Search Results for: gambar alat pemasangan akdr

Alat Kontrasepsi Dalam Rahim

A. Pengertian AKDR

AKDR adalah alat kontrasepsi yang dipasang di dalam rahim (Hartanto, 2004). Di mana AKDR terdiri dari bermacam-macam bentuk, terdiri dari plastik (polietiline), ada yang di lilit tembaga (Cu), ada pula yang tidak. Tetapi ada pula yang di lilit tembaga bercampur perak (Ag). Selain itu ada pula yang batangnya berisi hormon progesterone. Continue reading

Penyesuaian Alat AKS

Alat kegiatan hidup sehari-hari adalah alat yang sering digunakan orang setiap hari menurut kebutuhannya

TUJUANNYA

Supaya penderita dapat melakukan kegiatan hidup sehari-hari

INDIKASI-INDIKASI

1. Penderita tidak dapat mulai melakukan KHS kalau tanpa alat bantu

2. penderita tidak dapat melanjutkan ataupun menyelesaikan kegiatannya kalau tanpa sesuatu alat bantu

3. dengan  alat bantu penderita boleh jadi melakukan kegiatan dalam jangka waktu yang lebh normal atau jangka waktu yang rata-rata diperlukan untuk kegiatan itu.

4 dengan  suatu alat bantu boleh jadi penderita melakukan kegiatan secara lebih aman. Continue reading

Efek Samping AKDR

A. Spoting

Keluarnya bercak-bercak darah diantara siklus menstruasi, spoting akan muncul jika capek dan stress. Perempuan yang aktif sering mengalami spotting jika menggunakan kontrasepsi AKDR (Republika, 2007).

B. Perubahan Siklus Menstruasi

Setelah pemasangan AKDR siklus menstruasi menjadi lebih pendek. Siklus menstruasi yang muncul lebih cepat dari siklus normal rata-rata yaitu 28 hari dengan lama haid 3 – 7 hari, biasanya siklus haid berubah menjadi 21 hari. Continue reading

Metode Pengukuran Sendi (ROM)

Metode pengukuran sendi (ROM)Atas dasar keputusan bersama pada akademi dari pembedahan ortepedi di amerika, maka memperoleh suatu keputusan mengenai cara pengukuran sendi. Pada tahun 1961 cara peguluran sendi tersebut telah di modernisasi serta mendapatkan perubahan-perubahan oleh ahli bedah di Amerika, Selandia Baru, Australia, Canada dan Inggris. Sehingga pada tahun 1962 diterbitkan suatu buku pedoman cara pengukuran sendi yang banyak digunakan sampai saat ini. Continue reading

Tulang belakang lumbal statis di bidang frontal

Dalam kasus ‘yang ideal’ panggul dan tulang belakang terletak simetris dalam garis lurus di pemandangan AP. Para tonjolan oksipital eksternal, proses spinosus, simfisis pubis, dan berbaring di garis tengah tulang ekor. Seperti kolom tulang belakang pengecualian dalam kehidupan nyata; orang hanya tidak menempatkan berat badan mereka secara simetris pada kedua kaki, tetapi berdiri dalam posisi santai di mana beban itu diambil terutama pada satu kaki. Selama berjalan, panggul terus ayunan dari satu sisi ke sisi lain. Hasilnya adalah terciptanya konstan pesawat miring. Perhatian utama dalam menilai ini adalah untuk menemukan bagaimana kolom tulang belakang bereaksi terhadap arah miring di bidang frontal. Continue reading

Prinsip-prinsip Pemeriksaan Gangguan Alat Gerak

Prinsip-prinsip Pemeriksaan Gangguan Alat GerakManual terapi secara khusus berkaitan erat dengan diagnosis dan terapi gangguan-gangguan musculoskeletal atau disfungsi somatic. Disfungsi somatic dapat terjadi dengan berbagai cara dan mempunyai karateristik sebagai berikut:

Gejala: misalnya  nyeri, kelemahan,  kekakuan, nyeri tekan.

Perubahan jaringan lunak: misalnya ketegangan, elastisitas, bentuk atau tekstur.

Perubahan fungsi: kekuatan, daya tahan, koordinasi dan  mobilitas (sendi dan jaringan lunak).

Gangguan musculoskeletal sering menampakkan  gabungan karateristik diatas antara satu dengan yang lain sangat erat kaitannya. Fisioterapis (manual terapis?) harus menentukan problem utamanya sehingga dapat memberikan terapi yang tepat. Continue reading

Cardiorespiratory Endurance

Cardiorespiratory Endurance

Cardiorespiratory EnduranceCardiorespiratory endurance

Tes VO2max

a. Run Test

1)      Cooper Test

Tes ini bertujuan untuk mengukur kemampuan VO2max seseorang dan memonitor perkembangannya. Dalam tes ini, alat dan fasilitas yang digunakan adalah :

  • Area lapangan yang berjarak 400 meter – setiap 100 meter diberi tanda
  • Stopwatch dan meteran
  • Seorang asisten/pembantu

Prosedur pelaksanaannya adalah :

  • Tentukan titik star dan titik finish
  • Suruh orang coba untuk berlari/berjalan dari titik star sampai titik akhir jarak lari, kemudian kembali lagi dan seterusnya sampai mencapai waktu 12 menit. Jika waktu telah mencapai 12 menit, perintahkan orang coba untuk berhenti berlari/berjalan.
  • Seorang asisten mencatat jumlah putaran yang dilaluinya, kemudian menghitung total jarak yang ditempuh dengan cara menjumlahkan putaran yang dilaluinya.
  • Hasil yang dicapai, dicocokkan dengan Tabel VO2max berdasarkan jarak yang ditempuh.

Hasil VO2max : untuk menilai VO2max-nya dapat dihitung dengan menggunakan rumus : ( jarak yang ditempuh dalam meter – 504,9) / 44,73. Hasil dari rumus tersebut dicocokkan dengan tabel VO2max.

Tabel VO2max. menurut Cooper

Usia

Sgt Baik

Baik

Sedang

Kurang

Sgt Krg.

Laki2  13-14

>2700m

2400-2700m

2200-2399m

2100-2199m

<2100m

Pr 13-14

>2000m

1900-2000m

1600-1899m

1500-1599m

<1500m

Laki2 15-16

>2800m

2500-2800m

2300-2499m

2200-2299m

<2200m

Pr. 15-16

>2100m

2000-2100m

1700-1999m

1600-1699m

<1600m

Laki2 17-20

>3000m

2700-3000m

2500-2699m

2300-2499m

<2300m

Pr. 17-20

>2300m

2100-2300m

1800-2099m

1700-1799m

<1700m

Laki2 20-29

>2800m

2400-2800m

2200-2399m

1600-2199m

<1600m

Pr. 20-29

>2700m

2200-2700m

1800-2199m

1500-1799m

<1500m

Laki2 30-39

>2700m

2300-2700m

1900-2299m

1500-1899m

<1500m

Pr.  30-39

>2500m

2000-2500m

1700-1999m

1400-1699m

<1400m

Laki2 40-49

>2500m

2100-2500m

1700-2099m

1400-1699m

<1400m

Pr. 40-49

>2300m

1900-2300m

1500-1899m

1200-1499m

<1200m

Laki2 >50

>2400m

2000-2400m

1600-1999m

1300-1599m

<1300m

Pr.  >50

>2200m

1700-2200m

1400-1699m

1100-1399m

<1100m

2)      Balke Test

Tes ini bertujuan untuk mengukur kemampuan VO2max seseorang dan memonitor perkembangannya. Dalam tes ini, alat dan fasilitas yang digunakan adalah :

  • Area lapangan yang berjarak 400 meter – setiap 100 meter diberi tanda
  • Stopwatch dan meteran
  • Seorang asisten/pembantu

Prosedur Pelaksanaannya adalah :

  • Tentukan titik star dan titik finish.
  • Suruh orang coba untuk berlari/berjalan dari titik star sampai titik akhir jarak lari, kemudian kembali lagi dan seterusnya sampai mencapai waktu 15 menit. Jika waktu telah mencapai 15 menit, perintahkan orang coba untuk berhenti berlari/berjalan.
  • Seorang asisten mencatat jumlah putaran yang dilaluinya, kemudian menghitung total jarak yang ditempuh dengan cara menjumlahkan putaran yang dilaluinya.
  • Hasil yang dicapai, dicocokkan dengan Tabel VO2max.

Hasil VO2max : untuk menilai VO2max-nya dapat dihitung dengan menggunakan rumus : [ { ( jarak yang ditempuh dalam meter : 15) – 133 } x 0,172 ] + 33,3. Hasil dari rumus tersebut dicocokkan dengan tabel VO2max.

Tabel VO2max (mlO2/kg/min) untuk Perempuan

Usia

Sgt Kurang

Kurang

Sedang

Baik

Sgt Baik

Sempurna

13-19

<25.0

25.0 – 30.9

31.0 – 34.9

35.0 – 38.9

39.0 – 41.9

>41.9

20-29

<23.6

23.6 – 28.9

29.0 – 32.9

33.0 – 36.9

37.0 – 41.0

>41.0

30-39

<22.8

22.8 – 26.9

27.0 – 31.4

31.5 – 35.6

35.7 – 40.0

>40.0

40-49

<21.0

21.0 – 24.4

24.5 – 28.9

29.0 – 32.8

32.9 – 36.9

>36.9

50-59

<20.2

20.2 – 22.7

22.8 – 26.9

27.0 – 31.4

31.5 – 35.7

>35.7

60+

<17.5

17.5 – 20.1

20.2 – 24.4

24.5 – 30.2

30.3 – 31.4

>31.4

Tabel VO2max (mlO2/kg/min) untuk Laki-Laki

Usia

Sgt Kurang

Kurang

Sedang

Baik

Sgt Baik

Sempurna

13-19

<35.0

35.0 – 38.3

38.4 – 45.1

45.2 – 50.9

51.0 – 55.9

>55.9

20-29

<33.0

33.0 – 36.4

36.5 – 42.4

42.5 – 46.4

46.5 – 52.4

>52.4

30-39

<31.5

31.5 – 35.4

35.5 – 40.9

41.0 – 44.9

45.0 – 49.4

>49.4

40-49

<30.2

30.2 – 33.5

33.6 – 38.9

39.0 – 43.7

43.8 – 48.0

>48.0

50-59

<26.1

26.1 – 30.9

31.0 – 35.7

35.8 – 40.9

41.0 – 45.3

>45.3

60+

<20.5

20.5 – 26.0

26.1 – 32.2

32.3 – 36.4

36.5 – 44.2

>44.2

  1. b.      Rockport Walking Test

Tes ini bertujuan untuk mengukur kemampuan VO2max seseorang dan memonitor perkembangannya. Dalam tes ini, alat dan fasilitas yang digunakan adalah :

  • Area lapangan.
  • Stopwatch.
  • Seorang asisten/pembantu.

Prosedur Pelaksanaannya adalah

  • Tentukan titik star dan titik finish.
  • Catat berat badan orang coba dan jenis kelaminnya.
  • Suruh orang coba untuk berjalan sampai mencapai jarak 1 mil (1609 meter) secepat mungkin.
  • Catat waktunya jika telah mencapai jarak 1 mil, kemudian segera hitung denyut nadinya (bpm).
  • Setelah itu, masukkan kedalam rumus VO2max untuk menghitung nilai VO2max-nya.

Hasil VO2max : Untuk menilai VO2max-nya, masukkan data jenis kelamin (sex), usia, berat badan, denyut nadi pada akhir tes, dan waktu yang ditempuh. Kemudian gunakan rumus VO2max sebagai berikut :

VO2max = 132,853 – (0,0769 x berat badan) – (0,3877 x usia) + (6,315 x sex) – (3,2649 x waktu) – (0,1565 x HR).

Keterangan :

  • berat badan dalam pounds (lbs)
  • usia dalam tahun
  • sex, dimana laki-laki = 1 & perempuan = 0
  • waktu dalam menit
  • HR (denyut nadi) dalam beats/menit (bpm)

  1. c.       Bruce Treadmill Test dan Max.Bicycle Test

1)      Bruce Treadmill Test

Tes ini bertujuan untuk mengukur kemampuan VO2max seseorang dan memonitor perkembangannya. Dalam tes ini, alat dan fasilitas yang digunakan adalah :

  • Treadmill Marathon
  • Seorang asisten/pembantu

Prosedur Pelaksanaannya adalah :

  • Hidupkan mesin treadmill marathon
  • Suruh orang coba untuk berdiri diatas treadmill marathon dan siap untuk berlari diatas treadmill, kemudian atur tombol kecepatan treadmill secara bertahap dari kecepatan rendah sampai maksimal.
  • Setelah mencapai kecepatan maksimal, orang coba tetap berlari sampai terjadi kelelahan.
  • Setelah terjadi kelelahan, turunkan kecepatan treadmill secara bertahap dan perlahan kemudian catat waktu yang telah diperoleh.
  • Hasil waktu yang dicapai dimasukkan kedalam rumus.

Hasil VO2max : untuk menilai VO2max, dapat dihitung dengan menggunakan rumus : 14,8 – 1,379 (waktu) + 0,451 (waktu2) – 0,012 (waktu3)

2)      Storer-Davis Maximal Bicycle Test

Tes ini bertujuan untuk mengukur kemampuan VO2max seseorang dan memonitor perkembangannya. Dalam tes ini, alat dan fasilitas yang digunakan adalah :

  • Static Bicycle Ergometer
  • Seorang asisten/pembantu

Prosedur Pelaksanaannya adalah :

  • Atur beban kerja pada 0 watt, kemudian orang coba disuruh bersepeda pada kecepatan 60 rpm selama 4 menit sebagai “warm-up”
  • Kemudian tingkatkan beban kerja sampai 15 watt dan setiap 1 menit ditingkatkan 15 watt lagi, dan pertahankan kecepatan sekitar 60 rpm.
  • Jika kecepatan pedal telah menurun berarti telah terjadi kelelahan, dan tes dihentikan.
  • Catat beban kerja terakhir yang telah dicapai, kemudian masukkan kedalam rumus untuk menilai VO2max.

Hasil VO2max : untuk menilai VO2max, dapat dihitung dengan menggunakan rumus : (10,51 x watt) + (6,35 x kg) – (10,49 x usia) + 519.3 à untuk laki2

(9,39 x watt) + (7,7 x kg) – (5,88 x usia) + 136,7 à untuk wanita.

  1. 2.      Tes Denyut Nadi
    1. a.      Step test yang sederhana

Tes ini bertujuan untuk mengukur cardiovaskular endurance seseorang.  Dalam tes ini, alat dan fasilitas yang digunakan adalah :

  • Sebuah bangku/tempat duduk (bench) yang tingginya sekitar 12 inchi (sama ukurannya dengan anak tangga di rumah)
  • Seorang asisten/pembantu

Prosedur Pelaksanaannya adalah :

  • Orang coba melangkah keatas bench dengan satu kaki kemudian diikuti kaki lainnya.
  • Kemudian, melangkah kebawah dengan satu kaki lalu diikuti kaki lainnya.
  • Pertahankan siklus langkah ; untuk mudahnya mempertahankan siklus langkah selalu mengatakan aba-aba “naik, naik, turun, turun” sesuai dengan langkah kaki.
  • Pertahankan siklus langkah selama 3 menit, kemudian pada akhir 3 menit orang coba berhenti melangkah dan tetap berdiri ; segera periksa denyut nadinya dalam 1 menit.
  • Hasil denyut nadinya dicocokkan dengan tabel 3-minute Step Test

3 Minute Step Test (Men)

Age

18-25

26-35

36-45

46-55

56-65

65+

Excellent

<79

<81

<83

<87

<86

<88

Good

79-89

81-89

83-96

87-97

86-97

88-96

Above Average

90-99

90-99

97-103

98-105

98-103

97-103

Average

100-105

100-107

104-112

106-116

104-112

104-113

Below Average

106-116

108-117

113-119

117-122

113-120

114-120

Poor

117-128

118-128

120-130

123-132

121-129

121-130

Very Poor

>128

>128

>130

>132

>129

>130

3 Minute Step Test (Women)

Age

18-25

26-35

36-45

46-55

56-65

65+

Excellent

<85

<88

<90

<94

<95

<90

Good

85-98

88-99

90-102

94-104

95-104

90-102

Above Average

99-108

100-111

103-110

105-115

105-112

103-115

Average

109-117

112-119

111-118

116-120

113-118

116-122

Below Average

118-126

120-126

119-128

121-129

119-128

123-128

Poor

127-140

127-138

129-140

130-135

129-139

129-134

Very Poor

>140

>138

>140

>135

>139

>134

  1. b.      Harvard Step test

Tes ini bertujuan untuk mengukur cardiovaskular endurance seseorang.  Dalam tes ini, alat dan fasilitas yang digunakan adalah :

  • Sebuah bangku yang tingginya 45 cm.
  • Stopwatch
  • Seorang asisten/pembantu

Prosedur Pelaksanaannya adalah :

  • Suruh orang coba untuk melangkah keatas bangku dan melangkah turun dari bangku secara berirama dengan mempertahankan kecepatan 30 langkah per menit selama 5 menit.
  • Jika orang coba tidak dapat mempertahankan kecepatan langkah maka tes dihentikan (terjadi kelelahan).
  • Satu menit setelah tes berakhir, hitunglah denyut nadinya – sebagai Pulse I.
  • Dua menit setelah tes, hitunglah denyut nadinya – sebagai Pulse II.
  • Tiga menit setelah tes, hitunglah denyut nadinya – sebagai Pulse III.

Hasil : untuk menilai cardiovaskular endurancenya, masukkan data Pulse I, II dan III kedalam rumus : {(Pulse I + Pulse II + Pulse III) x 2} / (5 x 60 detik x 150). Hasil perhitungan dicocokkan dengan tabel Harvard.

Tabel Harvard Tes

J.Kel.

Sgt Baik

Baik

Sedang

Kurang

Sangat Kurang

Laki-laki

>90

80-90

65-79

55-64

<55

Perempuan

>86

76-86

61-75

50-60

<50

Dasar-Dasar Penerapan Latihan OT

Dasar-Dasar Penerapan Latihan  OTc. mengadakan evakuasi fisik

  1. Pengukuran gerak sendi
  2. Adanya kesakitan dan pembengkakan
  3. Tes AKS atau evaluasi AKS
  4. Tes dari fungsi raba/rabaan
  5. Tes otot
  6. Tes dari reaksi degenerasi
  7. Menentukan kemampuan fisik
    1. Jenis kecacatan
    2. Kesimpulan program dari anak melalui tes
    3. Aktifitas lain yang diterima anak Continue reading

AFR Pada Amputasi Tangan

PENDAHULUAN

Pengertian

Amputasi merupakan tindakan operasi dengan jalan memotong anggota atau organ tubuh sebagian atau seluruhnya, yang pada umumnya dilakukan pada angota gerak. Yang dibahas di sini adalah amputasi pada tangan. Amputasi tangan merupakan tindakan operasi dengan jalan memotong anggota tubuh pada extremitas superior yang mana potongan dilakukan pada bagian wrist pemisahan antara telapak tangan dan regio anterbrachium.

Perubahan patologi

Perubahan patologi merupakan pendorong dilakukan amputasi. Ada beberapa indikasi antara lain:

- Akibat adanya trauma ulang seperti fraktur yang di ikuti jaringan nekrosis dan menimbulkan pembusukan.

- lnfeksi tulang

- Kanker / Tumor tulang

-  Gangurn sirkulasi darah seperti: Burge diseases dan gangrene

-  Genital Ampitatum atau perbaikan fungsi tubuh agar dapat berguna untuk ambulansi dan beraktifitas.

Gejala — gejala yang timbul sebelum dilakukan amputasi, dikaitkan dengan indikasi yang timbul atau faktor penyebab maka gejala yang timbul adalah:

• Nyeri

• Pembengkakan pada sekitar wrist

• Keterbatasan ROM pada elbow dan shoulder

• Nekrosis jaringan yang menimbulkan pembusukan

Setelah Amputasi dilakukan, timbul problem-problem atau terjadi komplikasi seperti:

• Ruftura kulit : Terjadi robekan pada kulit

• Haematoma : Pembengkakang hasil operasi karena penimbunan darah di ujung amputasi

• Neuroma : Perasaan nyeri karena ada saraf, arteri yang terpotong

• Bad stump (ujung stump yang jelek)

• Phantom pain:  Masih adanya rasa nyeri pada angota badan yang sebenarnya sudah tidak ada

• Phantom sensation : Masih merasa kalau masih ada rasa gatal tapi kulitnya sebenarnya sudah tidak ada

• Osteomylisis : Infeksi yang terjadi pada tulang yang disebabkan oleh kuman

• Stiff Joint (Elbow dan Shoulder) Terjadinya kekuatan pada sendi

• Kontraktur Otot : Pengenduran otot

Problem/hambatan aktifitas sehari-hari

Adanya amputasi atau hilangnya sebagian organ tubuh yaitu tangan akan mempengaruhi aktifitas kegiatan sehari-hari, apalagi jika tangan yang dominan. Aktifitas yang terhambat akibat amputasi tangan yaitu makan dan minum, berpakaian, membersihkan dan mengatur diri, kegiatan kamar mandi seperti buang air besar, kecil dan mandi.

Jika setelah diamputasi tidak dilakukan kegiatan maka akan terjadi kekakuan karena pasien ragu untuk menggunakan tangan bekas amputasi.

Pemeriksaan fisik

Agar aktifitas kegiatan sehari-hari tidak terhambat maka perlu adanya latihan. Namun yang perlu diketahui sebelum latihan harus ada pemeriksaan fisik berupa inspeksi, palpasi (ROM dan MT)

Auskultasinya. Inspeksi yang dilakukan yaitu melihat atau mengetahui apakah ada kelemahan-kelemahan yang timbul setelah dilakukan amputasi. lnspeksi yang dilakukan antara lain:

- Gerakan-gerakan apa saja yang biasa dilakukan oleh tangan yang diamputasi

-  Perubahan postur

-  Oedema pada puntung amputasi

Selain di inspeksi harus diadakan MT dan pengukuran ROM. MT yang dilakukan yaitu pada group Musculus Nexor Elbow, Nexor Shoulder, Extensor Elbow dan Shoulder, Pronator dan Supinator, Abduktor dan Abduktor Shoulder serta rotator medial dan lateral shoulder.

Pengukuran ROM dilakukan dengan menggunakan Genio Meter. Tujuan pengukuran ROM adalah untuk mengetahui seberapa besar jarak gerak sendi pada Shoulder Joint dan Elbow Joint. Pengukuran ROM dilakukan pada semua gerakan pada kedua sendi (shoulder & elbow).

Pada kondisi ini tidak dapat dilakukan Auskultasi karena Auskultasi merupakan pemeriksaan pendengaran.

Tujuan AFR

Tujuan dilakukannya AFR yakni:

- Agar penderita dapat melakukan kegiatan hidup sehari-hari dengan tangannya atau dengan kata lain mencegah one hand edness’ (penggunaan satu tangan saja)

- Mencegah Suff Joint dan kontraktur khususnya pada elbow dan shoulder

- Mengajarkan proses untuk memakai protesa secara tepat dan benar

-  Mengurangi beban mental

- Agar pasien dapat melakukan kegiatan hidup sehari-hari dengan menggunakan alat Bantu atau palsu.

Aktifitas yang diberikan atau diprogramkan

Aktifitas yang diprogramkan harus sesuai dengan program dari AFR yang mana:

-  Perlu penyesuaian jenis amputasinya

-  Unsure penderitaan dan pekerjaan serta lokasi tempat tinggalnya

-  Jumlah tanggungan keluarga

- Alat Bantu yang digunakan sehari-hari / alat palsu

Pemilihan jenis AFR juga harus berdasarkan kondisi penderita yakni problem yang ada dan dialami dan dapat mengganggu kehidupan sehari-hari jenis aktifitas yang harus diberikan yaitu:

-  Dam-dam yang ditinggikan

- Permainan kartu untuk melatih gerakan memegang dan secara halus

-  Membersihkan sepeda.

Aktifitas fungsional seperti:

- Penggunaan berbagai macam kunci

- Membuka pintu

-  Memungut korek api

- Membuang air

- Menaruh sepatu

- Menimba air dari sumur

- Untuk pekerjaan yang harus dilakukan dengan skrup dan baut ,

- Mesin gergaji dengan potongan gergaji yang besar

Aktifitas yang diberikan juga hendaknya disesuaikan dengan profesi penderita.

Keamanan yang harus diperhatikan pada pasien

Keamanan yang harus diperhatikan pada pasien yang mengalami amputasi pada tangan yaitu:

- Pembalutan pada puntung amputasi

- Pengunaan pakaian khususnya kemeja, jas, dan juga baju hangat, yang mana harus dihindari kemeja yang sempit dan yang berlengan panjang, dan juga hindari baju yang harus disisipkan kedalam celana.

Evaluasi

Evaluasi dibagi dua yaitu sesaat dan berkala. Evaluasi sesaat yaitu pada saat dilakukan latihan sedangkan berkala yaitu setelah beberapa kali melakukan latihan.

Komplikasi yang timbul akibat amputasi tersebut dapat dipulihkan kembali dan juga pasien dapat melakukan aktifitas kegiatan sehari-hari dengan menggunakan bekas amputasi.

Pemberian alat bantu sesuai cacatnya

Bagian tubuh atau organ tubuh yang hilang atau diamputasi yaitu tangan dapat dibantu dengan tangan palsu. Tangan palsu ini bentuk seperti lengan bawah sampai tangan dan dipasang mulai dari elbow.

Selain tangan palsu biasa juga menggunakan karet yang diikat pada puntung tangan yang telah diamputasi yang mana alat Bantu ini dipake pada saat pasien akan melakukan aktifitas yaitu makan.

Pada pasien amputasi sering juga digunakan alat Bantu seperti MiteIIa yang mana digunakan setelah dilaksanakan amputasi atau baru diamputasi. Mitella ini digunakan untuk menggendong lengan yang diamputasi.

Saran — saran

Bagi pasien amputasi tangan, diminta untuk tidak memanjakan tangan bekas amputasi, sering melakukan latihan serta selalu menjaga kebersihan pada puntung amputasi.

Bagi keluarga pasien diharap untuk selalu membantu dan memotivasi pasien.

Penanganan Anak Tuna Daksa

Penanganan Anak Tuna Daksa

Penanganan Anak Tuna Daksa TUJUAN

1.  Mengetahui hubungan masalah ortopedi anak tuna daksa dengan kelainan fungsi.

2. Memahami prinsip penanganan ortopedi bagi anak tuna daksa dalam upaya pemulihan fungsi.

3. Memahami prinsip-prinsip rehabilitasi bagi anak tuna daksa dalam upaya pemulihan fungsi.

4. Memahami hubungan prinsip penanganan ortopedi dan rehabilitasi dengan kegiatan pendidikan anak tuna daksa.

LATAR BELAKANG

Telah dibahas keadaan ATD mulai dari tanda gerak tidak normal, perjalanan dan gejala penyakit sebagai penyebab timbulnya gangguan fungsi.  Gangguan fungsi tersebut diantaranya adalah gerak tidak normal. Gerak tidak normal sering timbul akibat fungsi saraf, otak, tepi, tulang, dan sendi serta otot.

Kelainan tulang, sendi, saraf, dan otot ini, merupakan bagian yang dibahas oleh bidang ortopedi. Adapun penyakit penyebab timbulnya kelainan fungsi dari segi ortopedi adalah penyakit yang sering menimbulkan gangguan fungsi pada anak tuna daksa. Maka pembahasan penyebab ATD ini hanya terbatas pada penyakit cerebral palsy, polioelitis, muskular distropi, dan kelainan utama berupa amputasi.

1.  Penyembuhan / pemulihan dari penderita sakit, cedera, cacat akan tergantung pada keadaannya dan penggunaan semua bantuan medis serta alat yang berguna untuk membantu jasmaninya.

2. Seorang penderita cacat harus dapat perhatian secara keseluruhan dan tidak terbatas pada bagian organ maupun anggota tubuh, tujuannya adalah mengintegrasikan seluruh fungsi ke arah pola yang dinamis efektif.

3. Pengobatan penyembuhan harus dimulai sedini mungkin untuk mencegah kelainan sebagai akibat dari imobilisasu yang terlalu lama dengan adanya kehilangan tonus, kelainan metabolik dan  gangguan fungsi biologis.

Keuntungan pelayanan unit rehabilitasi medis:

- Peningkatan pelayanan kesehatan

- Masa penyembuhan dan perawatan dipersingkat

- Mengurangi penderita yang dikirim ke pusat rehabilitasi.

Mengenal kelainan fungsi pada ATD akibat penyakit tersebut ditinjau dari segi ortopedi dan hubungannya dengan kepentingan pendidikan. ATD. Penyebab timbulnya gangguan fungsi ATD ditinjau dari segi ortopedi, gejala-gejaja spesifik kelainan fungsi ATD tersebut akhirnya dibahas pula prinsip dasar cara mengenal kelainan fungsi pada ATD.

Setelah mengetahui permasalahan ATD baik mengenai masalah gangguan fungsi yang ada kaitannya dengan faktor ortopedi maupun dengan kepentingan pendidikan ATD, maka yang akan dibahas berikutnya adalah upaya memperhatikan peran ortopedi dalam penanganan demi kelancaran pendidikan.

PENDAHULUAN

Selanjutnya akan dibahas mengenai upaya-upaya penanganan terpadu gangguan fungsi akibat kelainan otot, tulang, sendi, saraf. Tujuan utama dari penanganan adalah sebagai upaya untuk mempertahankan ,atau memulihkan fungsi semaksimal mungkin, sehingga keadaan fungsi ATD akibat penyakit tersebut dapat mencapai tingkat atau derajat fungsi yang mampu melaksanakan kegiatan komunikasi, memelihara diri sendiri melaksanakan kegiatan mobilisasi dan jalan. Dengan kemampuan fungsi tersebut ATD diharapkan akan mampu melaksanakan kegiatan pendidikan dan mampu mandiri di tengah-tengah masyarakat.

Ditinjau secara keseluruhan ATD akan mengalami kelainan struktur alat gerak sebagai bagian dari ilmu medik ortopedi yang meliputi faktor otot, tulang, sendi, dan saraf. Seluruhnya kelainan faktor ortopedi ini akan merupakan masalah faktor medik atau masalah medik.

Selanjutnya akibat faktor medik akan terjadi masalah fungsi ATD secara keseluruhan yang disebut masalah habilitasi atau rehabilitasi. Dengan demikian pada ATD akan sering ditemukan dua kelompok masalah yaitu masalah medik dan selalu berhubungan dengan- sebab timbulnya masalah fungsi atau masalah rehabilitasi atau habilitasi medik.

Selanjutnya akan diuraikan pokok-pokok bahasan sebagai berikut:

1. Prinsip penanganan masalah dari segi ortopedi dan kaitannya dengan mengatasi kelainan fungsi dalam upaya pemulihan fungsi ATD. Disebut juga mengatasi masalah medik. Sasarannya adalah mengatasi keseluruhan nyeri, hambatan gerak sendi, otot yang lemah, gangguan koordinasi gerak dan hambatan gerak fungsional.

2. Prinsip rehabilitasi atau habilitasi medik ada kaitannya dengan upaya mengatasi kelainan fungsi untuk mengembalikan fungsi yang tidak normal pada ATD sehingga anak mampu melaksanakan kegiatan sehari-hari atau sampai dapat mengikuti kegiatan pendidikan. sasarannya adalah mengatasi hambatan komunikasi, ADL, mobilisasi dan jalan.

3.  Pelaksanaan upaya pemulihan fungsi dari segi rehabilitasi atau habilitasi medik bersifat terpadu dan menyeluruh serta dilaksanakan secara tim dengan hubungan kerja secara interdisipliner. Hubungan kerja secara interdisipliner mengharuskan setiap anggota tim memahami hal-hal sebagai berikut:

a. Satu tujuan upaya terpadu yaitu memulihkan fungsi anak secara keseluruhan baik yang menyangkut aspek fisik, mental psikologi., sosial dan pendidikan.

b. Karena sifat kegiatannya terpadu dan terkait maka tiap anggota tim berkewajiban mengetahui/ memahami kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh anggota tim lainnya baik cara tindakannya maupun tujuan akhirnya.

Dalam pelaksanaannya, maka setiap periode tertentu perlu adanya pertemuan tim yang akan melaksanakan saling tukar informasi perkembangan hasil kegiatan tiap anggota tim. Untuk selanjutnya tim akan menentukan target kegiatannya dalam upaya mencapai sasaran akhir pemulihan fungsi tersebut. Tujuan akhir yang akan dicapai dalam waktu yang diperlukan ditentukan oleh tim.

1. Penanganan masalah rehabilitasi medis secara pendekatan tim untuk ATD.

Dalam upaya menyelesaikan masalah rehabilitasi atau habilitasi medis perlu tim khusus. Tim ini terdiri dari berbagai cabang keahlian profesional yang akan bekerja secara tim. Anggota tim terdiri dari:

a. Dokter spesialis rehabilitasi medik.

Dokter spesialis rehabilitasi medik akan memeriksa dan menilai jenis kelainan fungsi, problem medis dan rehabilitasi serta hubungan kelainan fungsi yang timbul. Selanjutnya akan menentukan garis besar program-program rehabilitasi serta tujuan yang ingin dicapai yang akan dilaksanakan anggota tim dalam bentuk kerjasama interdisipliner.

b. Fisioterapis / Fisikalterapis

Fisioterapis akan mengadakan penilaian dan melaksanakan program rehabilitasi medis untuk menyelesaikan masalah mobilisasi. Bentuk kegiatannya kebanyakan mengatasi gangguan sendi, menguatkan otot dan saraf yang lemah yang menunjang untuk kegiatan mobilisasi dan khususnya jalan dengan bantuan atau tanpa alat.

c. Okupasional terapis

Okupasional terapis akan mengadakan penilaian dan melaksanakan program rehabilitasi medis untuk melatih fungsi tangan, untuk kegiatan ADL. Bentuk kegiatan dasar terutama untuk kegiatan makan, minum, mandi dan berpakaian.

d. Speech terapis

Speech terapis akan mengadakan penilaian dan melaksanakan program mengatasi hambatan komunikasi. Biasanya ATD akibat polio tidak sering mengalami hambatan komunikasi.

e. Prostetis dan ortosis

Prostesis dan ortosis akan mengadakan penilaian dan melaksanakan pengukuran, pengepasan dan menyerahkan alat bantu ortesa sebagai alat penunjang mobilisasi ADL. Alat yang diberikan untuk kaki adalah brace pendek (SLB) atau brace panjang (LLB), sepatu koreski. tongkat kruk, splin untuk tangan dan sebagainya, semua peralàtan bantu ini dapat menunjang kelancaran upaya pemulihan fungsi.

f. Psikolog

Psikologi akan mengadakan penilaian dan membuat program Psikoterapi untuk memperbaiki atau meningkatkan motivasi anak dalam upaya pemulihan fungsi secara keseluruhan.

g. Sosial Medis

Sosial medis akan menyelesaikan masalah keluarga agar dapat berpartisipasi aktif dalam upaya memulihkan fungsi anak. Keterlibatan orang tua dalam masalah finansial dan hubungan interaksi antar anak dalam keluarga ikut menentukan keberhasilan upaya rehabilitasi medis.

h. Pendidik

Pendidik ATD akibat polio ikut menentukan keberhasilan upaya rehabilitasi medis secara keseluruhan dalam hal mencerdaskan anak, sesuai dengan kondisi fisik yang ada menuju tercapainya anak berkualitas. Upaya pendidik harus sesuai dengan derajat fungsi dan faktor penyebabnya, serta program rehabilitas yang diberikan perlu dilaksanakan sambil melaksanakan kegiatan pendidik.