Search Results for: jurnal penelitian fraktur pdf

Fraktur 1/3 Proksimal Humerus

a. Definisi Fraktur Humerus
Diskontinuitas yang terjadi pada diafisis shaft tulang humerus karena rudapaksa / trauma
Klasifikasi fraktur humerus
1. Fraktur proksimal humerus
- One part fractures (minimally displaced)
- Two part fractures
• Fraktur tuberositas minor
• Fraktur tuberositas mayor Continue reading

Jurnal Kesehatan : Program Kesehatan Ibu dan Anak di Puskesmas Studi Fungsi Dinas Kesehatan di KEEROM PAPUA

oleh :

One Wakur, Kristiani, Mubasysyir Hasanbasri

LATAR BELAKANG
Program kesehatan ibu dan anak (KIA) merupakan salah satu prioritas utama pembangunan kesehatan di Indonesia. Program ini bertanggung jawab terhadap pelayanan kesehatan bagi ibu hamil, ibu melahirkan dan bayi neonatal. Salah satu tujuan program ini adalah menurunkan kematian dan kejadian sakit di kalangan ibu. Keerom merupakan salah satu kabupaten yang terletak di wilayah Indonesia bagian timur. Perbandingan antara jumlah bidan dan perawat dengan penduduk di Keerom sudah terpenuhi berdasarkan standar, namun pendistribusian tenaga bidan masih belum merata. Kondisi geografis yang sulit menyebabkan kebutuhan tenaga bidan semakin besar karena jumlah penduduk per desa masih relatif sedikit, tetapi jarak antardesa berjauhan. Kondisi ini juga menyebabkan kurangnya pengawasan terhadap bidan. Hasil observasi awal menunjukkan bahwa ada beberapa bidan desa yang meninggalkan lokasi tugas tanpa izin dan tidak terpantau oleh Dinas Kesehatan Keerom. Dampak dari pendistribusian tenaga kerja yang belum merata, dan lemahnya pengawasan dari dinas kesehatan (dinkes) menyebabkan kegiatan program kesehatan di puskesmas belum berjalan optimal, termasuk program KIA.

Tahun 2005, jumlah persalinan yang ditolong tenaga kesehatan masih rendah, hanya sebanyak 52 persen. Jumlah kematian ibu bersalin yang tercatat di Keerom sebesar 4 orang. Fenomena kasus kematian ibu dan kematian bayi di Keerom kemungkinan akibat dari dukungan Dinas Kesehatan Keerom dalam program KIA di puskesmas belum optimal. Dalam era otonomi daerah, peran dinkes menjadi sangat penting, termasuk dalam kegiatan program KIA1. Dinkes kabupaten/kota sebagai unit pelaksana teknis di bidang kesehatan berfungsi sebagai pendukung kegiatan puskesmas di wilayah kerjanya, sehingga program dapat berjalan sesuai yang direncanakan2. Kebijakan dinkes merupakan pedoman bagi puskesmas untuk menjalankan program kesehatan di puskesmas3. Fungsi dukungan dinkes ke puskesmas dalam kegiatan program dapat berupa pengadaan sumber daya manusia dan sumber daya lain yang dibutuhkan dalam pelaksanaan program KIA. Dukungan dinkes dalam proses pelaksanaan seperti kegiatan pembinaan, pengarahan dan pengendalian program juga dibutuhkan oleh puskesmas.

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dirumuskan permasalahan “Bagaimana fungsi Dinas Kesehatan Keerom dalam mendukung program KIA di puskesmas?” Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fungsi Dinas Kesehatan Keerom dalam mendukung program KIA di puskesmas. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mendukung pelaksanaan program KIA.

Download selengkapnya di www.lrc-kmpk.ugm.ac.id/id/UP-PDF/_working/No.21_One%20Wakur_07_07.pdf

Jurnal Kesehatan : PELAKSANAAN PERAWATAN KESEHATAN MASYARAKAT OLEH BIDAN DESA DI KABUPATEN AGAM

Oleh :

Nurmalis, Widodo Wirawan, Kristiani

LATAR BELAKANG
Upaya kesehatan berbasis masyarakat dalam pelayanan kesehatan ibu dan bayi masih sangat kurang dan perlu dilakukan perbaikan, terutama di pedesaan. Penempatan bidan di desa sebagai tenaga kesehatan berperan sangat penting dalam mengatasi masalah tersebut. Mereka ditempatkan dan bertugas di desa yang mempunyai wilayah kerja satu sampai dua desa dalam melaksanakan tugas pelayanan medis baik di dalam maupun di luar jam kerja dan bertanggung jawab langsung kepada kepala puskesmas1 . Tujuan penempatan bidan desa ialah untuk meningkatkan mutu dan pemerataan pelayanan kesehatan melalui puskesmas dan posyandu dalam rangka menurunkan angka kematian ibu, bayi dan balita serta meningkatkan kesadaran masyarakat untuk berperilaku hidup sehat 2. Tetapi, beban kerja bidan desa, khususnya di Kabupaten Agam, semakin
bertambah seiring peluncuran program perawatan kesehatan masyarakat (Perkesmas) secara Nasional. Perkesmas merupakan bagian integral dari upaya kesehatan di puskesmas dan terintegrasi kedalam kelompok upaya kesehatan wajib maupun pengembangan. Tujuannya untuk pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan masyarakat dan mempertimbangkan masalah kesehatan masyarakat yang mempengaruhi individu, keluarga, dan masyarakat.

Program Perkesmas yang seharusnya dilaksanakan oleh tenaga keperawatan, dilaksanakan oleh bidan desa karena keterbatasan tenaga perawat. Jumlah tenaga bidan di Agam sebesar 250 orang, 96 orang di antaranya ialah bidan desa, sedangkan jumlah perawat hanya 137 orang. Kondisi tersebut mendasari kebijakan program perawatan kesehatan masyarakat dilaksanakan oleh bidan.

Sejak penerapan Perkesmas oleh bidan, derajat kesehatan yang berkaitan dengan perawatan kesehatan masyarakat di Agam belum memenuhi target terutama untuk kasus bayi kurang gizi. Harapan yang belum tercapai dimungkinkan oleh kelemahan managemen meliputi input (tenaga, dana dan sarana) atau proses (pengelolaan) di tingkat puskesmas. Indikator untuk menilai mutu pelayanan kesehatan dapat dilihat dari tingkat kepatuhan atau compliance rate terhadap SOP (standard operational procedure). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengelolaan program Perkesmas oleh puskesmas di Kabupaten Agam. Mengetahui faktor input dan proses, mengetahui hubungan antara sumberdaya manusia, dana dan sarana, serta persepsi bidan tentang manajemen puskesmas dalam Perkesmas dengan kualitas pelayanan dan kualitas administrasi, dan mengetahui gambaran kualitas pelaksanaan Perkesmas dan cakupan pelaksanaannya.

Download selengkapnya di : lrc-kmpk.ugm.ac.id/id/UP-PDF/_working/No.7%20_Nurmalis_07_07.pdf

Jurnal Kesehatan : Implementasi Buku Kesehatan Ibu dan Anak di Kabupaten Mimika, PAPUA

Oleh

Dedeh Widaningrum, Widodo Wirawan, Mubasysyir Hasanbasri

Latar Belakang

Indikator derajat kesehatan dan kesejahteraan masyarakat ditandai dengan jumlah kematian ibu, jumlah kematian bayi, dan usia harapan hidup. Sampai saat ini, kematian ibu masih merupakan salah satu masalah prioritas bidang kesehatan ibu dan anak di Indonesia. Berbagai program telah dilaksanakan di Indonesia dengan keterlibatan aktif dari berbagai sektor pemerintah, organisasi nonpemerintah, dan masyarakat serta dengan dukungan dari berbagai badan internasional. Upaya ini telah berhasil menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dari 450 per 100.000 kelahiran hidup di tahun 1985 menjadi 334 per 100.000 kelahiran hidup di tahun 1997. Walaupun menunjukkan penurunan yang bermakna, target nasional untuk menurunkan AKI menjadi 125 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2010 masih jauh untuk dicapai4.

Kesakitan dan kematian pada wanita hamil dan bersalin merupakan masalah yang besar di negara miskin dan berkembang, seperti di Indonesia. Sejalan dengan komitmen dan perkembangan secara internasional, sejak 1990-1991 Departemen Kesehatan RI dibantu Badan Kesehatan Dunia, Badan Pendidikan dan Kebudayaan Dunia dan United Nation Development Plan mulai melaksanakan Assesment Safe Motherhood. Rekomendasi Departemen Kesehatan berbentuk strategi operasional untuk menurunkan AKI12. Angka kematian ibu di Indonesia merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Jumlah kematian ibu dan bayi masih tetap tinggi meskipun berbagai faktor terkait risiko kejadian komplikasi yang berhubungan dengan kehamilan dan cara pencegahannya telah diketahui. Diperkirakan terjadi 5 juta persalinan setiap tahun. Dua puluh ribu diantaranya berakhir dengan kematian akibat sebab-sebab yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan14. Mimika terbentuk tahun 1997, merupakan daerah pemekaran dari Kabupaten Fak-Fak dan secara yuridis ditetapkan sebagai kabupaten definitif pada bulan Maret 2000. Meskipun telah terjadi penurunan kematian bayi di tingkat nasional maupun propinsi, namun angka itu dan risiko kematian bayi di Mimika pada saat ini diperkirakan masih berada di atas angka rata-rata nasional. Risiko kematian bayi yang tinggi diperparah dengan perbedaan angka kematian yang cukup besar antara daerah perkotaan dan pedalaman. Ini disebabkan oleh kesenjangan ketersediaan pelayanan yang berkualitas. Angka Kematian Bayi (AKB) di Mimika ialah 40 per 1000 kelahiran hidup.

Download selengkapnya di http://lrc-kmpk.ugm.ac.id/id/UP-PDF/_working/No.16_Dedeh_04_07.pdf

Jurnal Kesehatan : Manajemen Unit Gawat Darurat pada Penanganan Kasus Kegawatdaruratan Obstetri di Rumah Sakit Umum Tengku Mansyur Tanjung Balai

Oleh :

Nurhidayah A. Ritonga, Mubasysyir Hasanbasri

Latar Belakang

Undang-undang Nomor 32 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah telah menetapkan bidang kesehatan sebagai salah satu urusan wajib yang harus dilaksanakan oleh kotamadya/kabupaten. Penyelenggaraan urusan wajib oleh daerah merupakan perwujudan otonomi yang bertanggungjawab sebagai pengakuan hak dan kewenangan daerah dalam wujud tugas dan kewajiban yang harus dipikul. Rumahsakit sebagai suatu organisasi yang khusus memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat harus dilihat sebagai suatu institusi yang sangat fital demi kelangsungan hidup manusia. Penanganan kasus gawat darurat pada setiap rumahsakit khususnya obstetri sering menjadi sorotan publik sebagai pengguna jasa pelayanan kesehatan yang sering merasa terabaikan dan tidak jarang berakhir pada kematian.

Kematian dan kesakitan ibu sebenarnya dapat dikurangi atau dicegah dengan berbagai usaha perbaikan dalam bidang pelayanan kesehatan obstetri. Pelayanan kesehatan tersebut dinyatakan sebagai bagian integral dari pelayanan dasar yang terjangkau seluruh masyarakat. Kegagalan dalam penanganan kasus kedaruratan obstetri umumnya disebabkan oleh kegagalan mengenal resiko kehamilan, keterlambatan rujukan, kurangnya sarana yang memadai untuk perawatan ibu hamil dengan risiko tinggi maupun pengetahuan tenaga medis, paramedis dan penderita dalam mengenal kehamilan resiko tinggi, secara dini, masalah dalam pelayanan obstetri, maupun kondisi ekonomi. Penyebab utama tingginya angka kematian ibu ialah adanya 3 terlambat (3T) yaitu terlambat mencari pertolongan, terlambat mencapai tempat tujuan dan terlambat memperoleh penanganan yang tepat setelah tiba ditempat tujuan.

Pelayanan gawat darurat bertujuan menyelamatkan kehidupan penderita, sering dimanfaatkan hanya untuk memperoleh pelayanan pertolongan pertama dan bahkan pelayanan rawat jalan. Pelayanan gawat darurat terdiri dari; falsafah dan tujuan, administrasi dan pengelolaan, staf dan pimpinan, fasilitas dan peralatan, kebijakan dan prosedur, pengembangan staf dan program pendidikan, evaluasi dan pengendalian mutu.

Alamat Download : http://lrc-kmpk.ugm.ac.id /id/UP-PDF/_working/No.13_Ritonga_04_07.pdf

Jurnal Kesehatan : Pelaksanaan Desa Siaga Percontohan di Cibatu, Purwakarta

Oleh

Taufik Noor Azhar, Eunice Setiawan, Dewi Marhaeni, Mubasysyir Hasanbasri

Latar Belakang
Indonesia memiliki angka kematian ibu tertinggi dibandingkan dengan negara-negara anggota Assosiation of South East Asian Nations. Faktor resiko komplikasi kehamilan dan cara pencegahan pada ibu hamil telah diketahui tetapi jumlah kematian ibu dan bayi masih tetap tinggi. Lima juta persalinan terjadi setiap tahun di Indonesia tetapi dua puluh ribu diantaranya berakhir dengan kematian. Pada tahun 1988, Indonesia melaksanakan Program Safe Motherhood yang secara aktif melibatkan sektor-sektor pemerintah, organisasi non-pemerintah dan masyarakat, serta badan-badan Internasional. Program ini ternyata cukup berhasil menurunkan angka kematian ibu dari 450 per 100.000 kelahiran hidup di tahun 1985 menjadi 334 per 100.000 kelahiran hidup di tahun 1997. Tetapi, pemerintah memiliki target nasional menurunkan angka kematian ibu sampai 125 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2010. Penurunan angka kematian ibu sesuai target nasional tentu belum dapat tercapai jika pemerintah hanya mengandalkan Program Safe Motherhood saja.

Propinsi Jawa Barat memiliki angka kematian ibu dan bayi masih lebih tinggi dibandingkan dengan angka nasional. Data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada tahun 2003 angka kematian ibu sebesar 321,15 per 100.000 kelahiran hidup dan angka kematian bayi sebesar 44,36 per 1000 kelahiran hidup. Upaya-upaya untuk mengendalikan angka kematian ibu dan bayi pun dilaksanakan seperti usaha pemeliharaan dan pengawasan antenatal sedini mungkin, serta persalinan yang aman dan perawatan masa nifas yang baik.

Kabupaten Purwakarta melaporkan bahwa pada tahun 2005 angka cakupan kumulatif K1 sebesar 81%, cakupan K4 baru mencapai 75%, kunjungan neonatus mencapai 62% dan persalinan oleh tenaga kesehatan baru mencapai 65%. Walaupun angka cakupan tersebut cukup baik namun masih belum mencapai target Standar Pelayanan Minimal K1 sebesar 90%, K4 sebesar 85%, kunjungan neonatus 80%, dan persalinan oleh tenaga kesehatan sebesar 80%. Kabupaten

Purwakarta memiliki 896 posyandu dengan ratio 4 sampai 5 posyandu per desa. Kader berjumlah 2.908 orang yang tersebar di 192 desa dengan ratio kader 2 sampai 3 kader per posyandu. Pengelolaan posyandu juga dilakukan oleh anggota masyarakat terutama kader, yang peduli terhadap masalah kesehatan di desa. Tetapi, akses ke sarana pelayanan kesehatan masih menjadi masalah bagi ibu-ibu hamil atau yang akan segera melahirkan karena jumlah polindes di Kabupaten Purwakarta hanya ada 8 unit saat ini. Selain itu, upaya kesehatan berbasis masyarakat yang secara spesifik terfokus pada ibu dan bayi belum ada sedangkan upaya kesehatan melalui Pos Obat Desa terdiri dari 14 unit, Saka Husada terdiri dari 6 unit, dan upaya kesehatan kerja terdiri dari 6 unit, masih bersifat pelayanan umum.

Download selengkapnya di lrc-kmpk.ugm.ac.id/id/UP-PDF/_working/No.19_Taufik_Noor_Azhar_07_07.pdf

Jenis Cedera Olahraga Secara Umum

Jenis Cedera Olahraga Secara UmumJames Wilson, Mac Donald, Colin Ferguson dalam bukunya Sports Injuries, membuat rumusan cedera Olah Raga sebagai berikut :

KEPALA ;

1. Gegar Otak / pingsan ( tinju / karate / balap )
2. Othematoma ( telinga pegulat )
3. Otitis Media / externa ( perenang )
4. Nyeri telinga ( penerbang / penyelam )
5. Robek Gendang / tuli mendadak ( letupan senjata / loncat indah )
6. Robek sekitar mata ( petinju )
7. Mata terkena bola ( tenis / bulutangkis / tenis meja )
8. Bola mata tergores ( tenis / bulutangkis / tenis meja )
9. Lebam mata ( tinju / karate )
10. Lepas perlekatan retina
11. Pteriqium ( jaringan ikat pada cornea / pralayar )
12. Perdarahan / patah hidung ( tinju / karate )
13. Robek bibir / lidah
14. Gigi patah Continue reading

Jenis Cedera Olahraga Pada Regio Lutut

Injury ligamentInjury meniskus

Sebagai akibat dari gerakan twisting yg tiba2 pd knee. Gerakan ini biasa terjadi pd olahraga ski, atletik, gulat, sepakbola, handball, bola basket, dan ballet. Injury ini sering terjadi pada meniskus medialis & selalu berhubungan dgn kerusakan pd lig.transversal knee. Injury pd meniskus lateral jarang terjadi.

Gejala khas adalah nyeri hebat pd gerakan ekstensi/hiperekstensi knee, nyeri spontan selama rotasi knee & efusi sendi.

Injury ligament

Injury yg paling sering terjadi pd atletik. Kondisi ini disebabkan oleh tuntutan gerak dari olahraga2 tertentu & kepekaan knee terhadap injury karena struktur anatomi dan mekanikalnya. Injury kapsul-ligamen biasanya berkaitan dgn mekanisme gerak fleksi, rotasi, abduksi & adduksi knee. Baik lig.collateral, lig.cruciatum & kapsul sendi dpt terkena injury. Lig.collatteral medial paling sering terkena injury à memungkinkan disertai injury meniskus.

Tipe injury ini terutama terjadi pada pemain sepakbola, handball, downhill ski, & olahraga pertarungan seperti yudo dan gulat.

Condromalacia patella

Kondisi ini paling banyak terjadi pd atlit kelompok usia 20-an & 40-an spt pemain bola, yudo, bola volly, bola basket & downhill ski. Gejalanya meliputi nyeri tekan dan nyeri gerak, krepitasi & bengkak. Gejala degenerasi disebabkan oleh proses biomekanik yang terjadi berulang2. Condromalacia dapat muncul secara sekunder dari kerusakan lainnya pd knee spt injury meniskus.

Dislokasi patella

Dislokasi patella dapat disebabkan oleh perubahan patologi dari axis tungkai, pukulan/tendangan melawan sisi medial atau lateral patella. Dislokasi biasanya bergeser ke lateral. Dislokasi ini biasa terjadi pd olahraga permainan khususnya sepakbola. Juga sering terjadi pd gulat, yudo, & olahraga pertarungan lainnya. Continue reading

Pengertian Distribusi Epidemiologi

A. PENGERTIAN EPIDEMIOLOGI
1. Pengertian Epidemiologi Menurut Asal Kata
Jika ditinjau dari asal kata Epidemiologi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari 3 kata dasar yaitu EPI yang berarti pada atau tentang, demos yang berati penduduk dan kata terakhir adalalah logos yang berarti ilmu pengetahuan. Jadi epidemilogi adalah ilmu yang mempelajari tentang penduduk.
Sedangkan dalam pengertian modern pada saat ini EPIDEMIOLOGI adalah :
“Ilmu yang mempelajari tentang Frekuensi dan Distribusi (Penyebaran) serta Determinat masalah kesehatan pada sekelompok orang/masyarakat serta Determinannya (Faktor – factor yang Mempengaruhinya). Continue reading

Memiliki teman meningkatkan harapan hidup

Sekelompok peneliti di Brigham Young University di Utah, Amerika Serikat, telah mencapai kesimpulan yang mengejutkan … atau mungkin tidak begitu banyak: memiliki teman memperpanjang hidup. Para ilmuwan mempelajari kasus ribuan orang di seluruh dunia dan dari berbagai usia, kelas sosial dan ras, yang diamati selama periode waktu. Temuan menunjukkan bahwa penarikan sosial, tidak memiliki teman, singkatnya, tidak hanya merusak pikiran, tetapi juga bagi tubuh.

Jurnal ilmiah PLoS Medicine telah menerbitkan data memastikan bahwa, di kali, tidak memiliki teman sangat tidak sehat seperti minum alkohol secara berlebihan atau memiliki kebiasaan merokok. Singkatnya, kata mereka, menjaga dan merawat orang lain, memiliki teman dalam hal ini, efek menguntungkan dari menyebabkan kita untuk memiliki perawatan yang lebih dari diri kita sendiri. Jika Anda memiliki teman dan merasa bagian dari mereka, sebuah kelompok dengan perasaan bersama dan pengalaman, kita akan menghargai lebih kesejahteraan kita sendiri dan kesehatan kita.

Ini bukan studi pertama yang telah dilakukan untuk mengetahui pengaruh nyata pada tubuh dan pikiran yang terkait dengan memiliki teman. Pada 70 dan 80 dilakukan percobaan di Alameda, California, yang menunjukkan bahwa orang yang berusia di atas dan di atas segalanya, kontak sosial yang lebih baik kurang mungkin untuk meninggal akibat penyakit yang dapat dicegah daripada orang yang tidak tahu persahabatan.

Di sisi lain, penelitian yang dilakukan oleh Yale University dengan pasien yang menderita penyakit jantung parah, menemukan bahwa mereka dengan dukungan emosional yang kuat diperluas peluang mereka bertahan hidup dalam jangka pendek dan menengah.

Kami juga telah melakukan penelitian di rumah jompo, dan menyimpulkan bahwa orang tua yang memiliki teman, nilai kesehatan mereka sendiri dan biasanya tidak jatuh ke dalam keadaan kecemasan atau depresi.