Search Results for: otot pada extremitas inferior

Stretching Otot Hamstring

Stretching otot hamstring

Stretching otot hamstringOtot hamstring merupakan suatu group otot pada sendi pada(hip joint) yang terletak pada sisi belakang paha yang berfungsi sebagai gerakan fleksi lutut, ekstensi hip, serta gerakan eksternal dan internal rotasi hip. Group otot ini terdiri atas M. Semimembranosus, M. Semitendinosus, dan M. Biceps Femoris. Otot hamstring merupakan jenis otot tipe I atau tonik, dimana bila terjadi suatu patologi maka otot tersebut akan mengalami penegangan dan pemendekan atau kontraktur. Panjang otot hamstring berkaitan erat dengan fleksibilitas otot, dimana bila suatu otot mengalami pemendekan maka fleksibilitas otot tersebut juga akan menurun.

Fleksibilitas merupakan kemampuan otot untuk memanjang/mengulur semaksimal mungkin sehingga tubuh dapat bergerak dengan ROM yang maksimal tanpa disertai dengan rasa tidak nyaman/nyeri. Fleksibilitas merupakan factor penting untuk melakukan suatu gerakan baik dalam berolahraga ataupun aktivitas fisik lainnya. Akan tetapi, pekerjaan yang berat atau latihan fisik yang keras, koordinasi gerakan yang buruk, postur yang jelek, kurang aktivitas/gerak, gerakan yang monoton dan atau gerakan satu arah, cedera dan nyeri dapat membuat otot mengalami pemendekan, stiffness dan tightness.

Setiap individu dengan fleksibilitas yang baik pada shouldernya, belum tentu memiliki fleksibilitas yang baik pula pada lower back ataupun otot hamstringnya. Ketika otot bekerja secara intensif, respon otot lebih cepat untuk mengalami pemendekan. Jika otot tersebut tidak segera di stretch setelah bekerja, otot tersebut akan tetap memendek, tightness dan membuat otot pada sendi sisi yang berlawanan bekerja lebih keras. Hal ini akan membuat otot yang bekerja lebih sedikit menjadi lemah. Jika otot yang memendek tetap dibiarkan, pola jalan seseorang akan ikut berubah. Ini berarti gerakan pada sendi akan terganggu/terbatas, dan pembuluh darah terjepit-sirkulasi terganggu. Cepat atau lambat akan muncul berbagai gejala sebagai akibat dari tightness otot tersebut seperti: kaku jika kita duduk dalam waktu yang lama dan merasa ingin berdiri lalu bergerak, letih dan sakit saat bergerak atau saat istirahat, serta kram.

 Adanya pemendekan pada otot-otot tubuh, terutama otot hamstring, banyak didapati pada masyarakat tanpa disadari. Akan tetapi, cepat atau lambat akibatnya akan dirasakan antara lain nyeri pada area hip, dan nyeri samar pada daerah paha, perut dan pinggang, menjalar turun ke bagian depan atau belakang dari tungkai atas dan bawah. Otot yang mengalami pemendekan harus di stretch ke ukuran panjang otot yang normal dan mengembalikan fleksibilitasnya. Untuk mengatasi masalah pemendekan dan gangguan fleksibilitas yang terjadi serta meningkatkan kerja otot hamstring secara optimal, maka dibutuhkan suatu terapi/latihan yang bersifat mengulur jaringan/otot yang mengalami kontraktur/pemendekan serta mengembalikan fleksibilitas otot tersebut yang dikenal dengan istilah stretching.

Sebenarnya stretching merupakan suatu bentuk terapi yang ditujukan untuk memanjangkan otot yang mengalami pemendekan atau menurunnya elastisitas dan fleksibilitas otot baik karena faktor patologis(trauma, infeksi, dsb) maupun yang bersifat fisiologis, yang menghambat lingkup gerak sendi normal yakni berupa kontraktur, perlekatan, pembentukan jaringan parut yang mengarah pada pemendekan otot, jaringan konektif dan kulit serta mobilitas jaringan lunak di sekitar sendi. Banyak metode ataupun teknik yang dapat digunakan dalam melakukan stretching, diantaranya auto stretching dan contract relax stretching.

Auto stretching adalah suatu metode penguluran/stretching yang biasa dilakukan pada otot-otot postural sebagai suatu latihan fleksibilitas yang dilakukan secara aktif oleh klien/pasien. Active stretching meningkatkan fleksibilitas secara aktif dan menguatkan otot agonis. Alasan penerapan teknik ini adalah bahwa kontraksi isotonik yang dilakukan saat auto stretching dari otot yang mengalami pemendekan akan menghasilkan otot memanjang secara maksimal tanpa perlawanan. Pemberian auto stretching yang dilakukan secara perlahan juga akan menghasilkan peregangan pada sarkomer sehingga peregangan akan mengembalikan elastisitas sarkomer  yang terganggu. Pada saat melakukan auto stretching, otot antagonis(group otot pada sisi yang tidak di-stretch) dan otot agonis(otot yang akan di-stretch) keduanya relax. Secara perlahan dan lembut, gerakan tubuh meningkatkan tekanan pada group otot yang akan di-stretch. Tekanan pada otot agonis saat peregangan secara aktif akan membuat otot mudah terulur, dimana muscle spindle tidak terstimulasi optimal dan stimulasi optimal terjadi pada golgi tendon, sehingga akan diperoleh suatu penguluran yang berarti. Prinsip utama dari auto stretching membantu pasien bergerak lebih mudah dan lebih baik sehingga tidak akan terjadi kerobekan pada otot jika stretching dilakukan dengan perlahan dan lembut.

Contract relax stretching merupakan salah satu teknik dalam proprioceptive neuromuscular fascilitation (PNF) yang melibatkan kontraksi isometric dari otot yang mengalami spasme/ketegangan yang diikuti fase relaksasi kemudian diberikan stretching secara pasif dari otot yang mengalami ketegangan tersebut. Biasanya contract relax stretching ditujukan pada otot-otot mobilitas. Alasan penerapan teknik ini adalah bahwa kontraksi isometrik yang diberikan sebelum stretching dari otot yang mengalami ketegangan akan menghasilkan rileksasi sebagai hasil dari autogenic inhibition. Pada contract relax stretching, ketika otot berkontraksi mencapai initial stretch, maka kebalikannya stretch reflex membuat otot tersebut menjadi relaksasi(reverse innervation), dimana relaksasi ini membantu menurunkan berbagai tekanan dan siap untuk melakukan peregangan selanjutnya.

Dengan menggunakan metode auto stretching untuk menambah panjang otot hamstring diharapkan terjadinya pemanjangan otot hamstring yang lebih maksimal dibandingkan dengan contract relax stretching.

Stretching M. Hamstring

Streching M. HamstringOtot hamstring merupakan suatu group otot pada sendi pada(hip joint) yang terletak pada sisi belakang paha yang berfungsi sebagai gerakan fleksi lutut, ekstensi hip, serta gerakan eksternal dan internal rotasi hip. Group otot ini terdiri atas M. Semimembranosus, M. Semitendinosus, dan M. Biceps Femoris. Otot hamstring merupakan jenis otot tipe I atau tonik, dimana bila terjadi suatu patologi maka otot tersebut akan mengalami penegangan dan pemendekan atau kontraktur. Panjang otot hamstring berkaitan erat dengan fleksibilitas otot, dimana bila suatu otot mengalami pemendekan maka fleksibilitas otot tersebut juga akan menurun. Continue reading

Isometric Exercise – Kerja Otot Statik

Isometric Exercise

Isometric ExerciseLatihan isometrik merupakan bagian pertama dari pengobatan fisioterapi setelah injury atletik atau cidera olahraga, seperti sprain, kontusio, dislokasi, kerobekan tendon, osteosynthesis, atau fraktur yang diobati secara konservatif.

Latihan yang menyebabkan kontraksi otot secara individual atau group/kelompok tetapi tidak terjadi gerakan pada sendi dinamakan dengan latihan isometrik. Tidak ada kerja yang dihasilkan pada tipe kerja otot ini. Dalam rumus, kerja = gaya x jarak, dan latihan isometrik tidak menghasilkan komponen jarak. Meskipun demikian, derajat ketegangan yang dicapai adalah tinggi. Kerja otot statik ini bisa terasa sangat berat dan lelah. Kelelahan yang relatif cepat dari kerja otot statik dapat disebabkan adanya kompresi (penekanan) pada kapiler darah selama kontraksi otot, sehingga mencegah suplai oksigen yang cukup dan pelepasan sisa-sisa metabolisme. Kerja tersebut harus diselesaikan secara anaerobik. Continue reading

Pengertian Distribusi Epidemiologi

A. PENGERTIAN EPIDEMIOLOGI
1. Pengertian Epidemiologi Menurut Asal Kata
Jika ditinjau dari asal kata Epidemiologi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari 3 kata dasar yaitu EPI yang berarti pada atau tentang, demos yang berati penduduk dan kata terakhir adalalah logos yang berarti ilmu pengetahuan. Jadi epidemilogi adalah ilmu yang mempelajari tentang penduduk.
Sedangkan dalam pengertian modern pada saat ini EPIDEMIOLOGI adalah :
“Ilmu yang mempelajari tentang Frekuensi dan Distribusi (Penyebaran) serta Determinat masalah kesehatan pada sekelompok orang/masyarakat serta Determinannya (Faktor – factor yang Mempengaruhinya). Continue reading

Shoulder Kompleks

Shoulder KompleksShoulder complex merupakan sendi yang paling kompleks pada tubuh manusia. Dibentuk oleh tulang-tulang scapula, clavicula, sternum dan humerus. Dari keempat tulang ini membentuk  sendi-sendi: glenohumeralis, acromioclavicularis, sternoclavicularis dan scapulothoracic. Sendi-sendi ini bergerak bersama-sama saling mempengaruhi dan menjadi gerak sendi yang kompleks.

“Range of motion” dari shoulder kompleks yaitu:

-         Gerak fleksi dapat mencapai 180˚ dan dapat berkurang dengan bertambahnya umur (Murray et al, 1985), sedang ekstensi bisa sampai 60˚.

-         Geraka abduksi juga mencapai 180˚ (AAOS, 1965) maksimal abduksi terjadi pada “scapularpalne” (diantara bidang gerak fleksi dan abduksi). Sedang gerak adduksi dapat mencapai 75˚ di depan tubuh.

-         Gerak rotasi bervariasi, tergantung posisi fleksi shoulder dan total ROM external dan internal rotasi dapat mencapai 180˚.

Gerakan  shoulder kompleks (shoulder girdle) saling mempengaruhi , dengan pengertian apabila salah satu mengalami gangguan gerak  (terbatas) maka dapat dilakukan aktifitas fungsional dengan cara kompensasi dan gerak sendi yang lain. Continue reading

Sprain Ankle

Sprain AnkleSprain ankle adalah kondisi terjadinya penguluran dan kerobekan pada ligamentum lateral compleks. Hal ini disebabkan oleh adanya gaya inversi dan plantar fleksi yang tiba-tiba saat kaki tidak menumpu sempurna pada lantai/ tanah, dimana umumnya terjad pada permukaan lantai/ tanah yang tidak rata. Sprain ankle memiliki derajat sprain sesuai tingkat kerusakannya. Derajat I sprain ankle umumnya terjadi penguluran pada ligamentum talofibular anterior sehingga pasien mengalami nyeri yang ringan dan sedikit bengkak. Sedangkan derajat II dan III sprain ankle, kerobekan parsial dan komplet telah terjadi pada ligamentum lateral compleks ankle (ligamentum talofibular anterior, ligamentum calcaneofibular, ligamentum calcaneocuboideum, ligamentum talocalcaneus dan ligamentum talofibular posterior). Pada derajat II dan III, pasien mengalami nyeri hebat (aktualitas tinggi), bengkak dan penurunan fungsi ankle (gangguan berjalan), sehingga umumnya pasien langsung berobat ke dokter/ fisioterapi untuk mendapatkan terapi. Terapi PRICE sering digunakan pada tahap akut sprain ankle, yang kemudian diikuti dengan program exercise untuk memperkuat stabilitas sendi ankle. Continue reading

Definisi Fisik dari Performa Otot

Gaya hanya di hasilkan oleh otot  gaya output yang dihasilkan oleh otot di sebut strength (kekuatan). Strength adalah gaya yang menghasilkan ketegangan maksimal dalam kontraksi otot sehingga menghasilkan kerja. Power adalah strength x waktu atau level kerja yang dilakukan, atau gaya output dari otot pada kecepatan kontraksi tertentu. Endurance adalah kemampuan kontraksi otot dalam interval waktu tertentu. Continue reading

Osteoartritis dan Penyebabnya

Definisi

Osteoartritis adalah penyakit peradangan sendi yang sering muncul pada usia lanjut. Jarang dijumpai pada usia dibawah 40 tahun dan lebih sering dijumpai pada usia diatas 60 tahun.

Etiologi

Penyebab dari osteoartritis hingga saat ini masih belum terungkap, namun beberapa faktor resiko untuk timbulnya osteoartritis antara lain adalah : Continue reading

Kekuatan dalam Bermain Basket

Kekuatan dalam Bermain Basket

Kekuatan dalam Bermain BasketKekuatan (Strength)
M. Sajoto (1983 : 16) menggemukan bahwa faktor-faktor penentu prestasi olahraga diklasifikasikan ke dalan 4 aspek, yaitu aspek biologis, aspek psikologis, aspek lingkungan dan aspek penunjang. Dari ke 4 aspek yang dikaji adalah aspek biologis, salah satunya adalah fisik terutama kekuatan otot tungkai.
Kekuatan adalah kemampuan otot-otot atau sekelompok otot untuk mengatasi suatu beban atau tahanan dalam menjalankan aktivitas (Soedarminto, 1992 ). Kekuatan otot adalah salah satu komponen kondisi fisik yang sangat penting untuk peningkatan kondisi fisik secara keseluruhan. 1) Kekuatan adalah daya penggerak setiap aktivitas fisik. 2) Kekuatan adalah peran yang penting dalam rangka terhindarnya cedera. 3) Dengan kekuatan dapat digunakan untuk berlari, lempar, pukulan, tolakan dan untuk stabilitas sendi-sendi (Harsono, 1988 : 77). Kekuatan otot adalah kemampuan otot atau sekelompok otot untuk melakukan kerja dengan menahan beban yang diangkat (M. Sajoto, 1983 : 16). Lebih lanjut dikatakan kekuatan atau strength adalah kemampuan fisik yang mengangkat masalah kemampuan seorang atlet pada saat dalam waktu kerja tertentu (M. Sajoto, 1983 : 17). Kekuatan otot adalah kekuatan yang digunakan oleh sekelompok otot tubuh dalam satu kontraksi maksimal (Harsono, 1988 : 176). Strength adalah kemampuan otot tubuh untuk membangkitkan tegangan terhadap suatu tahanan (Harsono, 1988 : 176

Anatomi Tungkai
Tungkai atas, yaitu dari pangkal paha sampai lutut, dalam istilah anatomi disebut femur. Tungkai bawah yaitu dari lutut sampai pergelangan kaki, dalam istilah anatomi disebut leg. Tungkai bawah ini terdiri dari dua tulang, yakni os tibia dan os fibula. Os tibia atau tulang kering kerangka yang utama dari tulang bawah dan berupa tulang pipa. Sedang os fibula atau tulang betis letaknya sebelah lateral tungkai bawah, berupa tulang pipa. Tempurung lutut terdapat diantara tungkai atas dan tungkai bawah.
Telapak kaki terdiri dari tarsalia, metatarsalia dan falanx. Tulang tarsalia mendukung beban berat saat berdiri dan berjumlah tujuh buah, yang secara kolektif dinamakan tarsus. Tulang-tulang metatarsalia hanya berjumlah lima buah dan berupa tulang pipa. Secara keseluruhan tulang-tulang tersebut berjumlah 31 buah yaitu :
1 Os koxa : tulang paha
1 Os femur : tulang paha
1 Os tibia : tulang kering
1 Os fibula : tulang betis
1 Os patella : tempurung lutut
7 Os tarsalia : tulang pangkal kaki
5 Os metatarsalia ; tulang telapak kaki
14 falanx : ruas jari-jari (PASI, 1995 : 4)

Otot-otot Tungkai
Pada umumnya otot dibagi menjadi 3 jenis yaitu : otot polos, jantung dan otot kerangka. Otot polos tidak mempunyai garis-garis melintang, sedang otot jantung dan otot kerangka mempunyai garis-garis melintang. Otot polos dan otot jantung dalam kontraksinya secara ritmik tanpa adanya persyarafan dari luar, disebabkan adanya sel-sel pengatur langkah “pacemaker” yang menimbulkan impuls secara spontan. Otot kerangka dalam kontraksinya karena adanya rangsangan saraf sebagai impuls menuju otot saraf motorik.
Otot akan menarik jika menerima rangsangan saraf dari pusat saraf atau otak memberitahukan untuk melakukan tarikan. Isyarat-isyarat ini dibawa oleh saraf yang terdiri dari sel-sel saraf yang khusus. Proses kontraksi yang kenyataannya dari suatu serabut otot dimulai pada saat serabut menerima impuls saraf elektris yang dihantar sel-sel saraf. Selain rangka tulang yang membentuk rangka tungkai, tungkai yang dibentuk oleh beberapa jaringan. Sebagian jaringan yang membentuk tungkai manusia adalah otot.
Dalam kontraksi otot sedirian, tetapi merupakan kelompok. Gerakan apapun yang diberikan merupakan hasil koordinasi gerakkan beberapa otot. Demikian halnya pada otot tungkai yang dalam melakukan kontrasi selalu dengan koordinasi antara otot satu dengan otot yang lain (Pearce Evelyn, 1986 : 21).

Kekuatan Otot Tungkai
Menurut M. Sajoto (1983 : 70) tubuh manusia terdiri dari banyak sekali jaringan otot masing-masing mempunyai fungsi tertentu dalam kehidupan sehari-hari. Jaringan otot keseluruhan merupakan satu kesatuan yang cukup besar dan membentuk berat badan manusia.
James A. Baley (1986 : 16) menyebutkan ada 656 otot dan tulang dalam tubuh manusia, dan masing-masing mempunyai fungsi tertentu. Sedangkan Soekarman (1997 : 30) menerangkan bahwa untuk mencapai suatu prestasi dalam bidang olahraga disamping latihan rutin juga harus dipenuhi faktor-faktor lainnya. Faktor lain itu antara lain : Keadaan (somatic), umur, psikis, bentuk tubuh / hibitus
mempunyai arti yang besar dan dapat menimbulkan prestasi seseorang. Dengan memperhatikan hal tersebut diatas, seseorang yang ingin memperoleh prestasi optimal harus pula unsur-unsur genetis (faktor antropometri).

AFR Pada Penderita Asma

AFR Pada Penderita Asma

AFR Pada Penderita AsmaA. PENGERTIAN

Asthma berasal dari Bahasa Yunani, yang artinya Terengah = Bernafas Pendek. Asthma juga merupakan penyakit Obstruktif paru yang sering terjadi pada usia muda yang khas dari penyakit ini adalah serangan terjadi secara tiba-tiba, kadang-kadang beberapa hari ataupun beberapa minggu tergantung penyebabnya menurut The American Society (1962), menyatakan; Asthma Bronhide ialah suatu penyakit yang ditandai oleh peningkatan respon saluran nafas terhadap ransang. dengan Manivestasi penyempitan saluran nafas yang derajatnya berubah-ubah dan dapat sembuh secara cepat atau dengan pengobatan.

Suatu serangan disebabkan karena sensifititas dari otot poIos saluran nafas terhadap beberapa bagian ransangan. Awalnya, bisa terjadi secara perlahan-lahan atau mendadak dan kadang serangan dapat berlangsung selama beberapa hari atau beberapa minggu yang keadaan ini disebut Status Asthmaticus. Asthma juga merupakan penyebab utama penyakit Kronik pada anak-anak sebelum pubertas, sekitar 2 (dua) kali lebih banyak dan memiliki perbandingan yang sama antara Laki-laki dan perempuan. Pada umumnya pasien yang menderita Asthma adalah terjadinya kesulitan dari respirasi khususnya ekspirasi.

B. PERUBAHAN PATOLOGI

Pada waktu serangan:

1. Bronkospasme

2. Edema Mukosa

3. Sekresi kental membentuk gumpalan dalam bronhioli medium / kecil.

Bila suatu serangan ringan meredah, dada kembali normal bila muku yang kental di ekspektorasikan (dikeluarkan).

Setelah Suatu serangan berat

1. Kolaps Absorpsi.

2. Serangan yang berulang-ulang dan berlarut-larut.

3. Hipertropi selaput lendir.

4. Penebalan semua lapisan bronchi kecil.

Asthma yang berlangsung lama dan sangat parah dapat menyebabkan Empisema.

Innamasi lapisan mukus pada Tracheobrochial dan Hypersekresi Mukosa, dimana biasanya bergetah dan ada obstruksi karena adanya peningkatan jumlah dan ukuran sel-sel goblek.

a. Penyebab

Ada beberapa penyebab terjadinya Asthma yaitu:

1. Perangsangan Primer (Inadcer), yaitu rangsangan yang secara primer dengan atau  tanpa faktor predisposisi dapat menimbulkan gejala Asthma atau selanjutnya menginduksi terjadinya Hyperaktivitas Bronkchus sebelumnya yang termasuk disini adalah:

- Debu : Penderita Asthma akan terjadi serangan apabila terkena debu ataupun alergi terhadap debu.

- Serbuk: seperti tepung dan bedak.

- Bulu Binatang : seperti kucing, burung dan lain-lain

- lnfeksi Virus.

- Bahan kimia tertentu seperti cat

- Makanan: seperti udang, telur, kepiting dan lain-lain.

2. Perangsangan Sekunder (Trigger) yaitu perangasangan yang secara sekunder dapat mencetus gejala Asthma setelah adanya Hyperaktivitas Bronkchus sebelumnya yang termasuk disini adalah:

- Tumbuh-tumbuhan : seperti tumbuhan atau bunga-bunga yang mengeluarkan bau-bau yang merangsang.

- Cuaca: seperti cuaca dingin atau panas.

- Obat-obatan : seperti yang umumnya obat-obatan anti histamin, akan merangsang timbulnya serangan Asthma.

- Latihan jasmani: seperti lari, renang

- lnfeksi bakteri.

- Jamur

3. Beberapa penyebab yang diduga oleh karena:

- Laki-aki lebih banyak terserang dari pada wanita kurang dari 40 tahun.

- Faktor Herediter dari orang tua yang menderita Ashtma jantung (Asthma cardiale)

- Sanitasi lingkungan

b. Gejala

Ada beberapa terjadinya Asthma yaitu:

- Mungkin timbul tanda -tanda atau peringatan misal menjadi tegangnya otot dada.

- Wheezing yang terdengar, expirasi sukar

- inspirasi tidak sukar.

- Dispnoe.

- Kecepatan perangsangan bertambah.

- Penurunan vital kapasity.

- Kegunaan berlebihan dari assesoris Muscle

- Batuk yang melelahkan dan tidak produktif kelelahan setelah kronik.

- Seringkali penderitanya kurus.

- Postur kurang baik, shoulder bundar, kepala condong kedepan hypertropy otot-otot assesoris.

c. Komplikasi

Serangan Asthma sering menyertai infeksi virus pernafasan atau infeksi bakteri dan dapat menjadi berat serta dapat juga disertai dengan demam apabila terdapat pada anak-anak. Dan bahkan akan kalau tidak segera ditangani maka akan berlanjut menjadi Bronchitis Kronis; Empysema; Cord Pulmunal; Atelektasis.

PROBLEM/HAMBATAN AKTIVITAS KEGIATAN SEHARI-HARI

Seseorang yang menderita penyakit ini tidak dapat meIakukan kegiatannya sehari -hari dengan optimal, ini dikarenakan dia baru membatasi setiap gerakannya Jangan sampai dia mengalami kelelahan yang dapat mengakibatkan kambuhnya penyakit serta dia harus menjaga dirinya dari segala macam bau-bau yang merangsang terhadap kambuhnya penyakit tersebut serta dia harus siap dan bugar dengan perubahan cuaca di sekitarnya.

1. Debu : Penderita Asthma akan terjadi serangan apabila terkena debu ataupun elergi terhaddp debu,

- Serbuk seperti tepung dan bedak.

- Bulu binatang : seperti kucing, burung dan lain — lain

- Infeksi Virus.

- Bahan kimia tertentu seperti cat

- Makanan: seperti udang, telur, kepiting dan lain — lain

2. Perangsangan Sekunder ( Trigger ) yaitu perangsangan yang secara sekunder dapat mencetus gejala Asthama setelah adanya Hiperaktivitas Bronchus sebelumnya yang termasuk disini adalah:

- Tumbuh — tumbuhan : seperti tumbuhan atau bunga — bunga yang mengeluarkan bau — bau yang merangsang

- Obat — obatan : seperti yang umumnya obat — obatan anti histamin, akan merangsang timbulnya serangan asthma.

- Latihan jasmani: seperti Iari, renang

- lnfeksi bakteri

- Jamur

3. Beberapa penyebab yang diduga oleh karena:

- Laki-aki lebih banyak terserang dari pada wanita kurang dari 40 tahun.

- Faktor Herediter dari orang tua yang menderita Ashtma jantung (Asthma cardiale)

- Sanitasi lingkungan

D. PEMERIKSAAN FISIK

a. lnspeksi

lnspeksi terbagi atas 2 ( dua) bagian yaitu:

- lnspeksi Dinamis

Dilakukan perubahan posisi kepada pasien secara berulang-ulang dari posisi berdiri ke duduk dan selanjutnya berbaring yang akan membuat pasien mendadak batuk dan sesak nafas bertambah dan disertai dengan bunyi, ini dilakukan 2 (dua) sampai 3 (tiga) kali dalam inspeksi dinamis juga akan didapatkan bahwa gerakan pasien dalam ekspirasi akan lebih sulit dilakukan dibandingkan saat inspirasi.

- lnspeksi Statis

Otot leher kelihatannya tegang terutama otot Stermocleudo Mastoideus dan Scaleni, bahu simetris pada saat protraksi shoulder, cuping hidung bergerak-gerak karena kesulitan saat respirasi, nafas pendek dan seakan tercekik karena terjadi obstruksi jalan nafas, pasien nampak berkeringat, bentuk thorax tidak normal, torjadi barrel chest (dada burung) hal ini karena otot-otot expirasi mengalami peningkatan tonus, dan ujung jari biru (Sianosis) karena sirkulasi darah ke distal terganggu.

b. Palpasi: ROM, MT

- Posisi Trachea dapat diraba dengan jari telunjuk dengan menekan ke samping pada bagian medial dari M. Sternocleidomastoideus rasakan cartilago trachea bandingkan antara yang kiri dan yang kanan pada penderita asthma normal.

Kelenjar linfe ini bertujuan untuk mengetahui adanya radang atau infeksi atau malignensi, pada penderita asthma tidak didapatkan posisi apex normal, dapat diraba dengan satu jari di bawah mammac.

- Tonus otot meningkat khususnya pada leher, spasme dan nyeri tekan dapat diketahui dengan mempalpasi otot sternocleidomastoideus dan M. Scaleni.

- Tonus otot expirasi menurun terutama otot intercostalis internus yang dapat di palpasi pada intercosta.

E. AUSKULTASI

Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan dengan menggunakan pendengaran, baik dengan menggunakan stetoskop ataupun langsung pada saat pasien inspirasi dan expirasi. Pada pemeriksaan ini terdengar bunyi Wheezing karena obstruksi (penyempitan) jalan nafas atau dapat didengar bunyi ronchi yang menandakan adanya peningkatan sputum.

F. TUJUAN AKS

Agar Pasien lebih bebas melakukan kegiatan tanpa di baying-bayangi oleh penyakit yang di derita, serta pasien tidak perlu membatasi samua aktifitasnya.

G. AKTIFITAS YANG DIBERIKAN

Aktifitas yang akan diberikan pada pasien Asthma yaitu melakukan olah raga dengan teratur, pola makan yang baik, Breathing exercise ( Latihan pernafasan diafragma, latihan pernafasan perut, latihan pernafasan dengan spirometer, berenang, meniup balon, lilin, suling dan Harmonika.

H. PELAKSANAAN PEMBERIAN AKTIFITAS

Pelaksanaan dari pada aktifitas di atas yaitu:

1. Melakukan olahraga teratur, misalnya olah raga jalan santai ini dilakukan kira-kira selama 1 jam.

2. Makanan yang baik, yaitu makanan yang tidak mengandung bahan-bahan yang dapat merangsang timbulnya penyakit tersebut.

3. Breathing Exercise (salah satunya adalah latihan pernafasan diafragma) Posisi pasien tidur terIentang dengan sebuah bantal di kepala dan dibawah lutut kepala pasien dimiringkan sedikit. Posisi Fisioterapi: Fisioterapi meletakkan satu tangan pada diafragma.

Teknik Aplikasinya:  Pasien disuruh menghirup udara melalui hidung kembungkan perutnya kemudian tahan, selanjutnya pasien disuruh mengeluarkan nafas melalui mulut secara pelan-pelan dan sampai dengan akhir expirasi pasien, Fisioterapi memberikan penekanan. ini dilakukan 5 -10 kali pengulangan.

4. Berenang. ini dilakukan pada saat suhu air tidak terlalu dingin atau terlalu panas dan dilakukan selama ± 1 jam.

5. Meniup balon, liin, suling dan harmonika, ini dilakukan tiap ± 15 menit

6. Latihan pernafasan dengan Spirometer.

Cara: Pasien duduk di kursi dengan rileks, pasien diminta menghirup udara sebanyak -banyaknya. Kemudian, meniupkan secara cepat dan kuat ke Spirometer sebagai motivasi di usahakan agar pasien sedapat mungkin mengubah alat petunjuk angka terakhir yang di tunjukkan.

I. KEAMANAN YANG HARUS DIPERHATIKAN PADA PASIEN

Adapun beberapa usaha yang dapat ditempuh untuk mencegah serangan Asthma, diantaranya.

- Menghindari semua faktor yang bisa menyebabkan serangan asthma

- Menghindari ruangan, tempat tidur atau tempat yang sedang dibersihkan, kalau terpaksa usahakan menggunakan masker.

- Tidak memelihara binatang, seperti : kucing, anjing, burung dan sebagainya.

- Hindari tempat yang lembab dan pengap

- Hindari asap dan bau yang merangsang misalnya dari rokok, parfum, obat nyamuk dan lain-lain.

J. EVALUASI HASIL

Sesaat

Melihat dan menilai pola pernafasan, postur, sputum setelah melakukan latihan apakah terjadi perubahan atau tidak.

Berkala

Setelah dilakukan beberapa kali terapi diharapkan problematik Fisioterapi berkurang atau hilang sama sekali.

K. PEMBERIAN ALAT BANTU SESUAI JENIS PENYAKIT

1. Spirometer yaitu untuk mengatur kapasitas paru.

2. IPPB (Intermintaan Presue Purseli Breathing) diberikan pada kondisi yang kronik, yang berfungsi untuk melancarkan pernafasan, melonggarkan jalan nafas dan melancarkan sekresi.

L. SARAN-SARAN

- Sebaiknya penderita berusaha untuk menghindari, faktor-faktor yang dapat menimbulkan kambuhnya suatu penyakit ( Faktor Elergen).

- Sebaiknya penderita mengatur pola makanan dan olahraga yang akan dilakukan.