Search Results for: pengkajian pada pasien dengan debridement

Pengertian Distribusi Epidemiologi

A. PENGERTIAN EPIDEMIOLOGI
1. Pengertian Epidemiologi Menurut Asal Kata
Jika ditinjau dari asal kata Epidemiologi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari 3 kata dasar yaitu EPI yang berarti pada atau tentang, demos yang berati penduduk dan kata terakhir adalalah logos yang berarti ilmu pengetahuan. Jadi epidemilogi adalah ilmu yang mempelajari tentang penduduk.
Sedangkan dalam pengertian modern pada saat ini EPIDEMIOLOGI adalah :
“Ilmu yang mempelajari tentang Frekuensi dan Distribusi (Penyebaran) serta Determinat masalah kesehatan pada sekelompok orang/masyarakat serta Determinannya (Faktor – factor yang Mempengaruhinya). Continue reading

Penyebab Penyakit Bronkiektasis

Penyebab Penyakit BronkiektasisAcquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan penyebab utama bronkiektasis. Ada baik bawaan dan diakuisisi penyebab bronkiektasis. Kartagener sindrom, yang mempengaruhi mobilitas silia di paru-paru,  membantu dalam perkembangan penyakit ini. Penyebab lain genetik umum adalah cystic fibrosis, di mana sejumlah kecil pasien bronkiektasis lokal mengembangkan parah . sindrom Young, yang secara klinis mirip dengan fibrosis kistik, diperkirakan memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan bronkiektasis. Hal ini disebabkan terjadinya kronis, infeksi sinopulmonary  Pasien. Dengan defisiensi alfa 1-antitrypsin telah ditemukan untuk menjadi sangat rentan terhadap bronkiektasis, untuk alasan yang tidak diketahui.  Lainnya kongenital menyebabkan kurang umum termasuk immunodeficiencies utama, karena terhadap respon sistem kekebalan tubuh melemah atau tidak ada sampai parah, infeksi berulang yang biasanya mempengaruhi paru-paru. Continue reading

Proses Terjadinya Penuaan

1. Biologi

a. Teori “Genetic Clock”;

Teori ini menyatakan bahwa proses menua terjadi akibat adanya program jam genetik didalam nuklei. Jam ini akan berputar dalam jangka waktu tertentu dan jika jam ini sudah habis putarannya maka, akan menyebabkan berhentinya proses mitosis. Hal ini ditunjukkan oleh hasil penelitian Haiflick, (1980) dikutif Darmojo dan Martono (1999) dari teori itu dinyatakan adanya hubungan antara kemampuan membelah sel dalam kultur dengan umur spesies Mutasisomatik (teori error catastrophe) hal penting lainnya yang perlu diperhatikan dalam menganalisis faktor-aktor penyebab terjadinya proses menua adalah faktor lingkungan yang menyebabkan terjadinya mutasi somatik. Sekarang sudah umum diketahui bahwa radiasi dan zat kimia dapat memperpendek umur. Menurut teori ini terjadinya mutasi yang progresif pada DNA sel somatik, akan menyebabkan terjadinya penurunan kemampuan fungsional sel tersebut. Continue reading

Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Parkinson

  1. Pengertian

Parkinson merupakan salah satu penyakit akibat gangguan pada ganglia basalis di otak. Penyakit ini pertama kali ditemukan oleh Tuan Parkinson pada tahun 1868 yang secara umum menampakkan gejala khas berupa rigidity, bradikinesia (gerakan lamban) mikroskopi, akinesia, wajah kaku, abnormal postur berupa fleksi postur, gangguan reaksi keseimbangan dan berkurangnya rotasi trunk. Continue reading

AFR Pada Penderita Asma

AFR Pada Penderita Asma

AFR Pada Penderita AsmaA. PENGERTIAN

Asthma berasal dari Bahasa Yunani, yang artinya Terengah = Bernafas Pendek. Asthma juga merupakan penyakit Obstruktif paru yang sering terjadi pada usia muda yang khas dari penyakit ini adalah serangan terjadi secara tiba-tiba, kadang-kadang beberapa hari ataupun beberapa minggu tergantung penyebabnya menurut The American Society (1962), menyatakan; Asthma Bronhide ialah suatu penyakit yang ditandai oleh peningkatan respon saluran nafas terhadap ransang. dengan Manivestasi penyempitan saluran nafas yang derajatnya berubah-ubah dan dapat sembuh secara cepat atau dengan pengobatan.

Suatu serangan disebabkan karena sensifititas dari otot poIos saluran nafas terhadap beberapa bagian ransangan. Awalnya, bisa terjadi secara perlahan-lahan atau mendadak dan kadang serangan dapat berlangsung selama beberapa hari atau beberapa minggu yang keadaan ini disebut Status Asthmaticus. Asthma juga merupakan penyebab utama penyakit Kronik pada anak-anak sebelum pubertas, sekitar 2 (dua) kali lebih banyak dan memiliki perbandingan yang sama antara Laki-laki dan perempuan. Pada umumnya pasien yang menderita Asthma adalah terjadinya kesulitan dari respirasi khususnya ekspirasi.

B. PERUBAHAN PATOLOGI

Pada waktu serangan:

1. Bronkospasme

2. Edema Mukosa

3. Sekresi kental membentuk gumpalan dalam bronhioli medium / kecil.

Bila suatu serangan ringan meredah, dada kembali normal bila muku yang kental di ekspektorasikan (dikeluarkan).

Setelah Suatu serangan berat

1. Kolaps Absorpsi.

2. Serangan yang berulang-ulang dan berlarut-larut.

3. Hipertropi selaput lendir.

4. Penebalan semua lapisan bronchi kecil.

Asthma yang berlangsung lama dan sangat parah dapat menyebabkan Empisema.

Innamasi lapisan mukus pada Tracheobrochial dan Hypersekresi Mukosa, dimana biasanya bergetah dan ada obstruksi karena adanya peningkatan jumlah dan ukuran sel-sel goblek.

a. Penyebab

Ada beberapa penyebab terjadinya Asthma yaitu:

1. Perangsangan Primer (Inadcer), yaitu rangsangan yang secara primer dengan atau  tanpa faktor predisposisi dapat menimbulkan gejala Asthma atau selanjutnya menginduksi terjadinya Hyperaktivitas Bronkchus sebelumnya yang termasuk disini adalah:

- Debu : Penderita Asthma akan terjadi serangan apabila terkena debu ataupun alergi terhadap debu.

- Serbuk: seperti tepung dan bedak.

- Bulu Binatang : seperti kucing, burung dan lain-lain

- lnfeksi Virus.

- Bahan kimia tertentu seperti cat

- Makanan: seperti udang, telur, kepiting dan lain-lain.

2. Perangsangan Sekunder (Trigger) yaitu perangasangan yang secara sekunder dapat mencetus gejala Asthma setelah adanya Hyperaktivitas Bronkchus sebelumnya yang termasuk disini adalah:

- Tumbuh-tumbuhan : seperti tumbuhan atau bunga-bunga yang mengeluarkan bau-bau yang merangsang.

- Cuaca: seperti cuaca dingin atau panas.

- Obat-obatan : seperti yang umumnya obat-obatan anti histamin, akan merangsang timbulnya serangan Asthma.

- Latihan jasmani: seperti lari, renang

- lnfeksi bakteri.

- Jamur

3. Beberapa penyebab yang diduga oleh karena:

- Laki-aki lebih banyak terserang dari pada wanita kurang dari 40 tahun.

- Faktor Herediter dari orang tua yang menderita Ashtma jantung (Asthma cardiale)

- Sanitasi lingkungan

b. Gejala

Ada beberapa terjadinya Asthma yaitu:

- Mungkin timbul tanda -tanda atau peringatan misal menjadi tegangnya otot dada.

- Wheezing yang terdengar, expirasi sukar

- inspirasi tidak sukar.

- Dispnoe.

- Kecepatan perangsangan bertambah.

- Penurunan vital kapasity.

- Kegunaan berlebihan dari assesoris Muscle

- Batuk yang melelahkan dan tidak produktif kelelahan setelah kronik.

- Seringkali penderitanya kurus.

- Postur kurang baik, shoulder bundar, kepala condong kedepan hypertropy otot-otot assesoris.

c. Komplikasi

Serangan Asthma sering menyertai infeksi virus pernafasan atau infeksi bakteri dan dapat menjadi berat serta dapat juga disertai dengan demam apabila terdapat pada anak-anak. Dan bahkan akan kalau tidak segera ditangani maka akan berlanjut menjadi Bronchitis Kronis; Empysema; Cord Pulmunal; Atelektasis.

PROBLEM/HAMBATAN AKTIVITAS KEGIATAN SEHARI-HARI

Seseorang yang menderita penyakit ini tidak dapat meIakukan kegiatannya sehari -hari dengan optimal, ini dikarenakan dia baru membatasi setiap gerakannya Jangan sampai dia mengalami kelelahan yang dapat mengakibatkan kambuhnya penyakit serta dia harus menjaga dirinya dari segala macam bau-bau yang merangsang terhadap kambuhnya penyakit tersebut serta dia harus siap dan bugar dengan perubahan cuaca di sekitarnya.

1. Debu : Penderita Asthma akan terjadi serangan apabila terkena debu ataupun elergi terhaddp debu,

- Serbuk seperti tepung dan bedak.

- Bulu binatang : seperti kucing, burung dan lain — lain

- Infeksi Virus.

- Bahan kimia tertentu seperti cat

- Makanan: seperti udang, telur, kepiting dan lain — lain

2. Perangsangan Sekunder ( Trigger ) yaitu perangsangan yang secara sekunder dapat mencetus gejala Asthama setelah adanya Hiperaktivitas Bronchus sebelumnya yang termasuk disini adalah:

- Tumbuh — tumbuhan : seperti tumbuhan atau bunga — bunga yang mengeluarkan bau — bau yang merangsang

- Obat — obatan : seperti yang umumnya obat — obatan anti histamin, akan merangsang timbulnya serangan asthma.

- Latihan jasmani: seperti Iari, renang

- lnfeksi bakteri

- Jamur

3. Beberapa penyebab yang diduga oleh karena:

- Laki-aki lebih banyak terserang dari pada wanita kurang dari 40 tahun.

- Faktor Herediter dari orang tua yang menderita Ashtma jantung (Asthma cardiale)

- Sanitasi lingkungan

D. PEMERIKSAAN FISIK

a. lnspeksi

lnspeksi terbagi atas 2 ( dua) bagian yaitu:

- lnspeksi Dinamis

Dilakukan perubahan posisi kepada pasien secara berulang-ulang dari posisi berdiri ke duduk dan selanjutnya berbaring yang akan membuat pasien mendadak batuk dan sesak nafas bertambah dan disertai dengan bunyi, ini dilakukan 2 (dua) sampai 3 (tiga) kali dalam inspeksi dinamis juga akan didapatkan bahwa gerakan pasien dalam ekspirasi akan lebih sulit dilakukan dibandingkan saat inspirasi.

- lnspeksi Statis

Otot leher kelihatannya tegang terutama otot Stermocleudo Mastoideus dan Scaleni, bahu simetris pada saat protraksi shoulder, cuping hidung bergerak-gerak karena kesulitan saat respirasi, nafas pendek dan seakan tercekik karena terjadi obstruksi jalan nafas, pasien nampak berkeringat, bentuk thorax tidak normal, torjadi barrel chest (dada burung) hal ini karena otot-otot expirasi mengalami peningkatan tonus, dan ujung jari biru (Sianosis) karena sirkulasi darah ke distal terganggu.

b. Palpasi: ROM, MT

- Posisi Trachea dapat diraba dengan jari telunjuk dengan menekan ke samping pada bagian medial dari M. Sternocleidomastoideus rasakan cartilago trachea bandingkan antara yang kiri dan yang kanan pada penderita asthma normal.

Kelenjar linfe ini bertujuan untuk mengetahui adanya radang atau infeksi atau malignensi, pada penderita asthma tidak didapatkan posisi apex normal, dapat diraba dengan satu jari di bawah mammac.

- Tonus otot meningkat khususnya pada leher, spasme dan nyeri tekan dapat diketahui dengan mempalpasi otot sternocleidomastoideus dan M. Scaleni.

- Tonus otot expirasi menurun terutama otot intercostalis internus yang dapat di palpasi pada intercosta.

E. AUSKULTASI

Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan dengan menggunakan pendengaran, baik dengan menggunakan stetoskop ataupun langsung pada saat pasien inspirasi dan expirasi. Pada pemeriksaan ini terdengar bunyi Wheezing karena obstruksi (penyempitan) jalan nafas atau dapat didengar bunyi ronchi yang menandakan adanya peningkatan sputum.

F. TUJUAN AKS

Agar Pasien lebih bebas melakukan kegiatan tanpa di baying-bayangi oleh penyakit yang di derita, serta pasien tidak perlu membatasi samua aktifitasnya.

G. AKTIFITAS YANG DIBERIKAN

Aktifitas yang akan diberikan pada pasien Asthma yaitu melakukan olah raga dengan teratur, pola makan yang baik, Breathing exercise ( Latihan pernafasan diafragma, latihan pernafasan perut, latihan pernafasan dengan spirometer, berenang, meniup balon, lilin, suling dan Harmonika.

H. PELAKSANAAN PEMBERIAN AKTIFITAS

Pelaksanaan dari pada aktifitas di atas yaitu:

1. Melakukan olahraga teratur, misalnya olah raga jalan santai ini dilakukan kira-kira selama 1 jam.

2. Makanan yang baik, yaitu makanan yang tidak mengandung bahan-bahan yang dapat merangsang timbulnya penyakit tersebut.

3. Breathing Exercise (salah satunya adalah latihan pernafasan diafragma) Posisi pasien tidur terIentang dengan sebuah bantal di kepala dan dibawah lutut kepala pasien dimiringkan sedikit. Posisi Fisioterapi: Fisioterapi meletakkan satu tangan pada diafragma.

Teknik Aplikasinya:  Pasien disuruh menghirup udara melalui hidung kembungkan perutnya kemudian tahan, selanjutnya pasien disuruh mengeluarkan nafas melalui mulut secara pelan-pelan dan sampai dengan akhir expirasi pasien, Fisioterapi memberikan penekanan. ini dilakukan 5 -10 kali pengulangan.

4. Berenang. ini dilakukan pada saat suhu air tidak terlalu dingin atau terlalu panas dan dilakukan selama ± 1 jam.

5. Meniup balon, liin, suling dan harmonika, ini dilakukan tiap ± 15 menit

6. Latihan pernafasan dengan Spirometer.

Cara: Pasien duduk di kursi dengan rileks, pasien diminta menghirup udara sebanyak -banyaknya. Kemudian, meniupkan secara cepat dan kuat ke Spirometer sebagai motivasi di usahakan agar pasien sedapat mungkin mengubah alat petunjuk angka terakhir yang di tunjukkan.

I. KEAMANAN YANG HARUS DIPERHATIKAN PADA PASIEN

Adapun beberapa usaha yang dapat ditempuh untuk mencegah serangan Asthma, diantaranya.

- Menghindari semua faktor yang bisa menyebabkan serangan asthma

- Menghindari ruangan, tempat tidur atau tempat yang sedang dibersihkan, kalau terpaksa usahakan menggunakan masker.

- Tidak memelihara binatang, seperti : kucing, anjing, burung dan sebagainya.

- Hindari tempat yang lembab dan pengap

- Hindari asap dan bau yang merangsang misalnya dari rokok, parfum, obat nyamuk dan lain-lain.

J. EVALUASI HASIL

Sesaat

Melihat dan menilai pola pernafasan, postur, sputum setelah melakukan latihan apakah terjadi perubahan atau tidak.

Berkala

Setelah dilakukan beberapa kali terapi diharapkan problematik Fisioterapi berkurang atau hilang sama sekali.

K. PEMBERIAN ALAT BANTU SESUAI JENIS PENYAKIT

1. Spirometer yaitu untuk mengatur kapasitas paru.

2. IPPB (Intermintaan Presue Purseli Breathing) diberikan pada kondisi yang kronik, yang berfungsi untuk melancarkan pernafasan, melonggarkan jalan nafas dan melancarkan sekresi.

L. SARAN-SARAN

- Sebaiknya penderita berusaha untuk menghindari, faktor-faktor yang dapat menimbulkan kambuhnya suatu penyakit ( Faktor Elergen).

- Sebaiknya penderita mengatur pola makanan dan olahraga yang akan dilakukan.

Informasi Mengenai Sprain Ankle

Sebuah bola ke belakang, Anda mendapatkan jelas, bersiaplah untuk mendapatkan hit sebanyak mungkin bola, Anda telah melihat lubang di mana ketegangan itu, ini membuat Anda berkata, tiba-tiba menusuk rasa sakit, ada sesuatu yang salah, untuk menghentikan Anda kaki telah diperlambat, Anda menekuk pergelangan kaki, bola melewati Anda saat Anda menyentuh tanah dan kompres dengan sikap penderitaan, Anda langsung tahu telah terjadi beberapa kali. Continue reading

Regenerasi Saraf Dengan Teknologi Laser

Regenerasi Saraf Dengan Teknologi LaserSistem saraf tepi terdiri dari sistem saraf sadai dan sistem saraf tak sadar (sistem saraf otonom). Sistem saraf sadar mengontrol aktivitas yang kerjanya diatur oleh otak, sedangkan saraf otonom mengontrol aktivitas yang tidak dapat diatur otak antara lain denyut jantung, gerak saluran pencernaan, dan sekresi keringat.

Saraf merupakan bagian tubuh yang sulit dilihat dengan mata telanjang, sehingga kerusakan yang terjadi kadang tidak disadari. Untuk itu ketahui beberapa gejala yang muncul jika mengalami kerusakan saraf tepi (neuropati). Continue reading

AFR Pada Amputasi Tangan

PENDAHULUAN

Pengertian

Amputasi merupakan tindakan operasi dengan jalan memotong anggota atau organ tubuh sebagian atau seluruhnya, yang pada umumnya dilakukan pada angota gerak. Yang dibahas di sini adalah amputasi pada tangan. Amputasi tangan merupakan tindakan operasi dengan jalan memotong anggota tubuh pada extremitas superior yang mana potongan dilakukan pada bagian wrist pemisahan antara telapak tangan dan regio anterbrachium.

Perubahan patologi

Perubahan patologi merupakan pendorong dilakukan amputasi. Ada beberapa indikasi antara lain:

- Akibat adanya trauma ulang seperti fraktur yang di ikuti jaringan nekrosis dan menimbulkan pembusukan.

- lnfeksi tulang

- Kanker / Tumor tulang

-  Gangurn sirkulasi darah seperti: Burge diseases dan gangrene

-  Genital Ampitatum atau perbaikan fungsi tubuh agar dapat berguna untuk ambulansi dan beraktifitas.

Gejala — gejala yang timbul sebelum dilakukan amputasi, dikaitkan dengan indikasi yang timbul atau faktor penyebab maka gejala yang timbul adalah:

• Nyeri

• Pembengkakan pada sekitar wrist

• Keterbatasan ROM pada elbow dan shoulder

• Nekrosis jaringan yang menimbulkan pembusukan

Setelah Amputasi dilakukan, timbul problem-problem atau terjadi komplikasi seperti:

• Ruftura kulit : Terjadi robekan pada kulit

• Haematoma : Pembengkakang hasil operasi karena penimbunan darah di ujung amputasi

• Neuroma : Perasaan nyeri karena ada saraf, arteri yang terpotong

• Bad stump (ujung stump yang jelek)

• Phantom pain:  Masih adanya rasa nyeri pada angota badan yang sebenarnya sudah tidak ada

• Phantom sensation : Masih merasa kalau masih ada rasa gatal tapi kulitnya sebenarnya sudah tidak ada

• Osteomylisis : Infeksi yang terjadi pada tulang yang disebabkan oleh kuman

• Stiff Joint (Elbow dan Shoulder) Terjadinya kekuatan pada sendi

• Kontraktur Otot : Pengenduran otot

Problem/hambatan aktifitas sehari-hari

Adanya amputasi atau hilangnya sebagian organ tubuh yaitu tangan akan mempengaruhi aktifitas kegiatan sehari-hari, apalagi jika tangan yang dominan. Aktifitas yang terhambat akibat amputasi tangan yaitu makan dan minum, berpakaian, membersihkan dan mengatur diri, kegiatan kamar mandi seperti buang air besar, kecil dan mandi.

Jika setelah diamputasi tidak dilakukan kegiatan maka akan terjadi kekakuan karena pasien ragu untuk menggunakan tangan bekas amputasi.

Pemeriksaan fisik

Agar aktifitas kegiatan sehari-hari tidak terhambat maka perlu adanya latihan. Namun yang perlu diketahui sebelum latihan harus ada pemeriksaan fisik berupa inspeksi, palpasi (ROM dan MT)

Auskultasinya. Inspeksi yang dilakukan yaitu melihat atau mengetahui apakah ada kelemahan-kelemahan yang timbul setelah dilakukan amputasi. lnspeksi yang dilakukan antara lain:

- Gerakan-gerakan apa saja yang biasa dilakukan oleh tangan yang diamputasi

-  Perubahan postur

-  Oedema pada puntung amputasi

Selain di inspeksi harus diadakan MT dan pengukuran ROM. MT yang dilakukan yaitu pada group Musculus Nexor Elbow, Nexor Shoulder, Extensor Elbow dan Shoulder, Pronator dan Supinator, Abduktor dan Abduktor Shoulder serta rotator medial dan lateral shoulder.

Pengukuran ROM dilakukan dengan menggunakan Genio Meter. Tujuan pengukuran ROM adalah untuk mengetahui seberapa besar jarak gerak sendi pada Shoulder Joint dan Elbow Joint. Pengukuran ROM dilakukan pada semua gerakan pada kedua sendi (shoulder & elbow).

Pada kondisi ini tidak dapat dilakukan Auskultasi karena Auskultasi merupakan pemeriksaan pendengaran.

Tujuan AFR

Tujuan dilakukannya AFR yakni:

- Agar penderita dapat melakukan kegiatan hidup sehari-hari dengan tangannya atau dengan kata lain mencegah one hand edness’ (penggunaan satu tangan saja)

- Mencegah Suff Joint dan kontraktur khususnya pada elbow dan shoulder

- Mengajarkan proses untuk memakai protesa secara tepat dan benar

-  Mengurangi beban mental

- Agar pasien dapat melakukan kegiatan hidup sehari-hari dengan menggunakan alat Bantu atau palsu.

Aktifitas yang diberikan atau diprogramkan

Aktifitas yang diprogramkan harus sesuai dengan program dari AFR yang mana:

-  Perlu penyesuaian jenis amputasinya

-  Unsure penderitaan dan pekerjaan serta lokasi tempat tinggalnya

-  Jumlah tanggungan keluarga

- Alat Bantu yang digunakan sehari-hari / alat palsu

Pemilihan jenis AFR juga harus berdasarkan kondisi penderita yakni problem yang ada dan dialami dan dapat mengganggu kehidupan sehari-hari jenis aktifitas yang harus diberikan yaitu:

-  Dam-dam yang ditinggikan

- Permainan kartu untuk melatih gerakan memegang dan secara halus

-  Membersihkan sepeda.

Aktifitas fungsional seperti:

- Penggunaan berbagai macam kunci

- Membuka pintu

-  Memungut korek api

- Membuang air

- Menaruh sepatu

- Menimba air dari sumur

- Untuk pekerjaan yang harus dilakukan dengan skrup dan baut ,

- Mesin gergaji dengan potongan gergaji yang besar

Aktifitas yang diberikan juga hendaknya disesuaikan dengan profesi penderita.

Keamanan yang harus diperhatikan pada pasien

Keamanan yang harus diperhatikan pada pasien yang mengalami amputasi pada tangan yaitu:

- Pembalutan pada puntung amputasi

- Pengunaan pakaian khususnya kemeja, jas, dan juga baju hangat, yang mana harus dihindari kemeja yang sempit dan yang berlengan panjang, dan juga hindari baju yang harus disisipkan kedalam celana.

Evaluasi

Evaluasi dibagi dua yaitu sesaat dan berkala. Evaluasi sesaat yaitu pada saat dilakukan latihan sedangkan berkala yaitu setelah beberapa kali melakukan latihan.

Komplikasi yang timbul akibat amputasi tersebut dapat dipulihkan kembali dan juga pasien dapat melakukan aktifitas kegiatan sehari-hari dengan menggunakan bekas amputasi.

Pemberian alat bantu sesuai cacatnya

Bagian tubuh atau organ tubuh yang hilang atau diamputasi yaitu tangan dapat dibantu dengan tangan palsu. Tangan palsu ini bentuk seperti lengan bawah sampai tangan dan dipasang mulai dari elbow.

Selain tangan palsu biasa juga menggunakan karet yang diikat pada puntung tangan yang telah diamputasi yang mana alat Bantu ini dipake pada saat pasien akan melakukan aktifitas yaitu makan.

Pada pasien amputasi sering juga digunakan alat Bantu seperti MiteIIa yang mana digunakan setelah dilaksanakan amputasi atau baru diamputasi. Mitella ini digunakan untuk menggendong lengan yang diamputasi.

Saran — saran

Bagi pasien amputasi tangan, diminta untuk tidak memanjakan tangan bekas amputasi, sering melakukan latihan serta selalu menjaga kebersihan pada puntung amputasi.

Bagi keluarga pasien diharap untuk selalu membantu dan memotivasi pasien.

AFR Pada Penderita Diabetes Mellitus (DM)

Diabetes Mellitus

Diabetes MellitusBab I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan manusia seutuhnya terkait dengan semua aspek kehidupan manusia seperti demografi. Keadaan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat, keadaan dan perkembangan Iingkungan fisik dan biologis serta sosial budaya, termasuk sumber daya khususnya dibidang ,kesehatan.

Sasaran pembangunan kesehatan yaitu terselenggaranya layanan kesehatan yang makin bermutu dan merata yang mampu wujudkan manusia tangguh, sehat, dan produktif. Pembangunan bidang kesehatan telah mengalami kemajuan yang ditandai dengan makin tingginya derajat kesehatan masyarakat, luasnya cakupan upaya layanan dan semakin meratanya hasil-hasil pembangunan dibidang  kesehatan yang telah dinikmati oleh masyarakat. Maka itu perlunya motivasi yang kuat dan sungguh-sungguh dan disertai keikhlasan dalam menjalankan profesi dibidang pelayanan kesehatan.

TUJUAN

Tujuan umum

Menyajikan AFR pada penderita dengan berbagai kondisi.

Tujuan khusus

2.1. Melatih AFR pada penderita DM dengan cara ADL sehari-hari

2.2. mempertahankan ketahanan fisik, ROM dan mendukung sifat/fungsi psikososial

Bab II

PEMBAHASAN

A. DEFINISI / PENGERTIAN DIABETES MILITUS

Diabetes militus adalah kelainan metabolisme yang dturunkan secara genetik akibat karena glikemia puasa. atreosklerosis. dan kelainan neoropatis atau Diabetes militus adalah keadaan hiperglikimia kronik disertai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal saraf dan pembuluh darah disertai lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop dengan mikroskop electron.

B. PERUBAHAN PATOLOGI

1. Penyebab

Diabetes militus dibedakan/terbagi atas:

IDDM (Insulin Dependent Diabetes Militus) atau diabetes militus tergantung insulin yang disebabkan destruksi sel B pulau langerhans akibat proses autoimun dan NIDDM (Non IDDM) atau Diabetes militus tidak tergantung insulin disebabkan kegagalan relative sel B dan Resistensi lnsun atau turunnya kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan glukosa oleh hati. Oleh sebab itu sel tidak mampu mengimbangi resistensi ini sepenuhnya, artinya terjadinya defisiensi relative insulin. Ketidakmampuan ini dilihat dari berkurangnya sekresi insulin pada rangsangan glukosa, maupun pada rangsangan bersama bahan perangsang sekresi insulin lain. Berarti sel B pancreas desensitisasi terhadap glukosa.

2. Gejalah-gejalah

A. Poli uria (banyak kencing).

B. Poli dipsia (banyak minum).

C. Poli pagia (banyak makan).

D. Rasa gatal-gatal.

E. Rasa manis pada kencing yang tandai dengan air kemih penderita dikerumuni semut.

F. Hasil tes toleransi glukosa yang has baik gula darah puasa atau rutin/sewaktu.

G. Hasil pemeriksaan glukotes positif.

H. Lemas.

I.berat badan turun.

J. Kesemutan.

K Mata kabur.

L. Impotensi pada pria.

M. Pruritus vulva pada wanita.

Komplikasi

A. Akut:

1 Koma Hipoglekemia

2. Keroasidosis

3, Koma Hiperosmolar non Ketotik

B. Kronis

1. Makroangiopati, mengenai pembuluh darah besar, pembuluh darah jantung, pembuluh darah tepi, pembuluh darah otak.

2. Makroangiopati, mengenai pembuluh darah kecil, retinopati diabetik, nefropati diabetik,

3 Neuropati diabetic.

4. Rentan infeksi seperti TBC paru, Gingivitis dan infeksi saluran kemih.

5 Kaki diabetic.

C. PROBLEM ATAU HAMBATAN AKTIVITAS KEGIATAN SEHARI-HARI

Di lihat dari gejala yang ditimbulkan hambatan tersebut dapat berupa

• Rentan terhadap infeksi:

Maka sebaliknya latihan diprioritaskan pada tempat-tempat di Rumah Sakit seperti ruangan pemeriksaan atau penyakit dan sebagainya.

• Mengingat penyakit ini dapat menyebabkan berbagai komplikasi sebaiknya latihan menurut petunjuk dokter yang disesuaikan dengan pengobatan.

D. PEMERIKSAAN FISIK

1. Aspek jasmani

a. Penglihatan;

Penderita dapat membedakan warna, dapat melihat lubang kencing (apakah ada katarak).

b. Cepat Ielah

c. Dan tugas makin lama ditambah beratnya

- Untuk ibu:

a. Mulai ADL pribadi tanpa kesulitan Misalnya makan, minum, berpakaian.

b. ADL Iebih luas / pekerjaan RT dapat dilaksanakan di ruangan Misalnya : cuci piring, menyulam, meremas pakaian, menanam bunga, dan lain-lain.

- Untuk anak-anak:

ADL menurut umumya:

Misalnya permainan dengan bola teka-teki dan lain-lain.

E. PELAKSANAAN PEMBERIAN AKTIVITAS

1. Misalnya mempertahankan ROM.

Pada semua penderita dapat dilakukan dengan latihan bola sendirian (untuk anggota atas atau bawah) atau bersama dengan penderita lain di luar ruangan dengan cara duduk atau berdiri.

2. mempertahankan kekuatan fisik melalui kegiatan sehari-hari. Dapat dilakukan dengan cara melaksanakan kegiatan sehari-hari seperti makan sendiri, minum, mandi, berpakaian, ataupun kerajinan tangan yang lain.

3. untuk mendukung sifat dan psikososial dapat dilakukan dengan cara mernberikan dorongan kepada . penderita disamping melatihnya, bahwa dia dapat melakukan itu sendiri.

F. KEAMANAN YANG HARUS DIPERHATIKAN PADA PASIEN

1. Kita harus memikirkan waktu memberikan aktivitas pada penderita waktu makan, minum obat, suntikan dan lain-lain sebagainya dalam memberikan latihan tidak boleh sampai menyita waktu dari kebutuhan penderita.

2. Jagalah supaya penderita dengan cara yang aman mencegah terjadinya luka-Iuka.

3. Mencegah mata jangan terlalu lelah.

4. Mendidik supaya penderita supaya duduk jongkok, berdiri, dengan posisi yang betul, mencegah kecapaian kesakitan pada otot kalau posisi salah.

5. Mendukung penderita supaya komplikasi yang lain jangan sampai timbul.

Dan tugas makain lama ditambah beratnya

- Untuk ibui :

a. Mulai ADL pribadi tanpa kesulitan

Misalnya, makan, minum, berpakaian.

b. ADL lebih Iuas/pekerjaan RT dapat dilaksanakan di ruangan MisaInya cuci piring, menyulam, meremas pakaian, menanam bunga, dan lain-lain.

- Untuk anak-anak

ADL menurut umumya:

Misalnya : permainan dengan bola teka-teki dan Iain-lain.

G. PELAKSANAAN PEMBERIAN AKTVITAS

1. Misalnya mempertahankan ROM.

Pada semua penderita dapat dilakukan dengan latihan bola sendirian (untuk anggota atas atau bawah) atau bersama dengan penderita lain di luar ruangan dengan cara duduk atau berdiri.

2. mempertahankan kekuatan fisik melalui kegiatan sehari-hari.

Dapat dilakukan dengan cara melaksanakan kegiatan sehari-hari seperti makan sendiri, minum, mandi, berpakaian ataupun kerajinan tangan yang lain.

3. untuk mendukung sifat dan psikososial dapat diakukan dengan cara memberikan dorongan kepada penderita disamping melatihnya, bahwa dia dapat melakukan itu sendiri.

H. KEAMANAN YANG HARUS DIPERHATIKAN PADA PASIEN

1. Kita harus memikirkan waktu memberikan aktivitas pada penderita waktu makan, minum obat, suntikan dan lain-lain sebagainya dalam memberikan latihan tidak boleh sampai menyita waktu dari kebutuhan penderita.

2. Jagalah supaya penderita dengan cara yang aman mencegah terjadinya luka-Iuka.

3. Mencegah mata jangan terlalu lelah.

4. Mendidik supaya penderita supaya duduk jongkok, berdiri, dengan posisi yang betul, mencegah kecapaian kesakitan pada otot kalau posisi salah.

5. Mendukung penderita supaya komplikasi yang lain jangan sampai timbul.

6. Mendukung penderita mengenal dietnya.

7. Memberi peranan pada anggota keIuarga mengenai keamanan tersebut di atas dan aturan-aturan kegiatan-kegiatan, istirahat, makan.

I. EVALUASI

Evaluasi dapat dilakukan dengan cara:

Evaluasi sesaat:

Kegiatan AFR dapat meringankan:

- Rasa putus asa

- GeIisah

- Ketakutan pada penderita Evaluasi berkala:

Dengan melatih penderita ADL.. sehari-hari diharapkan penderita dapat mengembalikan kemampuan fungsional dan gerak agar dalam interaksinya dia tidak tergantung orang lain.

- Dengan latihan ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan fisik atau ROM agar lebih tertingkatkan.

J. PEMBERIAN ALAT BANTU SESUAI KECATATAN

Penyakit DM bisa menyebabkan amputasi anggota tubuh dan menyebabkan cacat, dikarenakan luka DM sukar sembuh dan dapat menyebabkan banyak jaringan tubuh mengalami nekrosis. Alat bantu yang diberikan misalnya:

- Tongkat atau kursi roda untuk membantu penderita berjalan dalam melaksanakan ADL sehari-hari.

- Pengalas tangan saat bekerja dan berjalan ditambah pengalas kaki dan lain-lain.

K. SARAN/HOME PROGRAM

1. Penderita harus patuh untuk diet dan mengkonsumsi obat-obatan sesuai pengobatan.

2. Penderita harus selalu mengontrol darah gula.

3. Penderita harus melakukan ADL sehari-hari untuk mempertahankan ketahanan otot dan mempertahankan ROM.

4. Sebagai seorang fisioterafis, kita harus memberikan support bahwa penyakitnya itu dapat disembuhkan.

5. Penderita tidak boleh takut, gelisah, atau putus asa.

Osteoartritis dan Penyebabnya

Definisi

Osteoartritis adalah penyakit peradangan sendi yang sering muncul pada usia lanjut. Jarang dijumpai pada usia dibawah 40 tahun dan lebih sering dijumpai pada usia diatas 60 tahun.

Etiologi

Penyebab dari osteoartritis hingga saat ini masih belum terungkap, namun beberapa faktor resiko untuk timbulnya osteoartritis antara lain adalah : Continue reading