Search Results for: penatalaksanaan fisioterapi pada kasus muskuloskeletal

Pengertian Distribusi Epidemiologi

A. PENGERTIAN EPIDEMIOLOGI
1. Pengertian Epidemiologi Menurut Asal Kata
Jika ditinjau dari asal kata Epidemiologi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari 3 kata dasar yaitu EPI yang berarti pada atau tentang, demos yang berati penduduk dan kata terakhir adalalah logos yang berarti ilmu pengetahuan. Jadi epidemilogi adalah ilmu yang mempelajari tentang penduduk.
Sedangkan dalam pengertian modern pada saat ini EPIDEMIOLOGI adalah :
“Ilmu yang mempelajari tentang Frekuensi dan Distribusi (Penyebaran) serta Determinat masalah kesehatan pada sekelompok orang/masyarakat serta Determinannya (Faktor – factor yang Mempengaruhinya). Continue reading

Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Ankle Sprain

Physiotherapy In Ankle sprainPenatalaksanaan Fisioterapi Pada Ankle Sprain
Pengertian:
Adalah proses fisioterapi yang diterapkan pada Ankle sprain
Tujuan:
Melaksanakan asuhan fisioterapi secara tepat, efektif dan efisien dengan hasil yang optimal.
Kebijakan:
Indikasi:
- Asesmen fisioterapi dan temuannya pd kasus Ankle Sprain
- Intervensi fisioterapi pada Ankle Sprain Continue reading

Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Kontraktur Sendi Siku Pasca Immobilisasi

Fisioterapi Pada Kontraktur Sendi Siku Pasca ImmobilisasiPenatalaksanaan Fisioterapi Pada Kontraktur Sendi Siku Pasca Immobilisasi
Pengertian:
Adalah proses asuhan fisioterapi yang diterapkan pada kontraktur sendi siku pasca immobilisasi
Tujuan:
Melaksanakan penatalaksanaan fisioterapi secara akurat, paripurna, efektif dan efisien dengan hasil yang optimal.
Kebijakan:
Patologi:
- Pasca immobilisasi fraktur/dislokasi
- Pasca operasi fraktur supracondylar siku, fraktur ante brachii, tumor dan lain-lain
- Kontraktur kapsulo-ligamenter, kontraktur otot siku. Continue reading

Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Tennis Elbow (Epicondylitis lateralis)

Fisioterapi Pada Tennis ElbowPenatalaksanaan Fisioterapi Pada Tennis Elbow (Epicondylitis lateralis)
Pengertian:
Adalah proses asuhan fisioterapi yang diterapkan pada tennis elbow
Tujuan:
Melaksanakan penatalaksanaan fisioterapi secara akurat, paripurna, efektif dan efisien dengan hasil yang optimal.
Kebijakan:
Patologi:
- Epicondylitis lat. Humeri.
- Inflamasi akibat stretch injury, dapat didahului degenerasi tendon.
- Tennis elbow tipe I: Tendon extensor carpiradialis longus
- Tennis elbow tipe II: Tendoperiosteal extensor carpiradialis brevis
- Tennis elbow tipe III: Tendon-muscular juction extensor carpiradialis brevis
- Tennis elbow tipe IV: Muscle belly extensor carpiradialis brevis Continue reading

Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Parkinson

  1. Pengertian

Parkinson merupakan salah satu penyakit akibat gangguan pada ganglia basalis di otak. Penyakit ini pertama kali ditemukan oleh Tuan Parkinson pada tahun 1868 yang secara umum menampakkan gejala khas berupa rigidity, bradikinesia (gerakan lamban) mikroskopi, akinesia, wajah kaku, abnormal postur berupa fleksi postur, gangguan reaksi keseimbangan dan berkurangnya rotasi trunk. Continue reading

Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Penderita Osteoporosis

Osteoporosis

Osteoporosis Penatalaksanaan penderita osteoporosis terdiri atas:

1. Penyuluhan Penderita

Pada penderita osteoporosis, faktor resiko di luar tulang harus diperhatikan program latihan kebugaran tubuh (fitness), melompat, dan lari tidak boleh dilakukan karena resiko besar patah tulang. Berdirilah tegak kalau jalan, bekerja, menyetrika, menyapu (gunakan sapu dengan tangkai panjang) dan masak. Duduklah tegak kalau bekerja, masak, sikat gigi dan mencuci. Tidak boleh mengepel lantai dengan berlutut dan membungkuk karena resiko patah tulang pinggang cukup besar.

Untuk memperkuat dan mempertahankan kekuatan neuromuskuler memerlukan latihan tiap hari atau paling sedikit 3 hari sekali. Berdansa santai dan jalan kaki cepat 20 — 30 menit sehari adalah sehat dan aman untuk penderita osteoporosis.

Penderita perlu menyadari besarnya resiko jatuh. Setelah makan atau tidur, duduk sebentar dulu sebelum berdiri dan pada permulaan berdiri berpegangan dahulu pada tepi meja makan. Mereka yang sering kehilangan keseimbangan bahan perlu memakai tongkat/walker.

Jatuh

Kemungkinan jatuhnya pada lansia terkait dengan faktor resiko:

1. Mobilitas sudah berkurang

2. Berjalan dengan tongkat atau walker

3. Gangguan fungsi kognitif (cognitive inpairment)

4. Gangguan penglihatan (visual inpairment)

5. Hipotensi postural

6. Pusing-pusing berat (vertigo)

7. Ketidakmampuan fisik yang berat

8. Pernah mengalami stroke

9. Pernah jatuh

10. Pemakaian obat yang dapat menekan fungs saraf pusat

11. Menderita radang sendi (arthritis)

12. Pendengaran yang berkurang

13. Kelainan jiwa (psikiatri)

14. Kelainan neuromuscular

15. Kurang gizi

16. Penyakit-penyakit jantung

17. Minum alkohol

18. Keadaan rumah yang tidak aman (banyak tangga, drempel dan licin)

Supaya tidak jatuh diperlukan tindakan keamanan yang memadai baik di dalam maupun di luar rumah.

Keamanan di dalam rumah

Keamanan Lantai

• Semua karpet harus lengket pada lantai

• Lantai jangan digosok lilin atau dikilapkan dengan minyak

• Jangan berjalan di lantai yang basah

• Bersihkan semua kawat, tali temali, mainan anak dan barang lain dari lantai

• Jangan injak kucing atau anjing yang sedang tidur di lantai

Keamanan tangga

• Usahakan tidak tinggal pada lantai atas rumah

• Pegangan dan undakan tangga harus kencang dan tidak licin

• Karpet di tangga harus dilengketkan pada tangga

Keamanan kamar mandi

• Sekitar tembok kamar mandi dipasang pegangan

• Lantai kamar mandi harus anti slip

Keamanan berupa penerangan

• Pintu, ruangan dan tangga harus cukup penerangan

• Pasang lampu kecil (lampu malam) di kamar tidur dan kamar mandi

• Siapkan satu senter di samping tempat tidur untuk dipakai kalau listrik padam

Keamanan Dapur

• Pasanglah keset anti slip di depan wastafel dan kompor

Keamanan di luar rumah

Keamanan dalam mobil

• Pasanglah seat belt bila naik mobil

• Pasanglah pengganjal pinggang

• Pasanglah pengganjal kepala

Keamanan sepatu dan sandal

• Pakailah sepatu yang kuat, bertumit rendah, dengan dasar yang lunak

• Hindarilah jalan yang basah atau berlumpur

• Kalau perlu pakailah tongkat, walker atau minta tuntunan orang lain

Keamanan obat

• Semua obat termasuk minuman keras yang menyebabkan gangguan kesadaran (mabuk), sempoyongan, kepala enteng, kehilangan keseimbangan dan disorientasi tidak boleh di minum

Keamanan pribadi

• Memeriksa mata secara teratur dan pakai kacamata yang cocok

• Latihan yang teratur untuk memperkuat otot supaya keseimbangan dan koordinasi tubuh tetap terjaga

2. Pencegahan

Pencegahan primer

Pencegahan primer bertujuan untuk membangun kepadatan tulang dan neuromuskler yang maksimal. Ini dimulai dari balita, remaja dewasa umur pertengahan sampai umur 36 tahun.

Beberapa hal penting pada pencegahan primer:

• Pemberian kalsium yang cukup (1200 mg) sehari selama masa remaja

• Kegiatan fisik yang cukup dalam keadaan berdiri. Minimal jalan kaki 30 menit tiap hari.

• Mengurangi faktor resiko rapuh tulang seperti merokok, alkohol dan imobilisasi.

• Menambah kalsium dalam diet sebanyak 800 mg sehari pada manula

• Untuk wanita resiko tinggi penambahan estrogen, difosfonat atau kalsitonin harus dipertimbangkan.

Pencegahan sekunder

Pencegahan sekunder yaitu pemberian hormon-hormon estrogen progesterone. Hormon-hormon ini dilaporkan menghentikan setidak-tidaknya mengurangi kehilangan tulang selama menopause.

Pencegahan tersier

Pencegahan tersier dilakukan bila penderita mengalami patah tulang pada osteoporosis atau pada orang yang masuk lanjut usia (lansia).

3. Pemberian Gizi Optimal

Pencegahan primer bertujuan agar kepadatan tulang yang maksimal tercapai pada umur 36 tahun. Pencegahan sekunder bertujuan menghambat kehilangan kepada tulang waktu menopause dengan pemberian hormon pengganti. Selanjutnya kehilangan kepadatan tulang pada lansia dihambat dengan pencegahan tersier. Pencegahan primer, sekunder dan tersier dilaksanakan melalui pengaturan gizi yang optimal, dibarengi dengan aktivitas fisik dan olahraga yang sesuai dengan umur dan stadium kerapuhan tulang penderita.

Kebutuhan kalsium sehari—hari untuk mencegah osteoporosis:

• Sebelum menopause kebutuhan sehari 800 — 1000 mg Kalsium

• Selama menopause kebutuhan sehari 1000— 1200 mg Kalsium

• Selama menopause kebutuhan sehari 1200 — 1500 mg kalsium

UPAYA REHABILITASI MEDIK

Prinsip terapi fisik dan rehabilifasi dapat bermanfaat dalam penatalaksanaan penderita oteoporosis

• Latihan/exercise

Latihan dapat mengurangi hilangnya massa tulang dan menambah massa tulang dengan cara meningkatkan pembentukan tulang yang lebih besar dari pada resorbsi tulang.

PENGOBATAN PADA PATAH TULANG

Pada orang tua dengan keluhan nyeri yang hebat pada lokalisasi tertentu seperti pada punggung, pinggul, pergelangan tangan, disertai adanya riwayat jatuh, maka perlu segera memeriksakan diri ke dokter untuk mengetahui adanya patah tulang. Apabila pada pemeriksaan selanjutnya didapatkan adanya patah tulang, maka harus dipertimbangkan tindakan-tindakan sebagai berikut:

1. Menghilangkan nyeri disertai pemberian obat-obatan untuk membangun kekuatan tulang, yaitu kalsium dan obat-obat osteoporosis

2. Tindakan pemasangan gips pada patah tulang pergelangan tangan. Tindakan menarik tulang pada panggul dan dilanjutkan dengan tindakan operasi pada panggul dengan mengganti kepala panggul pada patah leher paha.

Osteoartritis dan Penyebabnya

Definisi

Osteoartritis adalah penyakit peradangan sendi yang sering muncul pada usia lanjut. Jarang dijumpai pada usia dibawah 40 tahun dan lebih sering dijumpai pada usia diatas 60 tahun.

Etiologi

Penyebab dari osteoartritis hingga saat ini masih belum terungkap, namun beberapa faktor resiko untuk timbulnya osteoartritis antara lain adalah : Continue reading

Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Thoracic (Compression) Outlet Syndrome: Scalenus Syndrome

Physiotherapy In ThoracicPenatalaksanaan Fisioterapi Pada Thoracic (Compression) Outlet Syndrome: Scalenus Syndrome

Pengertian:
Adalah proses fisioterpi yang diterapkan pada Thoracic (Compression) Outlet Syndrome : Scalenus Syndrome.
Tujuan:
Melaksanakan asuhan fisioterapi secara akurat, paripurna, efektif dan efisien dengan hasil yang optimal
Kebijakan:
Indikasi :
- Asesmen fisioterapi dan temuannya pd kasus Thoracic (Compression) Outlet Syndrome : Scalenus Syndrome
- Intervensi fisioterapi pada Thoracic (Compression) Outlet Syndrome : Scalenus Syndrome Continue reading

Sprain Ankle

Sprain AnkleSprain ankle adalah kondisi terjadinya penguluran dan kerobekan pada ligamentum lateral compleks. Hal ini disebabkan oleh adanya gaya inversi dan plantar fleksi yang tiba-tiba saat kaki tidak menumpu sempurna pada lantai/ tanah, dimana umumnya terjad pada permukaan lantai/ tanah yang tidak rata. Sprain ankle memiliki derajat sprain sesuai tingkat kerusakannya. Derajat I sprain ankle umumnya terjadi penguluran pada ligamentum talofibular anterior sehingga pasien mengalami nyeri yang ringan dan sedikit bengkak. Sedangkan derajat II dan III sprain ankle, kerobekan parsial dan komplet telah terjadi pada ligamentum lateral compleks ankle (ligamentum talofibular anterior, ligamentum calcaneofibular, ligamentum calcaneocuboideum, ligamentum talocalcaneus dan ligamentum talofibular posterior). Pada derajat II dan III, pasien mengalami nyeri hebat (aktualitas tinggi), bengkak dan penurunan fungsi ankle (gangguan berjalan), sehingga umumnya pasien langsung berobat ke dokter/ fisioterapi untuk mendapatkan terapi. Terapi PRICE sering digunakan pada tahap akut sprain ankle, yang kemudian diikuti dengan program exercise untuk memperkuat stabilitas sendi ankle. Continue reading

Gerakan Tulang dan Sendi

Ilmu yang mempelajari gerakan tubuh manusia (Kinematika) dibagi menjadi dua yaitu yang mempelajari gerakan tulang disebut Osteokinematika dan yang mempelajari gerakan sendi atau gerakan yang terjadi pada permukaan sendi di sebut artrokinematika.

Ada 2 tipe dasar gerakan tulang :
Rotasi : gerakan berputar pada suatu aksis Continue reading