Search Results for: pengertian fiksasi fraktur

Fraktur 1/3 Proksimal Humerus

a. Definisi Fraktur Humerus
Diskontinuitas yang terjadi pada diafisis shaft tulang humerus karena rudapaksa / trauma
Klasifikasi fraktur humerus
1. Fraktur proksimal humerus
- One part fractures (minimally displaced)
- Two part fractures
• Fraktur tuberositas minor
• Fraktur tuberositas mayor Continue reading

Pengertian Distribusi Epidemiologi

A. PENGERTIAN EPIDEMIOLOGI
1. Pengertian Epidemiologi Menurut Asal Kata
Jika ditinjau dari asal kata Epidemiologi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari 3 kata dasar yaitu EPI yang berarti pada atau tentang, demos yang berati penduduk dan kata terakhir adalalah logos yang berarti ilmu pengetahuan. Jadi epidemilogi adalah ilmu yang mempelajari tentang penduduk.
Sedangkan dalam pengertian modern pada saat ini EPIDEMIOLOGI adalah :
“Ilmu yang mempelajari tentang Frekuensi dan Distribusi (Penyebaran) serta Determinat masalah kesehatan pada sekelompok orang/masyarakat serta Determinannya (Faktor – factor yang Mempengaruhinya). Continue reading

Manual Terapi Regio Shoulder

1. Sendi Bahu: Caput humeri. Traksi – latero-ventro-cranial.

Pasien :Terlentang.
Terapis : Berdiri di sisi bagian yang diterapi
Fiksasi : Scapula difiksasi oleh berat tubuh pasien (ditiduri). Apabila memungkinkan dapat diflksasi menggunakan sabuk.
Pelaksanaan : Kedua tangan terapis memegang humerus sedekat mungkin dengan sendi, kemudian melakukan traksi ke arah Latero-ventro-cranial. Lengan bawah pasièn rileks disangga lengan bawah terapis.Lengan bawah terapis yang berlainan sisi mengarahkan gerakan.
Indikasi : Mobilisasi tidak langsung – non spesifik. Continue reading

Jenis Cedera Olahraga Secara Umum

Jenis Cedera Olahraga Secara UmumJames Wilson, Mac Donald, Colin Ferguson dalam bukunya Sports Injuries, membuat rumusan cedera Olah Raga sebagai berikut :

KEPALA ;

1. Gegar Otak / pingsan ( tinju / karate / balap )
2. Othematoma ( telinga pegulat )
3. Otitis Media / externa ( perenang )
4. Nyeri telinga ( penerbang / penyelam )
5. Robek Gendang / tuli mendadak ( letupan senjata / loncat indah )
6. Robek sekitar mata ( petinju )
7. Mata terkena bola ( tenis / bulutangkis / tenis meja )
8. Bola mata tergores ( tenis / bulutangkis / tenis meja )
9. Lebam mata ( tinju / karate )
10. Lepas perlekatan retina
11. Pteriqium ( jaringan ikat pada cornea / pralayar )
12. Perdarahan / patah hidung ( tinju / karate )
13. Robek bibir / lidah
14. Gigi patah Continue reading

Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Kontraktur Sendi Siku Pasca Immobilisasi

Fisioterapi Pada Kontraktur Sendi Siku Pasca ImmobilisasiPenatalaksanaan Fisioterapi Pada Kontraktur Sendi Siku Pasca Immobilisasi
Pengertian:
Adalah proses asuhan fisioterapi yang diterapkan pada kontraktur sendi siku pasca immobilisasi
Tujuan:
Melaksanakan penatalaksanaan fisioterapi secara akurat, paripurna, efektif dan efisien dengan hasil yang optimal.
Kebijakan:
Patologi:
- Pasca immobilisasi fraktur/dislokasi
- Pasca operasi fraktur supracondylar siku, fraktur ante brachii, tumor dan lain-lain
- Kontraktur kapsulo-ligamenter, kontraktur otot siku. Continue reading

Jenis Cedera Olahraga Pada Regio Lutut

Injury ligamentInjury meniskus

Sebagai akibat dari gerakan twisting yg tiba2 pd knee. Gerakan ini biasa terjadi pd olahraga ski, atletik, gulat, sepakbola, handball, bola basket, dan ballet. Injury ini sering terjadi pada meniskus medialis & selalu berhubungan dgn kerusakan pd lig.transversal knee. Injury pd meniskus lateral jarang terjadi.

Gejala khas adalah nyeri hebat pd gerakan ekstensi/hiperekstensi knee, nyeri spontan selama rotasi knee & efusi sendi.

Injury ligament

Injury yg paling sering terjadi pd atletik. Kondisi ini disebabkan oleh tuntutan gerak dari olahraga2 tertentu & kepekaan knee terhadap injury karena struktur anatomi dan mekanikalnya. Injury kapsul-ligamen biasanya berkaitan dgn mekanisme gerak fleksi, rotasi, abduksi & adduksi knee. Baik lig.collateral, lig.cruciatum & kapsul sendi dpt terkena injury. Lig.collatteral medial paling sering terkena injury à memungkinkan disertai injury meniskus.

Tipe injury ini terutama terjadi pada pemain sepakbola, handball, downhill ski, & olahraga pertarungan seperti yudo dan gulat.

Condromalacia patella

Kondisi ini paling banyak terjadi pd atlit kelompok usia 20-an & 40-an spt pemain bola, yudo, bola volly, bola basket & downhill ski. Gejalanya meliputi nyeri tekan dan nyeri gerak, krepitasi & bengkak. Gejala degenerasi disebabkan oleh proses biomekanik yang terjadi berulang2. Condromalacia dapat muncul secara sekunder dari kerusakan lainnya pd knee spt injury meniskus.

Dislokasi patella

Dislokasi patella dapat disebabkan oleh perubahan patologi dari axis tungkai, pukulan/tendangan melawan sisi medial atau lateral patella. Dislokasi biasanya bergeser ke lateral. Dislokasi ini biasa terjadi pd olahraga permainan khususnya sepakbola. Juga sering terjadi pd gulat, yudo, & olahraga pertarungan lainnya. Continue reading

Penanganan Luka-luka Pada Tinju

Penanganan Luka-luka Pada Tinju

Penanganan Luka-luka Pada TinjuPenanganan Luka-Luka
Penanganan cedera pada olah raga tinju tergantung jenis dan beratnya serta tingkat kegawatdaruratannya. Pada perlukaan kulit kepala, perdarahan seringkali banyak sehingga perlu pemeriksaan teliti dan penghentian perdarahan. Pemeriksaan dilakukan di sisi ring tinju dengan sarung tangan steril untuk memeriksa adanya fraktur. Fraktur impresi seringkali hanya menimbulkan jejas lokal dan tidak menyebabkan hilangnya kesadaran sehingga seringkali terlewatkan. Pasien yang dicurigai mengalami fraktur harus dihentikan dulu perdarahannya dengan cara menutup luka kulit kepala dengan jahitan satu-satu sebelum dibawa ke rumah sakit. Luka-luka kecil dapat dijahit dengan silk 2/0 atau 3/0. Bila ada tanda-tanda herniasi jaringan otak melalui luka di tengkorak, maka harus ditutup dengan kasa steril yang dibasahi dengan PZ dan segera dikirim ke fasilitas bedah saraf (McLatchie, 1994).

Penanganan concussion
Evaluasi di lapangan (on-the-field evaluation )
Tujuan terpenting pemeriksaan di lapangan adalah membuat diagnosis yang akurat dan lengkap tentang tingkat kesadaran dan menyingkirkan adanya cedera lain terutama cedera servikal. Dalam hal ini petugas medis harus mengetahui mekanisme cedera kepala, apakah akibat kontak langsung dengan permukaan keras atau gaya akselerasi-deselerasi yang mengenai kepala dan whiplash yang mengenai leher. Saat memeriksa, perlu diperhatikan postur, gerakan spontan dan verbalisasi (kata-kata) dari petinju yang bersangkutan. Menurunnya atau hilangnya kemampuan gerak anggota gerak harus memunculkan kecurigaan adanya cedera servikal. Pembicaraan yang melantur menunjukkan telah terjadi concussion yang berat. Helm pengaman tidak boleh dilepas dulu kecuali cedera servikal telah dapat disingkirkan (Wojtys, 1999).

Pada concussion, pertama kali pemeriksa harus memastikan apakah petinju yang bersangkutan masih bernafas spontan, jalan napasnya bebas dan nadinya masih teraba. Kedua, menentukan apakah petinju yang mengalami cedera memerlukan pemeriksaan lebih lanjut di sisi ring atau segera diangkut ke rumah sakit. Untuk pemeriksaan kardiovaskular, arteri karotis dan radialis adalah yang paling mudah diraba. Bila petinju telah dipastikan bernafas spontan dengan baik, jalan napas bebas dan fungsi sirkulasi dinyatakan baik, maka pemeriksaan kesadaran awal dilakukan dalam posisi berbaring. Bila petinju tidak sadarkan diri, harus dianggap bahwa ia juga menderita cedera servikal sampai dinyatakan sebaliknya (Wojtys, 1999).

Bila didapatkan gangguan fungsi pernapasan dan sirkulasi, harus dilakukan resusitasi. Dalam hal ini diperlukan 2 atau 3 orang tambahan untuk membantu memposisikan petinju dalam posisi telentang dengan cara dilakukan log-rolling. Setelah berada dalam posisi yang tepat maka resusitasi kardiopulmonar dapat dilakukan (Wojtys, 1999).

Pemeriksaan neurologis yang dilakukan antara lain: GCS, Ukuran dan reaksi pupil terhadap cahaya, pemeriksaan telinga dan hidung untuk mencari perdarahan, CSF, hematotympanum, pemeriksaan fungsi sensoris (termasuk area perianal), refleks-refleks tendon dalam, pemeriksaan keseimbangan dan koordinasi (termasuk finger to nose, dan finger to finger test) (McLatchie, 1994).

Pada petinju yang masih belum sadar atau memburuk setelah 10 menit harus segera dirujuk ke rumah sakit dengan fasilitas diagnostik dan tindakan bedah saraf. Bila ada fraktur tulang tengkorak, petinju harus diobservasi, dan mungkin diperlukan pemeriksaan CT scan karena resiko hematom intrakranial. Hampir separuh dari petinju yang mengalami hematom intrakranial yang dioperasi masih dapat berjalan dan berbicara, bahkan 15% masih sadar penuh sejak kejadian (McLatchie, 1994).

Pemeriksaan di luar ring (on-the-bench evaluation)
Bila petinju yang terluka dibawa keluar ring, ia harus diperiksa dengan teliti termasuk anamnesis keluhan, pemeriksaan neurologis yang lebih lengkap, dan tes neuropsikologi. Keluhan yang perlu ditanyakan meliputi rasa pusing, vertigo, gangguan penglihatan, fotofobia, tinnitus, nyeri kepala, mual, dan muntah. Muntah jarang terjadi pada cedera olah raga, tetapi bila ada akan memunculkan kecurigaan adanya kenaikan tekanan intrakranial (Wojtys, 1999).

Pemeriksaan fisik terhadap wajah dan tulang kepala, kulit dan jaringan ikatnya harus dilakukan dengan teliti untuk mencari adanya patah tulang wajah. Adanya rinnorhea menandakan telah terjadi patah tulang dasar tengkorak pada lempeng cribriformis (Wojtys, 1999).

Pemeriksaan neurologis meliputi pemeriksaan mata dan saraf-saraf kranial. Sekitar 3% dari seluruh populasi mempunyai pupil yang anisokor, dan ini harus sudah diperiksa dan dicatat pada pemeriksaan sebelum pertandingan. Pelebaran pupil unilateral akibat pukulan langsung pada wajah dapat diakibatkan oleh respons saraf simpatetik. Patah tulang atau hematom subdural dapat menyebabkan gangguan nervus occulomotorius. Nervus fasialis juga dapat terkena pada patah tulang dasar tengkorak. Pemeriksaan telinga untuk mencari adanya ottorhea yang menandakan terjadinya patah tulang dasar tengkorak di daerah petrosus (Wojtys, 1999).

Pemeriksaan neuropsikologi dilakukan untuk mencari gangguan orientasi, konsentrasi, dan memori (Wojtys, 1999).

Petinju diobservasi selama minimal 15 menit dan dapat diperiksa kembali bila diperlukan. Bila gejala atau keluhan berkembang, maka ia tidak boleh bertanding lagi hari itu. Jika gejala dan keluhan tidak ada, maka dapat dilakukan suatu manuver stres fisik untuk melihat apakah gejalanya akan muncul. Manuver tersebut dapat dilakukan dengan sit-up, push-up, knee bends, atau dengan berbaring posisi telentang dengan kaki diangkat ke atas selama beberapa detik yang akan memunculkan gejala-gejala kenaikan TIK. Bila gejala tersebut muncul setelah manuver, petinju tidak boleh melanjutkan pertandingan. Bila tak ada gejala ia dapat kembali ke pertandingan, dan selesai pertandingan harus segera dilakukan reevaluasi (Wojtys, 1999).

Klasifikasi Kembali Bertanding (Wojtys, 1999)
1. Kembali bertanding (pada hari yang sama)
a. Keluhan dan gejala menghilang dalam waktu kurang dari 15 menit baik saat istirahat atau saat bertanding
b. Tak pernah tidak sadar

2. Penundaan bertanding (tidak pada hari yang sama)
a. Keluhan dan gejala tidak menghilang dalam waktu 15 menit baik saat istirahat atau saat bertanding
b. Pernah tidak sadar

Jenis Cedera Olahraga Pada Extremitas Superior

Dislokasi ShoulderDislokasi Shoulder

Ciri khasnya adalah perubahan ukuran sendi, perubahan axis lengan yg dislokasi, & posisi tdk alamiah pd shoulder. Meskipun ada usaha dari atlit untuk mengoreksi tetapi akan kembali lagi ke posisi abnormal. Sering disertai oleh injury pd flexus brachialis atau n.axillaris atau n.muskulokutaneus. Paling sering terjadi injury adalah kombinasi dgn fraktur tuberculum majus.

Kondisi ini seringkali terjadi pada penunggang kuda yg tiba-tiba jatuh dari kuda, juga sbg akibat dari jatuh dlm posisi outstretch lengan, akibat dari melempar bola, akibat dari pukulan bola volly yang sangat kuat saat lengan berotasi jauh keluar, akibat dari bergulat, & akibat dari overekstensi lengan pd palang gimnastik.

Traumatic Periarthritis humeroscapular

Trauma langsung pd shoulder & area sekitarnya spt trauma akibat jatuh dari kuda, bantingan yudo, jatuh pd vollyball, gerakan melempar à dpt menyebabkan berkembangnya traumatic periarthritis humero-scapular. Continue reading

Pengertian Konseling

Konseling adalah kegiatan percakapan tatap muka dua arah antara klien dengan petugas yang bertujuan memberikan bantuan mengenai berbagai hal yang ada kaitannya dengan pemilihan kontrasepsi, sehingga akhirnya calon peserta KB mampu mengambil keputusan sendiri mengenai alat/metode kontrasepsi apa yang terbaik bagi dirinya (Sheilla, 2006).

Konseling adalah proses komunikasi antara seseorang (konselor) dengan orang lain. (Depkes RI, 2000).

Konseling adalah proses pemberian informasi obyektif dan lengkap, dilakukan secara sistematik dengan paduan ketrampilan komunikasi interpersonal, teknik bimbingan dan penguasaan pengetahuan klinik bertujuan untuk membantu seseorang mengenali kondisinya saat ini, masalah yang sedang dihadapi dan menentukan jalan keluar/ upaya untuk mengatasi masalah tersebut (Saifuddin, 2001).

Konseling adalah proses pemberi bantuan seseorang kepada orang lain dalam membuat suatu keputusan atau memecahkan suatu masalah melalui pemahaman terhadap fakta, harapan, kebutuhan, dan perasaan klien (Lukman, 2002).

Pengertian Kontraktur

Kontraksi merupakan suatu proses yang normal pada proses penyembuhan luka, sedangkan kontraktur merupakan suatu keadaan patologis tingkat akhir dari suatu kontraksi. Umumnya kontraktur terjadi apabila pembentukan sikatrik berlebihan dari proses penyembuhan luka.

Penyebab utama kontraktur adalah tidak ada atau kurangnya mobilisasi sendi akibat suatu keadaan antara lain imbalance kekuatan otot, penyakit neuromuskular, penyakit degenerasi, luka bakar, luka trauma yang luas, inflamasi, penyakit kongenital, ankilosis dan nyeri. Continue reading