Search Results for: nama lain dada

AFR Pada Penderita Diabetes Mellitus (DM)

Diabetes Mellitus

Diabetes MellitusBab I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan manusia seutuhnya terkait dengan semua aspek kehidupan manusia seperti demografi. Keadaan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat, keadaan dan perkembangan Iingkungan fisik dan biologis serta sosial budaya, termasuk sumber daya khususnya dibidang ,kesehatan.

Sasaran pembangunan kesehatan yaitu terselenggaranya layanan kesehatan yang makin bermutu dan merata yang mampu wujudkan manusia tangguh, sehat, dan produktif. Pembangunan bidang kesehatan telah mengalami kemajuan yang ditandai dengan makin tingginya derajat kesehatan masyarakat, luasnya cakupan upaya layanan dan semakin meratanya hasil-hasil pembangunan dibidang  kesehatan yang telah dinikmati oleh masyarakat. Maka itu perlunya motivasi yang kuat dan sungguh-sungguh dan disertai keikhlasan dalam menjalankan profesi dibidang pelayanan kesehatan.

TUJUAN

Tujuan umum

Menyajikan AFR pada penderita dengan berbagai kondisi.

Tujuan khusus

2.1. Melatih AFR pada penderita DM dengan cara ADL sehari-hari

2.2. mempertahankan ketahanan fisik, ROM dan mendukung sifat/fungsi psikososial

Bab II

PEMBAHASAN

A. DEFINISI / PENGERTIAN DIABETES MILITUS

Diabetes militus adalah kelainan metabolisme yang dturunkan secara genetik akibat karena glikemia puasa. atreosklerosis. dan kelainan neoropatis atau Diabetes militus adalah keadaan hiperglikimia kronik disertai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal saraf dan pembuluh darah disertai lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop dengan mikroskop electron.

B. PERUBAHAN PATOLOGI

1. Penyebab

Diabetes militus dibedakan/terbagi atas:

IDDM (Insulin Dependent Diabetes Militus) atau diabetes militus tergantung insulin yang disebabkan destruksi sel B pulau langerhans akibat proses autoimun dan NIDDM (Non IDDM) atau Diabetes militus tidak tergantung insulin disebabkan kegagalan relative sel B dan Resistensi lnsun atau turunnya kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan glukosa oleh hati. Oleh sebab itu sel tidak mampu mengimbangi resistensi ini sepenuhnya, artinya terjadinya defisiensi relative insulin. Ketidakmampuan ini dilihat dari berkurangnya sekresi insulin pada rangsangan glukosa, maupun pada rangsangan bersama bahan perangsang sekresi insulin lain. Berarti sel B pancreas desensitisasi terhadap glukosa.

2. Gejalah-gejalah

A. Poli uria (banyak kencing).

B. Poli dipsia (banyak minum).

C. Poli pagia (banyak makan).

D. Rasa gatal-gatal.

E. Rasa manis pada kencing yang tandai dengan air kemih penderita dikerumuni semut.

F. Hasil tes toleransi glukosa yang has baik gula darah puasa atau rutin/sewaktu.

G. Hasil pemeriksaan glukotes positif.

H. Lemas.

I.berat badan turun.

J. Kesemutan.

K Mata kabur.

L. Impotensi pada pria.

M. Pruritus vulva pada wanita.

Komplikasi

A. Akut:

1 Koma Hipoglekemia

2. Keroasidosis

3, Koma Hiperosmolar non Ketotik

B. Kronis

1. Makroangiopati, mengenai pembuluh darah besar, pembuluh darah jantung, pembuluh darah tepi, pembuluh darah otak.

2. Makroangiopati, mengenai pembuluh darah kecil, retinopati diabetik, nefropati diabetik,

3 Neuropati diabetic.

4. Rentan infeksi seperti TBC paru, Gingivitis dan infeksi saluran kemih.

5 Kaki diabetic.

C. PROBLEM ATAU HAMBATAN AKTIVITAS KEGIATAN SEHARI-HARI

Di lihat dari gejala yang ditimbulkan hambatan tersebut dapat berupa

• Rentan terhadap infeksi:

Maka sebaliknya latihan diprioritaskan pada tempat-tempat di Rumah Sakit seperti ruangan pemeriksaan atau penyakit dan sebagainya.

• Mengingat penyakit ini dapat menyebabkan berbagai komplikasi sebaiknya latihan menurut petunjuk dokter yang disesuaikan dengan pengobatan.

D. PEMERIKSAAN FISIK

1. Aspek jasmani

a. Penglihatan;

Penderita dapat membedakan warna, dapat melihat lubang kencing (apakah ada katarak).

b. Cepat Ielah

c. Dan tugas makin lama ditambah beratnya

- Untuk ibu:

a. Mulai ADL pribadi tanpa kesulitan Misalnya makan, minum, berpakaian.

b. ADL Iebih luas / pekerjaan RT dapat dilaksanakan di ruangan Misalnya : cuci piring, menyulam, meremas pakaian, menanam bunga, dan lain-lain.

- Untuk anak-anak:

ADL menurut umumya:

Misalnya permainan dengan bola teka-teki dan lain-lain.

E. PELAKSANAAN PEMBERIAN AKTIVITAS

1. Misalnya mempertahankan ROM.

Pada semua penderita dapat dilakukan dengan latihan bola sendirian (untuk anggota atas atau bawah) atau bersama dengan penderita lain di luar ruangan dengan cara duduk atau berdiri.

2. mempertahankan kekuatan fisik melalui kegiatan sehari-hari. Dapat dilakukan dengan cara melaksanakan kegiatan sehari-hari seperti makan sendiri, minum, mandi, berpakaian, ataupun kerajinan tangan yang lain.

3. untuk mendukung sifat dan psikososial dapat dilakukan dengan cara mernberikan dorongan kepada . penderita disamping melatihnya, bahwa dia dapat melakukan itu sendiri.

F. KEAMANAN YANG HARUS DIPERHATIKAN PADA PASIEN

1. Kita harus memikirkan waktu memberikan aktivitas pada penderita waktu makan, minum obat, suntikan dan lain-lain sebagainya dalam memberikan latihan tidak boleh sampai menyita waktu dari kebutuhan penderita.

2. Jagalah supaya penderita dengan cara yang aman mencegah terjadinya luka-Iuka.

3. Mencegah mata jangan terlalu lelah.

4. Mendidik supaya penderita supaya duduk jongkok, berdiri, dengan posisi yang betul, mencegah kecapaian kesakitan pada otot kalau posisi salah.

5. Mendukung penderita supaya komplikasi yang lain jangan sampai timbul.

Dan tugas makain lama ditambah beratnya

- Untuk ibui :

a. Mulai ADL pribadi tanpa kesulitan

Misalnya, makan, minum, berpakaian.

b. ADL lebih Iuas/pekerjaan RT dapat dilaksanakan di ruangan MisaInya cuci piring, menyulam, meremas pakaian, menanam bunga, dan lain-lain.

- Untuk anak-anak

ADL menurut umumya:

Misalnya : permainan dengan bola teka-teki dan Iain-lain.

G. PELAKSANAAN PEMBERIAN AKTVITAS

1. Misalnya mempertahankan ROM.

Pada semua penderita dapat dilakukan dengan latihan bola sendirian (untuk anggota atas atau bawah) atau bersama dengan penderita lain di luar ruangan dengan cara duduk atau berdiri.

2. mempertahankan kekuatan fisik melalui kegiatan sehari-hari.

Dapat dilakukan dengan cara melaksanakan kegiatan sehari-hari seperti makan sendiri, minum, mandi, berpakaian ataupun kerajinan tangan yang lain.

3. untuk mendukung sifat dan psikososial dapat diakukan dengan cara memberikan dorongan kepada penderita disamping melatihnya, bahwa dia dapat melakukan itu sendiri.

H. KEAMANAN YANG HARUS DIPERHATIKAN PADA PASIEN

1. Kita harus memikirkan waktu memberikan aktivitas pada penderita waktu makan, minum obat, suntikan dan lain-lain sebagainya dalam memberikan latihan tidak boleh sampai menyita waktu dari kebutuhan penderita.

2. Jagalah supaya penderita dengan cara yang aman mencegah terjadinya luka-Iuka.

3. Mencegah mata jangan terlalu lelah.

4. Mendidik supaya penderita supaya duduk jongkok, berdiri, dengan posisi yang betul, mencegah kecapaian kesakitan pada otot kalau posisi salah.

5. Mendukung penderita supaya komplikasi yang lain jangan sampai timbul.

6. Mendukung penderita mengenal dietnya.

7. Memberi peranan pada anggota keIuarga mengenai keamanan tersebut di atas dan aturan-aturan kegiatan-kegiatan, istirahat, makan.

I. EVALUASI

Evaluasi dapat dilakukan dengan cara:

Evaluasi sesaat:

Kegiatan AFR dapat meringankan:

- Rasa putus asa

- GeIisah

- Ketakutan pada penderita Evaluasi berkala:

Dengan melatih penderita ADL.. sehari-hari diharapkan penderita dapat mengembalikan kemampuan fungsional dan gerak agar dalam interaksinya dia tidak tergantung orang lain.

- Dengan latihan ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan fisik atau ROM agar lebih tertingkatkan.

J. PEMBERIAN ALAT BANTU SESUAI KECATATAN

Penyakit DM bisa menyebabkan amputasi anggota tubuh dan menyebabkan cacat, dikarenakan luka DM sukar sembuh dan dapat menyebabkan banyak jaringan tubuh mengalami nekrosis. Alat bantu yang diberikan misalnya:

- Tongkat atau kursi roda untuk membantu penderita berjalan dalam melaksanakan ADL sehari-hari.

- Pengalas tangan saat bekerja dan berjalan ditambah pengalas kaki dan lain-lain.

K. SARAN/HOME PROGRAM

1. Penderita harus patuh untuk diet dan mengkonsumsi obat-obatan sesuai pengobatan.

2. Penderita harus selalu mengontrol darah gula.

3. Penderita harus melakukan ADL sehari-hari untuk mempertahankan ketahanan otot dan mempertahankan ROM.

4. Sebagai seorang fisioterafis, kita harus memberikan support bahwa penyakitnya itu dapat disembuhkan.

5. Penderita tidak boleh takut, gelisah, atau putus asa.

Diagnosis dan Pengobatan Pada Kanker Paru-paru

Apa itu?

Kanker Paru-paruKanker paru-paru adalah salah satu bentuk paling umum kanker yang mempengaruhi orang dewasa di Amerika Serikat, dapat dibagi menjadi kanker paru-paru sel kecil (SCLC) dan paru-paru non-sel kecil (NSCLC) kanker. Berbagai terakhir dapat diklasifikasikan menjadi adenocarcinoma, sel skuamosa dan sel besar. Perbedaan antara SCLC dan NSCLC adalah pendekatan yang dilakukan untuk mempelajari diagnosis dan rencana perawatan. EL SCLC cenderung menyebar luas dalam penampilan pertamanya dan dengan demikian nikmat penggunaan kemoterapi untuk pengobatan. Selanjutnya, NSCLC, dapat ditemukan di paru-paru pada saat kejadian pertama, yang mendukung penggunaan reseksi bedah dengan atau tanpa terapi radiasi sebagai pengobatan awal. Setiap jenis tertentu dari kanker paru-paru memiliki karakteristik sendiri, dan baru-baru, genetik sendiri, yang menciptakan harapan bagi pengembangan pengobatan baru. Adenocarcinoma paru-paru adalah bentuk kanker paru-paru.

Seperti semua kanker, adenocarcinoma adalah pertumbuhan sel abnormal. Sel-sel kanker berkembang biak tak terkendali dan membentuk tumor. Sebagai tumor tumbuh, ia menghancurkan bagian paru-paru. Seiring waktu, sel-sel tumor yang abnormal dapat menyebar (bermetastasis) ke bagian lain dari tubuh seperti kelenjar getah bening di dada dan bagian tengah itu, yang disebut mediastinum, hati, tulang, kelenjar adrenal dan organ lain termasuk otak. Continue reading

AFR Pada Penderita Asma

AFR Pada Penderita Asma

AFR Pada Penderita AsmaA. PENGERTIAN

Asthma berasal dari Bahasa Yunani, yang artinya Terengah = Bernafas Pendek. Asthma juga merupakan penyakit Obstruktif paru yang sering terjadi pada usia muda yang khas dari penyakit ini adalah serangan terjadi secara tiba-tiba, kadang-kadang beberapa hari ataupun beberapa minggu tergantung penyebabnya menurut The American Society (1962), menyatakan; Asthma Bronhide ialah suatu penyakit yang ditandai oleh peningkatan respon saluran nafas terhadap ransang. dengan Manivestasi penyempitan saluran nafas yang derajatnya berubah-ubah dan dapat sembuh secara cepat atau dengan pengobatan.

Suatu serangan disebabkan karena sensifititas dari otot poIos saluran nafas terhadap beberapa bagian ransangan. Awalnya, bisa terjadi secara perlahan-lahan atau mendadak dan kadang serangan dapat berlangsung selama beberapa hari atau beberapa minggu yang keadaan ini disebut Status Asthmaticus. Asthma juga merupakan penyebab utama penyakit Kronik pada anak-anak sebelum pubertas, sekitar 2 (dua) kali lebih banyak dan memiliki perbandingan yang sama antara Laki-laki dan perempuan. Pada umumnya pasien yang menderita Asthma adalah terjadinya kesulitan dari respirasi khususnya ekspirasi.

B. PERUBAHAN PATOLOGI

Pada waktu serangan:

1. Bronkospasme

2. Edema Mukosa

3. Sekresi kental membentuk gumpalan dalam bronhioli medium / kecil.

Bila suatu serangan ringan meredah, dada kembali normal bila muku yang kental di ekspektorasikan (dikeluarkan).

Setelah Suatu serangan berat

1. Kolaps Absorpsi.

2. Serangan yang berulang-ulang dan berlarut-larut.

3. Hipertropi selaput lendir.

4. Penebalan semua lapisan bronchi kecil.

Asthma yang berlangsung lama dan sangat parah dapat menyebabkan Empisema.

Innamasi lapisan mukus pada Tracheobrochial dan Hypersekresi Mukosa, dimana biasanya bergetah dan ada obstruksi karena adanya peningkatan jumlah dan ukuran sel-sel goblek.

a. Penyebab

Ada beberapa penyebab terjadinya Asthma yaitu:

1. Perangsangan Primer (Inadcer), yaitu rangsangan yang secara primer dengan atau  tanpa faktor predisposisi dapat menimbulkan gejala Asthma atau selanjutnya menginduksi terjadinya Hyperaktivitas Bronkchus sebelumnya yang termasuk disini adalah:

- Debu : Penderita Asthma akan terjadi serangan apabila terkena debu ataupun alergi terhadap debu.

- Serbuk: seperti tepung dan bedak.

- Bulu Binatang : seperti kucing, burung dan lain-lain

- lnfeksi Virus.

- Bahan kimia tertentu seperti cat

- Makanan: seperti udang, telur, kepiting dan lain-lain.

2. Perangsangan Sekunder (Trigger) yaitu perangasangan yang secara sekunder dapat mencetus gejala Asthma setelah adanya Hyperaktivitas Bronkchus sebelumnya yang termasuk disini adalah:

- Tumbuh-tumbuhan : seperti tumbuhan atau bunga-bunga yang mengeluarkan bau-bau yang merangsang.

- Cuaca: seperti cuaca dingin atau panas.

- Obat-obatan : seperti yang umumnya obat-obatan anti histamin, akan merangsang timbulnya serangan Asthma.

- Latihan jasmani: seperti lari, renang

- lnfeksi bakteri.

- Jamur

3. Beberapa penyebab yang diduga oleh karena:

- Laki-aki lebih banyak terserang dari pada wanita kurang dari 40 tahun.

- Faktor Herediter dari orang tua yang menderita Ashtma jantung (Asthma cardiale)

- Sanitasi lingkungan

b. Gejala

Ada beberapa terjadinya Asthma yaitu:

- Mungkin timbul tanda -tanda atau peringatan misal menjadi tegangnya otot dada.

- Wheezing yang terdengar, expirasi sukar

- inspirasi tidak sukar.

- Dispnoe.

- Kecepatan perangsangan bertambah.

- Penurunan vital kapasity.

- Kegunaan berlebihan dari assesoris Muscle

- Batuk yang melelahkan dan tidak produktif kelelahan setelah kronik.

- Seringkali penderitanya kurus.

- Postur kurang baik, shoulder bundar, kepala condong kedepan hypertropy otot-otot assesoris.

c. Komplikasi

Serangan Asthma sering menyertai infeksi virus pernafasan atau infeksi bakteri dan dapat menjadi berat serta dapat juga disertai dengan demam apabila terdapat pada anak-anak. Dan bahkan akan kalau tidak segera ditangani maka akan berlanjut menjadi Bronchitis Kronis; Empysema; Cord Pulmunal; Atelektasis.

PROBLEM/HAMBATAN AKTIVITAS KEGIATAN SEHARI-HARI

Seseorang yang menderita penyakit ini tidak dapat meIakukan kegiatannya sehari -hari dengan optimal, ini dikarenakan dia baru membatasi setiap gerakannya Jangan sampai dia mengalami kelelahan yang dapat mengakibatkan kambuhnya penyakit serta dia harus menjaga dirinya dari segala macam bau-bau yang merangsang terhadap kambuhnya penyakit tersebut serta dia harus siap dan bugar dengan perubahan cuaca di sekitarnya.

1. Debu : Penderita Asthma akan terjadi serangan apabila terkena debu ataupun elergi terhaddp debu,

- Serbuk seperti tepung dan bedak.

- Bulu binatang : seperti kucing, burung dan lain — lain

- Infeksi Virus.

- Bahan kimia tertentu seperti cat

- Makanan: seperti udang, telur, kepiting dan lain — lain

2. Perangsangan Sekunder ( Trigger ) yaitu perangsangan yang secara sekunder dapat mencetus gejala Asthama setelah adanya Hiperaktivitas Bronchus sebelumnya yang termasuk disini adalah:

- Tumbuh — tumbuhan : seperti tumbuhan atau bunga — bunga yang mengeluarkan bau — bau yang merangsang

- Obat — obatan : seperti yang umumnya obat — obatan anti histamin, akan merangsang timbulnya serangan asthma.

- Latihan jasmani: seperti Iari, renang

- lnfeksi bakteri

- Jamur

3. Beberapa penyebab yang diduga oleh karena:

- Laki-aki lebih banyak terserang dari pada wanita kurang dari 40 tahun.

- Faktor Herediter dari orang tua yang menderita Ashtma jantung (Asthma cardiale)

- Sanitasi lingkungan

D. PEMERIKSAAN FISIK

a. lnspeksi

lnspeksi terbagi atas 2 ( dua) bagian yaitu:

- lnspeksi Dinamis

Dilakukan perubahan posisi kepada pasien secara berulang-ulang dari posisi berdiri ke duduk dan selanjutnya berbaring yang akan membuat pasien mendadak batuk dan sesak nafas bertambah dan disertai dengan bunyi, ini dilakukan 2 (dua) sampai 3 (tiga) kali dalam inspeksi dinamis juga akan didapatkan bahwa gerakan pasien dalam ekspirasi akan lebih sulit dilakukan dibandingkan saat inspirasi.

- lnspeksi Statis

Otot leher kelihatannya tegang terutama otot Stermocleudo Mastoideus dan Scaleni, bahu simetris pada saat protraksi shoulder, cuping hidung bergerak-gerak karena kesulitan saat respirasi, nafas pendek dan seakan tercekik karena terjadi obstruksi jalan nafas, pasien nampak berkeringat, bentuk thorax tidak normal, torjadi barrel chest (dada burung) hal ini karena otot-otot expirasi mengalami peningkatan tonus, dan ujung jari biru (Sianosis) karena sirkulasi darah ke distal terganggu.

b. Palpasi: ROM, MT

- Posisi Trachea dapat diraba dengan jari telunjuk dengan menekan ke samping pada bagian medial dari M. Sternocleidomastoideus rasakan cartilago trachea bandingkan antara yang kiri dan yang kanan pada penderita asthma normal.

Kelenjar linfe ini bertujuan untuk mengetahui adanya radang atau infeksi atau malignensi, pada penderita asthma tidak didapatkan posisi apex normal, dapat diraba dengan satu jari di bawah mammac.

- Tonus otot meningkat khususnya pada leher, spasme dan nyeri tekan dapat diketahui dengan mempalpasi otot sternocleidomastoideus dan M. Scaleni.

- Tonus otot expirasi menurun terutama otot intercostalis internus yang dapat di palpasi pada intercosta.

E. AUSKULTASI

Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan dengan menggunakan pendengaran, baik dengan menggunakan stetoskop ataupun langsung pada saat pasien inspirasi dan expirasi. Pada pemeriksaan ini terdengar bunyi Wheezing karena obstruksi (penyempitan) jalan nafas atau dapat didengar bunyi ronchi yang menandakan adanya peningkatan sputum.

F. TUJUAN AKS

Agar Pasien lebih bebas melakukan kegiatan tanpa di baying-bayangi oleh penyakit yang di derita, serta pasien tidak perlu membatasi samua aktifitasnya.

G. AKTIFITAS YANG DIBERIKAN

Aktifitas yang akan diberikan pada pasien Asthma yaitu melakukan olah raga dengan teratur, pola makan yang baik, Breathing exercise ( Latihan pernafasan diafragma, latihan pernafasan perut, latihan pernafasan dengan spirometer, berenang, meniup balon, lilin, suling dan Harmonika.

H. PELAKSANAAN PEMBERIAN AKTIFITAS

Pelaksanaan dari pada aktifitas di atas yaitu:

1. Melakukan olahraga teratur, misalnya olah raga jalan santai ini dilakukan kira-kira selama 1 jam.

2. Makanan yang baik, yaitu makanan yang tidak mengandung bahan-bahan yang dapat merangsang timbulnya penyakit tersebut.

3. Breathing Exercise (salah satunya adalah latihan pernafasan diafragma) Posisi pasien tidur terIentang dengan sebuah bantal di kepala dan dibawah lutut kepala pasien dimiringkan sedikit. Posisi Fisioterapi: Fisioterapi meletakkan satu tangan pada diafragma.

Teknik Aplikasinya:  Pasien disuruh menghirup udara melalui hidung kembungkan perutnya kemudian tahan, selanjutnya pasien disuruh mengeluarkan nafas melalui mulut secara pelan-pelan dan sampai dengan akhir expirasi pasien, Fisioterapi memberikan penekanan. ini dilakukan 5 -10 kali pengulangan.

4. Berenang. ini dilakukan pada saat suhu air tidak terlalu dingin atau terlalu panas dan dilakukan selama ± 1 jam.

5. Meniup balon, liin, suling dan harmonika, ini dilakukan tiap ± 15 menit

6. Latihan pernafasan dengan Spirometer.

Cara: Pasien duduk di kursi dengan rileks, pasien diminta menghirup udara sebanyak -banyaknya. Kemudian, meniupkan secara cepat dan kuat ke Spirometer sebagai motivasi di usahakan agar pasien sedapat mungkin mengubah alat petunjuk angka terakhir yang di tunjukkan.

I. KEAMANAN YANG HARUS DIPERHATIKAN PADA PASIEN

Adapun beberapa usaha yang dapat ditempuh untuk mencegah serangan Asthma, diantaranya.

- Menghindari semua faktor yang bisa menyebabkan serangan asthma

- Menghindari ruangan, tempat tidur atau tempat yang sedang dibersihkan, kalau terpaksa usahakan menggunakan masker.

- Tidak memelihara binatang, seperti : kucing, anjing, burung dan sebagainya.

- Hindari tempat yang lembab dan pengap

- Hindari asap dan bau yang merangsang misalnya dari rokok, parfum, obat nyamuk dan lain-lain.

J. EVALUASI HASIL

Sesaat

Melihat dan menilai pola pernafasan, postur, sputum setelah melakukan latihan apakah terjadi perubahan atau tidak.

Berkala

Setelah dilakukan beberapa kali terapi diharapkan problematik Fisioterapi berkurang atau hilang sama sekali.

K. PEMBERIAN ALAT BANTU SESUAI JENIS PENYAKIT

1. Spirometer yaitu untuk mengatur kapasitas paru.

2. IPPB (Intermintaan Presue Purseli Breathing) diberikan pada kondisi yang kronik, yang berfungsi untuk melancarkan pernafasan, melonggarkan jalan nafas dan melancarkan sekresi.

L. SARAN-SARAN

- Sebaiknya penderita berusaha untuk menghindari, faktor-faktor yang dapat menimbulkan kambuhnya suatu penyakit ( Faktor Elergen).

- Sebaiknya penderita mengatur pola makanan dan olahraga yang akan dilakukan.

Pemeriksaan Panggul dan Sekitarnya

Pemeriksaan Panggul dan SekitarnyaSecara klinis fisioterapi adalah suatu proses yang berdasarkan pendekaan ilmiah untuk mengatasi problematik terhadap gangguan fungsi dan gerak. Tindakan hanyalah bagian dari proses itu yang penentuan dan pelaksanaanya merupakan “hak prerogativ fisioterapis”. Kaitannya dengan pemeriksaani fisioterapi pada daerah panggul, maka kita mengawali pemeniksaan dari lumbal kemudian SIJ dan berakhir di sendi panggul (Hip).

SISTEM PEMERIKSAAN

1. Pola dasar pemeriksaan fisioterapi

A. Anamnesis

B. lnspeksi

C.. Pemeriksaan fungsi Continue reading

Manual Terapi Regio Shoulder

1. Sendi Bahu: Caput humeri. Traksi – latero-ventro-cranial.

Pasien :Terlentang.
Terapis : Berdiri di sisi bagian yang diterapi
Fiksasi : Scapula difiksasi oleh berat tubuh pasien (ditiduri). Apabila memungkinkan dapat diflksasi menggunakan sabuk.
Pelaksanaan : Kedua tangan terapis memegang humerus sedekat mungkin dengan sendi, kemudian melakukan traksi ke arah Latero-ventro-cranial. Lengan bawah pasièn rileks disangga lengan bawah terapis.Lengan bawah terapis yang berlainan sisi mengarahkan gerakan.
Indikasi : Mobilisasi tidak langsung – non spesifik. Continue reading

Penyebab Penyakit Bronkiektasis

Penyebab Penyakit BronkiektasisAcquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan penyebab utama bronkiektasis. Ada baik bawaan dan diakuisisi penyebab bronkiektasis. Kartagener sindrom, yang mempengaruhi mobilitas silia di paru-paru,  membantu dalam perkembangan penyakit ini. Penyebab lain genetik umum adalah cystic fibrosis, di mana sejumlah kecil pasien bronkiektasis lokal mengembangkan parah . sindrom Young, yang secara klinis mirip dengan fibrosis kistik, diperkirakan memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan bronkiektasis. Hal ini disebabkan terjadinya kronis, infeksi sinopulmonary  Pasien. Dengan defisiensi alfa 1-antitrypsin telah ditemukan untuk menjadi sangat rentan terhadap bronkiektasis, untuk alasan yang tidak diketahui.  Lainnya kongenital menyebabkan kurang umum termasuk immunodeficiencies utama, karena terhadap respon sistem kekebalan tubuh melemah atau tidak ada sampai parah, infeksi berulang yang biasanya mempengaruhi paru-paru. Continue reading

Cara Hidup Sehat Pada Lansia

Usia lanjut adalah suatu kejadian yang pasti akan dialami oleh semua orang yang dikaruniai usia panjang, terjadinya tidak bisa dihindari oleh siapapun. Pada usia lanjut akan terjadi berbagai kemunduran pada organ tubuh. Namun tidak perlu berkecil hati, harus selalu optimis, ceria dan berusaha agar selalu tetap sehat di usia lanjut. Jadi walaupunb usia sudah lanjut, harus tetap menjaga kesehatan. Continue reading

Terapi Kognitif

Terapi kognitif berfokus pada masalah, orientasi pada tujuan, kondisi dan waktu saat itu. Terapi ini memandang individu sebagai pembuat keputusan. Terapi kognitif telah menunjukkan kefektifan penanganan dalam masalah klinik misalnya cemas, schizophrenic, substance abuse, gangguan kepribadian, gangguan mood. Dalam prakteknya, terapi ini dapat diaplikasikan dalam pendidikan, tempat kerja dan seting lainnya. Continue reading

Interaksi Pil KB dengan Obat Lain

Pil KB tidak berpengaruh terhadap obat lain, tetapi obat lain (terutama obat tidur dan antibiotik) bisa menyebabkan berkurangnya efektivitas dari pil KB.

Wanita pemakai pil KB bisa hamil jika secara terus menerus mengkonsumsi antibiotik (misalnya rifampin, penisilin, ampisilin, tetrasiklin atau golongan sulfa). Ketika mengkonsumsi antibiotik tersebut, selain pil KB sebaiknya ditambah dengan menggunaka kontrasepsi penghalang (misalnya kondom atau diafragma). Continue reading

Terapi Komplementer

Terapi KomplementerOrang-orang zaman dahulu atau nenek moyang kita biasa memakai terapi komplementer atau lebih ke tradisional. Karena mereka menganggap bahwa terapi komplementer tanpa bahan kimia dan baik untuk kesehatan. Tetapi zaman telah berkembang terapi komplementer dapat menyebabkan efek samping yang berbahaya. Kata-kata “alami” atau “bukan bahan kimia” tidak menjamin keamanan. Beberapa jenis jamu dapat menurunkan kadar darah ARV. Konsumen harus berhati-hati dalam menggunakan terapi komplementer. Continue reading