Search Results for: kelainan nervus pada pleksus lumbalis

Pengertian Distribusi Epidemiologi

A. PENGERTIAN EPIDEMIOLOGI
1. Pengertian Epidemiologi Menurut Asal Kata
Jika ditinjau dari asal kata Epidemiologi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari 3 kata dasar yaitu EPI yang berarti pada atau tentang, demos yang berati penduduk dan kata terakhir adalalah logos yang berarti ilmu pengetahuan. Jadi epidemilogi adalah ilmu yang mempelajari tentang penduduk.
Sedangkan dalam pengertian modern pada saat ini EPIDEMIOLOGI adalah :
“Ilmu yang mempelajari tentang Frekuensi dan Distribusi (Penyebaran) serta Determinat masalah kesehatan pada sekelompok orang/masyarakat serta Determinannya (Faktor – factor yang Mempengaruhinya). Continue reading

Osteoartritis dan Penyebabnya

Definisi

Osteoartritis adalah penyakit peradangan sendi yang sering muncul pada usia lanjut. Jarang dijumpai pada usia dibawah 40 tahun dan lebih sering dijumpai pada usia diatas 60 tahun.

Etiologi

Penyebab dari osteoartritis hingga saat ini masih belum terungkap, namun beberapa faktor resiko untuk timbulnya osteoartritis antara lain adalah : Continue reading

Gerakan Tulang dan Sendi

Ilmu yang mempelajari gerakan tubuh manusia (Kinematika) dibagi menjadi dua yaitu yang mempelajari gerakan tulang disebut Osteokinematika dan yang mempelajari gerakan sendi atau gerakan yang terjadi pada permukaan sendi di sebut artrokinematika.

Ada 2 tipe dasar gerakan tulang :
Rotasi : gerakan berputar pada suatu aksis Continue reading

Regenerasi Saraf Dengan Teknologi Laser

Regenerasi Saraf Dengan Teknologi LaserSistem saraf tepi terdiri dari sistem saraf sadai dan sistem saraf tak sadar (sistem saraf otonom). Sistem saraf sadar mengontrol aktivitas yang kerjanya diatur oleh otak, sedangkan saraf otonom mengontrol aktivitas yang tidak dapat diatur otak antara lain denyut jantung, gerak saluran pencernaan, dan sekresi keringat.

Saraf merupakan bagian tubuh yang sulit dilihat dengan mata telanjang, sehingga kerusakan yang terjadi kadang tidak disadari. Untuk itu ketahui beberapa gejala yang muncul jika mengalami kerusakan saraf tepi (neuropati). Continue reading

Shoulder Kompleks

Shoulder KompleksShoulder complex merupakan sendi yang paling kompleks pada tubuh manusia. Dibentuk oleh tulang-tulang scapula, clavicula, sternum dan humerus. Dari keempat tulang ini membentuk  sendi-sendi: glenohumeralis, acromioclavicularis, sternoclavicularis dan scapulothoracic. Sendi-sendi ini bergerak bersama-sama saling mempengaruhi dan menjadi gerak sendi yang kompleks.

“Range of motion” dari shoulder kompleks yaitu:

-         Gerak fleksi dapat mencapai 180˚ dan dapat berkurang dengan bertambahnya umur (Murray et al, 1985), sedang ekstensi bisa sampai 60˚.

-         Geraka abduksi juga mencapai 180˚ (AAOS, 1965) maksimal abduksi terjadi pada “scapularpalne” (diantara bidang gerak fleksi dan abduksi). Sedang gerak adduksi dapat mencapai 75˚ di depan tubuh.

-         Gerak rotasi bervariasi, tergantung posisi fleksi shoulder dan total ROM external dan internal rotasi dapat mencapai 180˚.

Gerakan  shoulder kompleks (shoulder girdle) saling mempengaruhi , dengan pengertian apabila salah satu mengalami gangguan gerak  (terbatas) maka dapat dilakukan aktifitas fungsional dengan cara kompensasi dan gerak sendi yang lain. Continue reading

Sprain Ankle

Sprain AnkleSprain ankle adalah kondisi terjadinya penguluran dan kerobekan pada ligamentum lateral compleks. Hal ini disebabkan oleh adanya gaya inversi dan plantar fleksi yang tiba-tiba saat kaki tidak menumpu sempurna pada lantai/ tanah, dimana umumnya terjad pada permukaan lantai/ tanah yang tidak rata. Sprain ankle memiliki derajat sprain sesuai tingkat kerusakannya. Derajat I sprain ankle umumnya terjadi penguluran pada ligamentum talofibular anterior sehingga pasien mengalami nyeri yang ringan dan sedikit bengkak. Sedangkan derajat II dan III sprain ankle, kerobekan parsial dan komplet telah terjadi pada ligamentum lateral compleks ankle (ligamentum talofibular anterior, ligamentum calcaneofibular, ligamentum calcaneocuboideum, ligamentum talocalcaneus dan ligamentum talofibular posterior). Pada derajat II dan III, pasien mengalami nyeri hebat (aktualitas tinggi), bengkak dan penurunan fungsi ankle (gangguan berjalan), sehingga umumnya pasien langsung berobat ke dokter/ fisioterapi untuk mendapatkan terapi. Terapi PRICE sering digunakan pada tahap akut sprain ankle, yang kemudian diikuti dengan program exercise untuk memperkuat stabilitas sendi ankle. Continue reading

AFR Pada Amputasi Tangan

PENDAHULUAN

Pengertian

Amputasi merupakan tindakan operasi dengan jalan memotong anggota atau organ tubuh sebagian atau seluruhnya, yang pada umumnya dilakukan pada angota gerak. Yang dibahas di sini adalah amputasi pada tangan. Amputasi tangan merupakan tindakan operasi dengan jalan memotong anggota tubuh pada extremitas superior yang mana potongan dilakukan pada bagian wrist pemisahan antara telapak tangan dan regio anterbrachium.

Perubahan patologi

Perubahan patologi merupakan pendorong dilakukan amputasi. Ada beberapa indikasi antara lain:

- Akibat adanya trauma ulang seperti fraktur yang di ikuti jaringan nekrosis dan menimbulkan pembusukan.

- lnfeksi tulang

- Kanker / Tumor tulang

-  Gangurn sirkulasi darah seperti: Burge diseases dan gangrene

-  Genital Ampitatum atau perbaikan fungsi tubuh agar dapat berguna untuk ambulansi dan beraktifitas.

Gejala — gejala yang timbul sebelum dilakukan amputasi, dikaitkan dengan indikasi yang timbul atau faktor penyebab maka gejala yang timbul adalah:

• Nyeri

• Pembengkakan pada sekitar wrist

• Keterbatasan ROM pada elbow dan shoulder

• Nekrosis jaringan yang menimbulkan pembusukan

Setelah Amputasi dilakukan, timbul problem-problem atau terjadi komplikasi seperti:

• Ruftura kulit : Terjadi robekan pada kulit

• Haematoma : Pembengkakang hasil operasi karena penimbunan darah di ujung amputasi

• Neuroma : Perasaan nyeri karena ada saraf, arteri yang terpotong

• Bad stump (ujung stump yang jelek)

• Phantom pain:  Masih adanya rasa nyeri pada angota badan yang sebenarnya sudah tidak ada

• Phantom sensation : Masih merasa kalau masih ada rasa gatal tapi kulitnya sebenarnya sudah tidak ada

• Osteomylisis : Infeksi yang terjadi pada tulang yang disebabkan oleh kuman

• Stiff Joint (Elbow dan Shoulder) Terjadinya kekuatan pada sendi

• Kontraktur Otot : Pengenduran otot

Problem/hambatan aktifitas sehari-hari

Adanya amputasi atau hilangnya sebagian organ tubuh yaitu tangan akan mempengaruhi aktifitas kegiatan sehari-hari, apalagi jika tangan yang dominan. Aktifitas yang terhambat akibat amputasi tangan yaitu makan dan minum, berpakaian, membersihkan dan mengatur diri, kegiatan kamar mandi seperti buang air besar, kecil dan mandi.

Jika setelah diamputasi tidak dilakukan kegiatan maka akan terjadi kekakuan karena pasien ragu untuk menggunakan tangan bekas amputasi.

Pemeriksaan fisik

Agar aktifitas kegiatan sehari-hari tidak terhambat maka perlu adanya latihan. Namun yang perlu diketahui sebelum latihan harus ada pemeriksaan fisik berupa inspeksi, palpasi (ROM dan MT)

Auskultasinya. Inspeksi yang dilakukan yaitu melihat atau mengetahui apakah ada kelemahan-kelemahan yang timbul setelah dilakukan amputasi. lnspeksi yang dilakukan antara lain:

- Gerakan-gerakan apa saja yang biasa dilakukan oleh tangan yang diamputasi

-  Perubahan postur

-  Oedema pada puntung amputasi

Selain di inspeksi harus diadakan MT dan pengukuran ROM. MT yang dilakukan yaitu pada group Musculus Nexor Elbow, Nexor Shoulder, Extensor Elbow dan Shoulder, Pronator dan Supinator, Abduktor dan Abduktor Shoulder serta rotator medial dan lateral shoulder.

Pengukuran ROM dilakukan dengan menggunakan Genio Meter. Tujuan pengukuran ROM adalah untuk mengetahui seberapa besar jarak gerak sendi pada Shoulder Joint dan Elbow Joint. Pengukuran ROM dilakukan pada semua gerakan pada kedua sendi (shoulder & elbow).

Pada kondisi ini tidak dapat dilakukan Auskultasi karena Auskultasi merupakan pemeriksaan pendengaran.

Tujuan AFR

Tujuan dilakukannya AFR yakni:

- Agar penderita dapat melakukan kegiatan hidup sehari-hari dengan tangannya atau dengan kata lain mencegah one hand edness’ (penggunaan satu tangan saja)

- Mencegah Suff Joint dan kontraktur khususnya pada elbow dan shoulder

- Mengajarkan proses untuk memakai protesa secara tepat dan benar

-  Mengurangi beban mental

- Agar pasien dapat melakukan kegiatan hidup sehari-hari dengan menggunakan alat Bantu atau palsu.

Aktifitas yang diberikan atau diprogramkan

Aktifitas yang diprogramkan harus sesuai dengan program dari AFR yang mana:

-  Perlu penyesuaian jenis amputasinya

-  Unsure penderitaan dan pekerjaan serta lokasi tempat tinggalnya

-  Jumlah tanggungan keluarga

- Alat Bantu yang digunakan sehari-hari / alat palsu

Pemilihan jenis AFR juga harus berdasarkan kondisi penderita yakni problem yang ada dan dialami dan dapat mengganggu kehidupan sehari-hari jenis aktifitas yang harus diberikan yaitu:

-  Dam-dam yang ditinggikan

- Permainan kartu untuk melatih gerakan memegang dan secara halus

-  Membersihkan sepeda.

Aktifitas fungsional seperti:

- Penggunaan berbagai macam kunci

- Membuka pintu

-  Memungut korek api

- Membuang air

- Menaruh sepatu

- Menimba air dari sumur

- Untuk pekerjaan yang harus dilakukan dengan skrup dan baut ,

- Mesin gergaji dengan potongan gergaji yang besar

Aktifitas yang diberikan juga hendaknya disesuaikan dengan profesi penderita.

Keamanan yang harus diperhatikan pada pasien

Keamanan yang harus diperhatikan pada pasien yang mengalami amputasi pada tangan yaitu:

- Pembalutan pada puntung amputasi

- Pengunaan pakaian khususnya kemeja, jas, dan juga baju hangat, yang mana harus dihindari kemeja yang sempit dan yang berlengan panjang, dan juga hindari baju yang harus disisipkan kedalam celana.

Evaluasi

Evaluasi dibagi dua yaitu sesaat dan berkala. Evaluasi sesaat yaitu pada saat dilakukan latihan sedangkan berkala yaitu setelah beberapa kali melakukan latihan.

Komplikasi yang timbul akibat amputasi tersebut dapat dipulihkan kembali dan juga pasien dapat melakukan aktifitas kegiatan sehari-hari dengan menggunakan bekas amputasi.

Pemberian alat bantu sesuai cacatnya

Bagian tubuh atau organ tubuh yang hilang atau diamputasi yaitu tangan dapat dibantu dengan tangan palsu. Tangan palsu ini bentuk seperti lengan bawah sampai tangan dan dipasang mulai dari elbow.

Selain tangan palsu biasa juga menggunakan karet yang diikat pada puntung tangan yang telah diamputasi yang mana alat Bantu ini dipake pada saat pasien akan melakukan aktifitas yaitu makan.

Pada pasien amputasi sering juga digunakan alat Bantu seperti MiteIIa yang mana digunakan setelah dilaksanakan amputasi atau baru diamputasi. Mitella ini digunakan untuk menggendong lengan yang diamputasi.

Saran — saran

Bagi pasien amputasi tangan, diminta untuk tidak memanjakan tangan bekas amputasi, sering melakukan latihan serta selalu menjaga kebersihan pada puntung amputasi.

Bagi keluarga pasien diharap untuk selalu membantu dan memotivasi pasien.

Penyebab Penyakit Bronkiektasis

Penyebab Penyakit BronkiektasisAcquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan penyebab utama bronkiektasis. Ada baik bawaan dan diakuisisi penyebab bronkiektasis. Kartagener sindrom, yang mempengaruhi mobilitas silia di paru-paru,  membantu dalam perkembangan penyakit ini. Penyebab lain genetik umum adalah cystic fibrosis, di mana sejumlah kecil pasien bronkiektasis lokal mengembangkan parah . sindrom Young, yang secara klinis mirip dengan fibrosis kistik, diperkirakan memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan bronkiektasis. Hal ini disebabkan terjadinya kronis, infeksi sinopulmonary  Pasien. Dengan defisiensi alfa 1-antitrypsin telah ditemukan untuk menjadi sangat rentan terhadap bronkiektasis, untuk alasan yang tidak diketahui.  Lainnya kongenital menyebabkan kurang umum termasuk immunodeficiencies utama, karena terhadap respon sistem kekebalan tubuh melemah atau tidak ada sampai parah, infeksi berulang yang biasanya mempengaruhi paru-paru. Continue reading

Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Penderita Osteoporosis

Osteoporosis

Osteoporosis Penatalaksanaan penderita osteoporosis terdiri atas:

1. Penyuluhan Penderita

Pada penderita osteoporosis, faktor resiko di luar tulang harus diperhatikan program latihan kebugaran tubuh (fitness), melompat, dan lari tidak boleh dilakukan karena resiko besar patah tulang. Berdirilah tegak kalau jalan, bekerja, menyetrika, menyapu (gunakan sapu dengan tangkai panjang) dan masak. Duduklah tegak kalau bekerja, masak, sikat gigi dan mencuci. Tidak boleh mengepel lantai dengan berlutut dan membungkuk karena resiko patah tulang pinggang cukup besar.

Untuk memperkuat dan mempertahankan kekuatan neuromuskuler memerlukan latihan tiap hari atau paling sedikit 3 hari sekali. Berdansa santai dan jalan kaki cepat 20 — 30 menit sehari adalah sehat dan aman untuk penderita osteoporosis.

Penderita perlu menyadari besarnya resiko jatuh. Setelah makan atau tidur, duduk sebentar dulu sebelum berdiri dan pada permulaan berdiri berpegangan dahulu pada tepi meja makan. Mereka yang sering kehilangan keseimbangan bahan perlu memakai tongkat/walker.

Jatuh

Kemungkinan jatuhnya pada lansia terkait dengan faktor resiko:

1. Mobilitas sudah berkurang

2. Berjalan dengan tongkat atau walker

3. Gangguan fungsi kognitif (cognitive inpairment)

4. Gangguan penglihatan (visual inpairment)

5. Hipotensi postural

6. Pusing-pusing berat (vertigo)

7. Ketidakmampuan fisik yang berat

8. Pernah mengalami stroke

9. Pernah jatuh

10. Pemakaian obat yang dapat menekan fungs saraf pusat

11. Menderita radang sendi (arthritis)

12. Pendengaran yang berkurang

13. Kelainan jiwa (psikiatri)

14. Kelainan neuromuscular

15. Kurang gizi

16. Penyakit-penyakit jantung

17. Minum alkohol

18. Keadaan rumah yang tidak aman (banyak tangga, drempel dan licin)

Supaya tidak jatuh diperlukan tindakan keamanan yang memadai baik di dalam maupun di luar rumah.

Keamanan di dalam rumah

Keamanan Lantai

• Semua karpet harus lengket pada lantai

• Lantai jangan digosok lilin atau dikilapkan dengan minyak

• Jangan berjalan di lantai yang basah

• Bersihkan semua kawat, tali temali, mainan anak dan barang lain dari lantai

• Jangan injak kucing atau anjing yang sedang tidur di lantai

Keamanan tangga

• Usahakan tidak tinggal pada lantai atas rumah

• Pegangan dan undakan tangga harus kencang dan tidak licin

• Karpet di tangga harus dilengketkan pada tangga

Keamanan kamar mandi

• Sekitar tembok kamar mandi dipasang pegangan

• Lantai kamar mandi harus anti slip

Keamanan berupa penerangan

• Pintu, ruangan dan tangga harus cukup penerangan

• Pasang lampu kecil (lampu malam) di kamar tidur dan kamar mandi

• Siapkan satu senter di samping tempat tidur untuk dipakai kalau listrik padam

Keamanan Dapur

• Pasanglah keset anti slip di depan wastafel dan kompor

Keamanan di luar rumah

Keamanan dalam mobil

• Pasanglah seat belt bila naik mobil

• Pasanglah pengganjal pinggang

• Pasanglah pengganjal kepala

Keamanan sepatu dan sandal

• Pakailah sepatu yang kuat, bertumit rendah, dengan dasar yang lunak

• Hindarilah jalan yang basah atau berlumpur

• Kalau perlu pakailah tongkat, walker atau minta tuntunan orang lain

Keamanan obat

• Semua obat termasuk minuman keras yang menyebabkan gangguan kesadaran (mabuk), sempoyongan, kepala enteng, kehilangan keseimbangan dan disorientasi tidak boleh di minum

Keamanan pribadi

• Memeriksa mata secara teratur dan pakai kacamata yang cocok

• Latihan yang teratur untuk memperkuat otot supaya keseimbangan dan koordinasi tubuh tetap terjaga

2. Pencegahan

Pencegahan primer

Pencegahan primer bertujuan untuk membangun kepadatan tulang dan neuromuskler yang maksimal. Ini dimulai dari balita, remaja dewasa umur pertengahan sampai umur 36 tahun.

Beberapa hal penting pada pencegahan primer:

• Pemberian kalsium yang cukup (1200 mg) sehari selama masa remaja

• Kegiatan fisik yang cukup dalam keadaan berdiri. Minimal jalan kaki 30 menit tiap hari.

• Mengurangi faktor resiko rapuh tulang seperti merokok, alkohol dan imobilisasi.

• Menambah kalsium dalam diet sebanyak 800 mg sehari pada manula

• Untuk wanita resiko tinggi penambahan estrogen, difosfonat atau kalsitonin harus dipertimbangkan.

Pencegahan sekunder

Pencegahan sekunder yaitu pemberian hormon-hormon estrogen progesterone. Hormon-hormon ini dilaporkan menghentikan setidak-tidaknya mengurangi kehilangan tulang selama menopause.

Pencegahan tersier

Pencegahan tersier dilakukan bila penderita mengalami patah tulang pada osteoporosis atau pada orang yang masuk lanjut usia (lansia).

3. Pemberian Gizi Optimal

Pencegahan primer bertujuan agar kepadatan tulang yang maksimal tercapai pada umur 36 tahun. Pencegahan sekunder bertujuan menghambat kehilangan kepada tulang waktu menopause dengan pemberian hormon pengganti. Selanjutnya kehilangan kepadatan tulang pada lansia dihambat dengan pencegahan tersier. Pencegahan primer, sekunder dan tersier dilaksanakan melalui pengaturan gizi yang optimal, dibarengi dengan aktivitas fisik dan olahraga yang sesuai dengan umur dan stadium kerapuhan tulang penderita.

Kebutuhan kalsium sehari—hari untuk mencegah osteoporosis:

• Sebelum menopause kebutuhan sehari 800 — 1000 mg Kalsium

• Selama menopause kebutuhan sehari 1000— 1200 mg Kalsium

• Selama menopause kebutuhan sehari 1200 — 1500 mg kalsium

UPAYA REHABILITASI MEDIK

Prinsip terapi fisik dan rehabilifasi dapat bermanfaat dalam penatalaksanaan penderita oteoporosis

• Latihan/exercise

Latihan dapat mengurangi hilangnya massa tulang dan menambah massa tulang dengan cara meningkatkan pembentukan tulang yang lebih besar dari pada resorbsi tulang.

PENGOBATAN PADA PATAH TULANG

Pada orang tua dengan keluhan nyeri yang hebat pada lokalisasi tertentu seperti pada punggung, pinggul, pergelangan tangan, disertai adanya riwayat jatuh, maka perlu segera memeriksakan diri ke dokter untuk mengetahui adanya patah tulang. Apabila pada pemeriksaan selanjutnya didapatkan adanya patah tulang, maka harus dipertimbangkan tindakan-tindakan sebagai berikut:

1. Menghilangkan nyeri disertai pemberian obat-obatan untuk membangun kekuatan tulang, yaitu kalsium dan obat-obat osteoporosis

2. Tindakan pemasangan gips pada patah tulang pergelangan tangan. Tindakan menarik tulang pada panggul dan dilanjutkan dengan tindakan operasi pada panggul dengan mengganti kepala panggul pada patah leher paha.

Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Penyakit Parkinson

Physiotherapy In Parkinson's DiseaseA. Pengertian

Parkinson merupakan salah satu penyakit akibat gangguan pada ganglia basalis di otak. Penyakit ini pertama kali ditemukan oleh Tuan Parkinson pada tahun 1868 yang secara umum menampakkan gejala khas berupa rigidity, bradikinesia (gerakan lamban) mikroskopi, akinesia, wajah kaku, abnormal postur berupa fleksi postur, gangguan reaksi keseimbangan dan berkurangnya rotasi trunk.

B. Patologi

Diawali menurunnya atau berkurangnya pengiriman dopamine (DA) ke substantia Nigra, sehingga timbul gejala-gejala seperti tersebut diatas. Continue reading