Search Results for: gerak fleksi ekstensi adduksi abduksi endorotasi eksororasi

Aspek Biomekanik Dalam Olahraga

Aspek Biomekanik Dalam OlahragaASPEK BIOMEKANIK

Cidera olahraga terjadi karena adanya pembebanan/ penggunaan yang berlebihan, ketidaksiapan jaringan terhdp latihan à adanya stress pada jaringan. Stress adalah beban per unit area yang berkembang pada suatu bidang permukaan didlm suatu struktur sbg respon terhdp beban eksternal/internal. Beban eksternal adalah beban luar yang diterima oleh tubuh seperti gaya gravitasi, pukulan, benturan, dll. à dihasilkan oleh gaya.

Komponen strength, endurance, & power otot serta fleksibiltas sangat diperlukan pada beberapa cabang OR. Pada atletik lari 100 – 400 m membutuhkan kom-ponen strength & power yg tinggi. Pada OR marathon membutuhkan komponen enduran-ce yg tinggi. Pada OR senam lantai, gymnastik membutuhkan kom-ponen strength & fleksibilitas yg tinggi. Ketidaksiapan komponen2 diatas dapat memudahkan terjadinya cidera.

Keseimbangan tubuh sgt diperlukan pd beberapa cabang olahraga. Kurangnya keseimbangan dapat mempermudah terjadinya cidera, sebaliknya keseimbangan yg baik dapat membantu mencegah terjadinya injury. Kekuatan otot yg seimbang sgt mendukung terciptanya keseimbangan yg baik. Keseimbangan adalah penyesuaian tubuh yg merata terhdp beberapa gaya yg melawannya, & tubuh dlm keadaan seimbang.

Keseimbangan sgt dipengaruhi oleh stabilitas. Stabilitas adalah kemampuan tubuh untuk melawan gaya yg mungkin akan merusak keseimbangan. Stabilitas bergantung pada :

- Luas bidang tumpuan.

- Letak titik berat tubuh terhdp bidang tumpuan.

- Proyeksi titik berat tubuh ke dasar tumpuan.

- Berat tubuh Continue reading

Shoulder Kompleks

Shoulder KompleksShoulder complex merupakan sendi yang paling kompleks pada tubuh manusia. Dibentuk oleh tulang-tulang scapula, clavicula, sternum dan humerus. Dari keempat tulang ini membentuk  sendi-sendi: glenohumeralis, acromioclavicularis, sternoclavicularis dan scapulothoracic. Sendi-sendi ini bergerak bersama-sama saling mempengaruhi dan menjadi gerak sendi yang kompleks.

“Range of motion” dari shoulder kompleks yaitu:

-         Gerak fleksi dapat mencapai 180˚ dan dapat berkurang dengan bertambahnya umur (Murray et al, 1985), sedang ekstensi bisa sampai 60˚.

-         Geraka abduksi juga mencapai 180˚ (AAOS, 1965) maksimal abduksi terjadi pada “scapularpalne” (diantara bidang gerak fleksi dan abduksi). Sedang gerak adduksi dapat mencapai 75˚ di depan tubuh.

-         Gerak rotasi bervariasi, tergantung posisi fleksi shoulder dan total ROM external dan internal rotasi dapat mencapai 180˚.

Gerakan  shoulder kompleks (shoulder girdle) saling mempengaruhi , dengan pengertian apabila salah satu mengalami gangguan gerak  (terbatas) maka dapat dilakukan aktifitas fungsional dengan cara kompensasi dan gerak sendi yang lain. Continue reading

Pemeriksaan Gerak Dasar Regio Pergelangan Kaki

A. Pemeriksaan Gerak Pasif

1.  Dorsi fleksi dan plantar fleksi upper ankle (gb. 1)

a. Posisi pasien : berbaring telentang dengan lutut sedikit fleksi

b. Pegangan : satu tangan memegang tumit, tangan yang lain memegang kaki.

c. Gerakan : tes gerak pasif dorsi fleksi, tangan pada tumit memberi tarikan, tangan pada kaki mendorong ke arah dorsi feksi (gb. 1a). Tes gerak pasif plantar fleksi, tangan pada tumit memberi dorongan, tangan pada kaki menarik ke arah plantar fleksi (gb. 1b)

d. Tujuan : mengetahui ROM dan nyeri gerak Continue reading

Pemeriksaan Panggul dan Sekitarnya

Pemeriksaan Panggul dan SekitarnyaSecara klinis fisioterapi adalah suatu proses yang berdasarkan pendekaan ilmiah untuk mengatasi problematik terhadap gangguan fungsi dan gerak. Tindakan hanyalah bagian dari proses itu yang penentuan dan pelaksanaanya merupakan “hak prerogativ fisioterapis”. Kaitannya dengan pemeriksaani fisioterapi pada daerah panggul, maka kita mengawali pemeniksaan dari lumbal kemudian SIJ dan berakhir di sendi panggul (Hip).

SISTEM PEMERIKSAAN

1. Pola dasar pemeriksaan fisioterapi

A. Anamnesis

B. lnspeksi

C.. Pemeriksaan fungsi Continue reading

Prinsip-prinsip Pemeriksaan Gangguan Alat Gerak

Prinsip-prinsip Pemeriksaan Gangguan Alat GerakManual terapi secara khusus berkaitan erat dengan diagnosis dan terapi gangguan-gangguan musculoskeletal atau disfungsi somatic. Disfungsi somatic dapat terjadi dengan berbagai cara dan mempunyai karateristik sebagai berikut:

Gejala: misalnya  nyeri, kelemahan,  kekakuan, nyeri tekan.

Perubahan jaringan lunak: misalnya ketegangan, elastisitas, bentuk atau tekstur.

Perubahan fungsi: kekuatan, daya tahan, koordinasi dan  mobilitas (sendi dan jaringan lunak).

Gangguan musculoskeletal sering menampakkan  gabungan karateristik diatas antara satu dengan yang lain sangat erat kaitannya. Fisioterapis (manual terapis?) harus menentukan problem utamanya sehingga dapat memberikan terapi yang tepat. Continue reading

Gerakan Pasif Pada Sendi Lutut

Gerak pasif ekstensi (gb. 2) dan hiper-ekstensi (gb. 3)

a. Posisi pasien  :berbaring telentang dengan tungkai lurus

b. Pegangan     :tangan pasif memberi sanggaan pada sedikit di sebelah atas lutut bagian dorsal (ekstensi) atau pada sedikit disebelah atas lutut bagian ventral (hiper-ekstensi), tangan aktif memegang pada sedikit di atas pergelangan kaki.

c. Gerakan         : dengan tangan aktif, angkat tungkai bawah hingga maksimal.

d. Endfeel                  :keras

e. Tujuan                   :mengetahui ROM, nyeri gerak dan perubahan endfeel Continue reading

Teknik Pelaksanaan Terapi Manipulasi Pada Sendi Panggul

Dalam melakukan terapi manipulasi, haruslah selalu diingat hal-hal sebagai berikut:

- Posisi pasien harus comfort agar struktur persendian yang akan dimanipulasi benar-benar rilex. Selain itu posisi pasien juga harus dapat mempermudah pemberian terapi.

- Posisi terapis harus pula dipilih posisi yang paling mudah untuk pemberian terapi (agar dalam pemberian terapi tidak canggung/kikuk).

- Pegangan terapis harus mantap dan selalu kontak dengan kulit regio yang diterapi manipulasi.

- Fixasi harus benar-benar stabil

- Tenaga yang digunakan sejauh mungkin mengandalkan berat badan terapis. Hal ini dimaksudkan agar terapis tidak cepat lelah serta tidak terjadi keluhan/ganggüan/penyakit karena pekerjaan/pro fesi.

 terapi manipulasi

Traksi Primer caput femoris: pegangan pada  medioventral di paha atas se-proximal mungkin
Arah: Lateral, Caudal, Ventral.

Indikasi: Memelihara “joint play” Continue reading

Anatomi Fungsional Bahu

Gerakan extremitas superior ini jauh lebih rumit dan kompelks dari pada extremitas inferior, hal ini dilihat dari macam gerakan yang bisa di lakukannya, banyaknya tulang dan sendi yang tersangkut, adanya koordinasi yang tinggi antar bagian-bagian tak langsung melalui  gelang bahu dengan demikia gerakan extremitas superior tergantung kepada posisi pada gerakan gelang bahu dan tubuh. Gerakan yang sempurna ini di sini lain juga merugikan yaitu dengan berkurangnya tingkat stabilitasnya. Untuk extremitas superior khususnya sendi bahu, sebenarnya stabilitas ini memang tidak terlalu dibutuhkan karena dia tidak diperlukan untuk menyangga berat badan seperti halnya pada tulang belakang dengan kemungkinan terjadinya trauma, penyakit atau patologis yang lain. Continue reading

Tes-tes Stabilitas Pada Regio Knee (Lutut)

Regio Knee1. Tes hyperekstensi

Cara sama dengan pemeriksaan gerak pasif hyperekstensi. Bila hyperekstensi bertambah, kemungkinan terjadi kerusakan sampai sendi bagian dorsal dan/atau lig. Cruciatum anterior

 2. Tes Gravity(gb. 11)

Posisi pasien berbaring telentang dengan panggul dan lutut fleksi 90˚, kedua tumit disangga tangan pemeriksa. Pemeriksa rnengamati ketinggian kedua tuberositas. tibia, bila ketinggian berbeda, bägian yang lebih rendah menunjukan adanya kerobekan lig. Cruciatum posterior. Continue reading

Gerakan Tulang dan Sendi

Ilmu yang mempelajari gerakan tubuh manusia (Kinematika) dibagi menjadi dua yaitu yang mempelajari gerakan tulang disebut Osteokinematika dan yang mempelajari gerakan sendi atau gerakan yang terjadi pada permukaan sendi di sebut artrokinematika.

Ada 2 tipe dasar gerakan tulang :
Rotasi : gerakan berputar pada suatu aksis Continue reading