakan sampai saat ini. Continue reading

Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Penderita Osteoporosis

Osteoporosis

Osteoporosis Penatalaksanaan penderita osteoporosis terdiri atas:

1. Penyuluhan Penderita

Pada penderita osteoporosis, faktor resiko di luar tulang harus diperhatikan program latihan kebugaran tubuh (fitness), melompat, dan lari tidak boleh dilakukan karena resiko besar patah tulang. Berdirilah tegak kalau jalan, bekerja, menyetrika, menyapu (gunakan sapu dengan tangkai panjang) dan masak. Duduklah tegak kalau bekerja, masak, sikat gigi dan mencuci. Tidak boleh mengepel lantai dengan berlutut dan membungkuk karena resiko patah tulang pinggang cukup besar.

Untuk memperkuat dan mempertahankan kekuatan neuromuskuler memerlukan latihan tiap hari atau paling sedikit 3 hari sekali. Berdansa santai dan jalan kaki cepat 20 — 30 menit sehari adalah sehat dan aman untuk penderita osteoporosis.

Penderita perlu menyadari besarnya resiko jatuh. Setelah makan atau tidur, duduk sebentar dulu sebelum berdiri dan pada permulaan berdiri berpegangan dahulu pada tepi meja makan. Mereka yang sering kehilangan keseimbangan bahan perlu memakai tongkat/walker.

Jatuh

Kemungkinan jatuhnya pada lansia terkait dengan faktor resiko:

1. Mobilitas sudah berkurang

2. Berjalan dengan tongkat atau walker

3. Gangguan fungsi kognitif (cognitive inpairment)

4. Gangguan penglihatan (visual inpairment)

5. Hipotensi postural

6. Pusing-pusing berat (vertigo)

7. Ketidakmampuan fisik yang berat

8. Pernah mengalami stroke

9. Pernah jatuh

10. Pemakaian obat yang dapat menekan fungs saraf pusat

11. Menderita radang sendi (arthritis)

12. Pendengaran yang berkurang

13. Kelainan jiwa (psikiatri)

14. Kelainan neuromuscular

15. Kurang gizi

16. Penyakit-penyakit jantung

17. Minum alkohol

18. Keadaan rumah yang tidak aman (banyak tangga, drempel dan licin)

Supaya tidak jatuh diperlukan tindakan keamanan yang memadai baik di dalam maupun di luar rumah.

Keamanan di dalam rumah

Keamanan Lantai

• Semua karpet harus lengket pada lantai

• Lantai jangan digosok lilin atau dikilapkan dengan minyak

• Jangan berjalan di lantai yang basah

• Bersihkan semua kawat, tali temali, mainan anak dan barang lain dari lantai

• Jangan injak kucing atau anjing yang sedang tidur di lantai

Keamanan tangga

• Usahakan tidak tinggal pada lantai atas rumah

• Pegangan dan undakan tangga harus kencang dan tidak licin

• Karpet di tangga harus dilengketkan pada tangga

Keamanan kamar mandi

• Sekitar tembok kamar mandi dipasang pegangan

• Lantai kamar mandi harus anti slip

Keamanan berupa penerangan

• Pintu, ruangan dan tangga harus cukup penerangan

• Pasang lampu kecil (lampu malam) di kamar tidur dan kamar mandi

• Siapkan satu senter di samping tempat tidur untuk dipakai kalau listrik padam

Keamanan Dapur

• Pasanglah keset anti slip di depan wastafel dan kompor

Keamanan di luar rumah

Keamanan dalam mobil

• Pasanglah seat belt bila naik mobil

• Pasanglah pengganjal pinggang

• Pasanglah pengganjal kepala

Keamanan sepatu dan sandal

• Pakailah sepatu yang kuat, bertumit rendah, dengan dasar yang lunak

• Hindarilah jalan yang basah atau berlumpur

• Kalau perlu pakailah tongkat, walker atau minta tuntunan orang lain

Keamanan obat

• Semua obat termasuk minuman keras yang menyebabkan gangguan kesadaran (mabuk), sempoyongan, kepala enteng, kehilangan keseimbangan dan disorientasi tidak boleh di minum

Keamanan pribadi

• Memeriksa mata secara teratur dan pakai kacamata yang cocok

• Latihan yang teratur untuk memperkuat otot supaya keseimbangan dan koordinasi tubuh tetap terjaga

2. Pencegahan

Pencegahan primer

Pencegahan primer bertujuan untuk membangun kepadatan tulang dan neuromuskler yang maksimal. Ini dimulai dari balita, remaja dewasa umur pertengahan sampai umur 36 tahun.

Beberapa hal penting pada pencegahan primer:

• Pemberian kalsium yang cukup (1200 mg) sehari selama masa remaja

• Kegiatan fisik yang cukup dalam keadaan berdiri. Minimal jalan kaki 30 menit tiap hari.

• Mengurangi faktor resiko rapuh tulang seperti merokok, alkohol dan imobilisasi.

• Menambah kalsium dalam diet sebanyak 800 mg sehari pada manula

• Untuk wanita resiko tinggi penambahan estrogen, difosfonat atau kalsitonin harus dipertimbangkan.

Pencegahan sekunder

Pencegahan sekunder yaitu pemberian hormon-hormon estrogen progesterone. Hormon-hormon ini dilaporkan menghentikan setidak-tidaknya mengurangi kehilangan tulang selama menopause.

Pencegahan tersier

Pencegahan tersier dilakukan bila penderita mengalami patah tulang pada osteoporosis atau pada orang yang masuk lanjut usia (lansia).

3. Pemberian Gizi Optimal

Pencegahan primer bertujuan agar kepadatan tulang yang maksimal tercapai pada umur 36 tahun. Pencegahan sekunder bertujuan menghambat kehilangan kepada tulang waktu menopause dengan pemberian hormon pengganti. Selanjutnya kehilangan kepadatan tulang pada lansia dihambat dengan pencegahan tersier. Pencegahan primer, sekunder dan tersier dilaksanakan melalui pengaturan gizi yang optimal, dibarengi dengan aktivitas fisik dan olahraga yang sesuai dengan umur dan stadium kerapuhan tulang penderita.

Kebutuhan kalsium sehari—hari untuk mencegah osteoporosis:

• Sebelum menopause kebutuhan sehari 800 — 1000 mg Kalsium

• Selama menopause kebutuhan sehari 1000— 1200 mg Kalsium

• Selama menopause kebutuhan sehari 1200 — 1500 mg kalsium

UPAYA REHABILITASI MEDIK

Prinsip terapi fisik dan rehabilifasi dapat bermanfaat dalam penatalaksanaan penderita oteoporosis

• Latihan/exercise

Latihan dapat mengurangi hilangnya massa tulang dan menambah massa tulang dengan cara meningkatkan pembentukan tulang yang lebih besar dari pada resorbsi tulang.

PENGOBATAN PADA PATAH TULANG

Pada orang tua dengan keluhan nyeri yang hebat pada lokalisasi tertentu seperti pada punggung, pinggul, pergelangan tangan, disertai adanya riwayat jatuh, maka perlu segera memeriksakan diri ke dokter untuk mengetahui adanya patah tulang. Apabila pada pemeriksaan selanjutnya didapatkan adanya patah tulang, maka harus dipertimbangkan tindakan-tindakan sebagai berikut:

1. Menghilangkan nyeri disertai pemberian obat-obatan untuk membangun kekuatan tulang, yaitu kalsium dan obat-obat osteoporosis

2. Tindakan pemasangan gips pada patah tulang pergelangan tangan. Tindakan menarik tulang pada panggul dan dilanjutkan dengan tindakan operasi pada panggul dengan mengganti kepala panggul pada patah leher paha.

Faktor Timbulnya Minat

Faktor timbulnya minat, menurut Crow and Crow (1982) dalam Purwanto (2004), terdiri dari tiga faktor :

1. Faktor Dorongan Dari Dalam
Yaitu rasa ingin tahu atau dorongan untuk menghasilkan sesuatu yang baru dan berbeda. Dorongan ini dapat membuat seseorang berminat untuk mempelajari ilmu mekanik, melakukan penelitian ilmiah, atau aktivitas lain yang menantang.

2. Faktor Motif Sosial
Yakni minat dalam upaya mengembangkan diri dari dan dalam ilmu pengetahuan, yang mungkin diilhami oleh hasrat unutk mendapatkan kemampuan dalam bekerja, atau adanya hasrat untuk memperolah penghargaan dari keluarga atau teman.

3. Faktor Emosional
Yakni minat yang berkaitan dengan perasaan dan emosi. Misalnya, keberhasilan akan menimbulkan perasaan puas dan meningkatkan minat, sedangkan kegagalan dapat menghilangkan minat seseorang.