Search Results for: proses penuaan ppt

Metabolisme Energi Secara Aerobik

Metabolisme Energi Secara Aerobik

Metabolisme Energi Secara AerobikPada jenis-jenis olahraga yang bersifat ketahanan (endurance) seperti lari marathon, bersepeda jarak jauh (road cycling) atau juga lari 10 km, produksi energi di dalam tubuh akan bergantung terhadap sistem metabolisme energi secara aerobik melalui pembakaran karbohidrat, lemak dan juga sedikit dari pemecahan protein. Oleh karena itu maka atlet-atlet yang berpartisipasi dalam ajang-ajang yang bersifat ketahanan ini harus mempunyai kemampuan yang baik dalam memasok oksigen ke dalam tubuh agar proses metabolisme energi secara aerobik dapat berjalan dengan sempurna.

Proses metabolisme energi secara aerobik merupakan proses metabolisme yang membutuhkan kehadiran oksigen (O2) agar prosesnya dapat berjalan dengan sempurna untuk menghasilkan ATP. Pada saat berolahraga, kedua simpanan energi tubuh yaitu simpanan karbohidrat (glukosa darah, glikogen otot dan hati) serta simpanan lemak dalam bentuk trigeliserida akan memberikan kontribusi terhadap laju produksi energi secara aerobik di dalam tubuh. Namun bergantung terhadap intensitas olahraga yang dilakukan, kedua simpanan energi ini dapat memberikan jumlah kontribusi yang berbeda.

Secara singkat proses metabolisme energi secara aerobik dapat dilihat bahwa untuk meregenerasi ATP, 3 simpanan energi akan digunakan oleh tubuh yaitu simpanan karbohidrat (glukosa,glikogen), lemak dan juga protein. Diantara ketiganya, simpanan karbohidrat dan lemak merupakan sumber energi utama saat berolahraga dan oleh karenanya maka pembahasan metabolisme energi secara aerobik pada tulisan ini akan difokuskan kepada metabolisme simpanan karbohidrat dan simpanan lemak.

Pembakaran Karbohidrat
Secara singkat proses metabolime energi dari glukosa darah atau juga glikogen otot akan berawal dari karbohidrat yang dikonsumsi. Semua jenis karbohidrat yang dkonsumsi oleh manusia baik itu jenis karbohidrat kompleks (nasi, kentang, roti, singkong dsb) ataupun juga karbohidrat sederhana (glukosa, sukrosa, fruktosa) akan terkonversi menjadi glukosa di dalam tubuh. Glukosa yang terbentuk ini kemudian dapat tersimpan sebagai cadangan energi sebagai glikogen di   dalam hati dan otot serta dapat tersimpan di dalam aliran darah sebagai glukosa darah atau dapat juga dibawa ke dalam sel-sel tubuh yang membutuhkan.

Di dalam sel tubuh, sebagai tahapan awal dari metabolisme energi secara aerobik, glukosa yang berasal dari glukosa darah ataupun dari glikogen otot akan mengalami proses glikolisis yang dapat menghasilkan molekul ATP serta menghasilkan asam piruvat. Di dalam proses ini, sebanyak 2 buah molekul ATP dapat dihasilkan apabila sumber glukosa berasal dari glukosa darah dan sebanyak 3 buah molekul ATP dapat dihasilkan apabila glukosa berasal dari glikogen otot.

Setelah melalui proses glikolisis, asam piruvat yang di hasilkan ini kemudian akan diubah menjadi Asetil-KoA di dalam mitokondsia. Proses perubahan dari asam piruvat menjadi Asetil-KoA ini akan berjalan dengan ketersediaan oksigen serta akan menghasilkan produk samping berupa NADH yang juga dapat menghasilkan 2-3 molekul ATP. Untuk memenuhi kebutuhan energi bagi sel-sel tubuh, Asetil-KoA hasil konversi asam piruvat ini kemudian akan masuk ke dalam siklus asam-sitrat untuk kemudian diubah menjadi karbon dioksida (CO2), ATP, NADH dan FADH2 melalui tahapan reaksi yang kompleks. Reaksi-reaksi yang terjadi dalam proses yang telah disebutkan dapat dituliskan melalui persamaan reaksi sederhana sebagai berikut:

Asetil-KoA + ADP + Pi + 3 NAD + FAD + 3H2O —> 2CO2+ CoA + ATP + 3 NADH + 3 + FADH 2

Setelah melewati berbagai tahapan proses reaksi di dalam siklus asam sitrat, metabolisme energi dari glukosa kemudian akan dilanjutkan kembali melalui suatu proses reaksi yang disebut sebagai proses fosforlasi oksidatif. Dalam proses ini, molekul NADH dan juga FADH yang dihasilkan dalam siklus asam sitrat akan diubah menjadi molekul ATP dan H2O. Dari 1 molekul NADH akan dapat dihasilkan 3 buah molekul ATP dan dari 1 buah molekul FADH2 akan dapat menghasilkan 2 molekul ATP. Proses metabolisme energi secara aerobik melalui pembakaran glukosa/glikogen secara total akan menghasilkan 38 buah molukul ATP dan juga akan menghasilkan produk samping berupa karbon dioksida (CO2) serta air (H2O). Persamaan reaksi sederhana untuk mengambarkan proses tersebut dapat dituliskan sebagai berikut :

Glukosa + 6O2 +38 ADP + 38Pi —> 6 CO2 + 6 H2O + 38 ATP

Pembakaran Lemak
Langkah awal dari metabolisme energi lemak adalah melalui proses pemecahan simpanan lemak yang terdapat di dalam tubuh yaitu trigeliserida. Trigeliserida di dalam tubuh ini akan tersimpan di dalam jaringan adipose (adipose tissue) serta di dalam sel-sel otot (intramuscular triglycerides). Melalui proses yang dinamakan lipolisis, trigeliserida yang tersimpan ini akan dikonversi menjadi asam lemak (fatty acid) dan gliserol. Pada proses ini, untuk setiap 1 molekul trigeliserida akan terbentuk 3 molekul asam lemak dan 1 molekul gliserol .

Kedua molekul yang dihasilkan melalu proses ini kemudian akan mengalami jalur metabolisme yang berbeda di dalam tubuh. Gliserol yang terbentuk akan masuk ke dalam siklus metabolisme untuk diubah menjadi glukosa atau juga asam piruvat. Sedangkan asam lemak yang terbentuk akan dipecah menjadi unit- unit kecil melalui proses yang dinamakan ß-oksidasi untuk kemudian menghasilkan energi (ATP) di dalam mitokondria sel

Proses ß-oksidasi berjalan dengan kehadiran oksigen serta membutuhkan adanya karbohidrat untuk menyempurnakan pembakaran asam lemak. Pada proses ini, asam lemak yang pada umumnya berbentuk rantai panjang yang terdiri dari ± 16 atom karbon akan dipecah menjadi unit-unit kecil yang terbentuk dari 2 atom karbon. Tiap unit 2 atom karbon yang terbentuk ini kemudian dapat mengikat kepada 1 molekul KoA untuk membentuk asetil KoA. Molekul asetil-KoA yang terbentuk ini kemudian akan masuk ke dalam siklus asam sitrat dan diproses untuk menghasilkan energi seperti halnya dengan molekul asetil-KoA yang dihasil melalui proses metabolisme energi dari glukosa/glikogen.

Proses Terjadinya Penuaan

1. Biologi

a. Teori “Genetic Clock”;

Teori ini menyatakan bahwa proses menua terjadi akibat adanya program jam genetik didalam nuklei. Jam ini akan berputar dalam jangka waktu tertentu dan jika jam ini sudah habis putarannya maka, akan menyebabkan berhentinya proses mitosis. Hal ini ditunjukkan oleh hasil penelitian Haiflick, (1980) dikutif Darmojo dan Martono (1999) dari teori itu dinyatakan adanya hubungan antara kemampuan membelah sel dalam kultur dengan umur spesies Mutasisomatik (teori error catastrophe) hal penting lainnya yang perlu diperhatikan dalam menganalisis faktor-aktor penyebab terjadinya proses menua adalah faktor lingkungan yang menyebabkan terjadinya mutasi somatik. Sekarang sudah umum diketahui bahwa radiasi dan zat kimia dapat memperpendek umur. Menurut teori ini terjadinya mutasi yang progresif pada DNA sel somatik, akan menyebabkan terjadinya penurunan kemampuan fungsional sel tersebut. Continue reading

Proses Penyembuhan Luka

Proses penyembuhan luka sangat mempengaruhi terjadinya sikatrik dan jaringan yang menyebabkan kontraktur, untuk itu perlu diingat kembali fase-fase penyembuhan luka.

1. Fase Inflamasi / fase substrat / fase eksudasi / lag phase
Biasanya berlangsung mulai hari pertama luka sampai hari kelima. Fase ini bertujuan menghilangkan mikroorganisme yang masuk kedalam luka, benda¬benda asing dan jaringan mati. Semakin hebat infamasi yang terjadi makin lama fase ini berlangsung, karena terlebih dulu harus ada eksudasi yang diikuti penghancuran dan resorpsi sebelum fase proliferasi dimulai. Continue reading

Efek Fisiologi Latihan Dalam Olahraga

Efek Fisiologi Latihan Dalam OlahragaAda 2 tipe latihan untuk physical fitness :

1) latihan aerobik,

2) latihan anaerobik.

Latihan aerobik menggunakan bantuan oksigen untuk membakar sumber energi.Latihan anaerobik menggunakan sistem cadangan energi yang tersimpan dalam otot tanpa bantuan oksigen. Latihan aerobik dapat menimbulkan efek pada tingkat jaringan, pada sistem cardiovaskular, dan pada sistem respira-si.Latihan anaerobik hanya dapat menim-bulkan efek pada tingkat jaringan.

LATIHAN ANAEROBIK

Latihan anaerobik menggunakan sistem fosfagen (ATP-PC) & sistem glikolisis anaerobik (sistem asam laktat).Pada sistem fosfagen, sumber energi yang digunakan adalah phosfokreatin à sumber energi ini tersimpan dalam otot (mitokondria).Sistem fosfagen hanya terjadi selama 30 detik.

Pada sistem glikolisis anaerobik,  sum-ber energi yg digunakan adalah gliko-gen & glukosa.Sistem ini menghasilkan asam laktat à penyebab kelelahan.Sistem ini hanya menghasilkan 3 mole-kul ATP sebagai energi.Sistem ini menyediakan energi selama 1 – 3 menit.

EFEK PADA TINGKAT JARINGAN

Meningkatnya kapasitas sistem fosfagen atau sistem energi fosfat (ATP-PC) à karena bertambahnya cadangan ATP-PC dalam otot & bertambahnya aktivitas enzim dalam sistem energi fosfat.Meningkatnya kapasitas glikolisis anaerobik à karena meningkatnya enzim fosfofruktoki-nase (Pfk) yg berperan dalam glikolisis anaerobik.Meningkatnya persentase serabut otot tipe FT (fast-twitch).Meningkatnya perekrutan motor unit tipe FT. Continue reading

Tentang Persepsi

Sebuah proses internal yang dinamakan persepsi, yang bermanfaatsebagai sebuah alat penyaring (filter) dan sebagai metode untukmengorganisasi stimuli yang memungkinkan kita menghadapi lingkungan kita. Proses persepsi tersebut menyediakan mekanisme melalui seleksi stimuli dan dikelompokkan dalam wujud yang berarti. Akibatnya adalah bahwa kita lebih dapat memahami gambaran mengenai lingkungan yang diwakili oleh stimuli tersebut (Winardi, 2002). Persepsi pada hakekatnya adalah proses kognitif yang dialami oleh seseorang di dalam memahami informasi tentang lingkungan, baik melalui penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan dan penciuman (Thoha, 1980). Continue reading

Kontraindikasi dari thalassotherapy

Tidak seperti semua manfaat yang ditawarkan oleh metode pengobatan, dan jika diberikan kepada pasien dengan yang berkembang dengan baik teknik, baik proporsional, tetapi terutama diterapkan dengan baik dan memberikan tindak lanjut, tidak ada kontraindikasi yang merugikan, tetapi jika mereka pergi ke pusat-pusat yang dimulai dengan pengalaman, mungkin memiliki penurunan pasien, yang terbaik adalah untuk mencari pusat dan berkembang dengan baik.

Diakui bahwa praktik-praktik ini tidak dianjurkan pada orang yang menderita gangguan fungsional berat proses kanker organik, penyakit jantung dekompensasi, proses hipertensi vaskuler berat pada fase evolusi, ginjal atau hati dan, secara umum, proses atau fase demam akut evolusi, dan seperti pada orang hyperexcitable atau penderitaan proses psikotik serius. Continue reading

Fisioterapi Pada Lansia

Perubahan fisiologik pada usia lanjut, mengakibatkan kemunduran fungsi alat tubuh, yang bermuara pada menurunnya kapasitas fisik dan kemampuan fungsional. Penurunan kondisi yang berhubungan dengan fisioterapi antara lain pada :
1. Otot muscular : terjadi penurunan kekuatan, daya tahan dan tonus
2. Neural : Reflex menurun dan koordinasi
3. Skeletal : Tulang menjadi keropos (Osteoporosis)
4. Articular : Diskus menurun elastsitasnya, joint space menyempit, terjadi limitasi gerak Continue reading

Stimulus

Stimulus
1. Ambang absolute bawah (underwood, 1949) atau ambang stimulus (Townsend, 1953); yaitu kekuatan stimulus minimal yang dapat disadari oleh individu.
2. Ambang perbedaan: kemampuan individu dalam membedakan stumulus yang satu dengan yang lain berbeda kekuatannya.
3. Ambang absolute atas atau ambang terminal : yaitu kekuatan stimulus maksimal, dimana kekuatan stimulus yang ada diatasnya sudah tidak dapat disadari lagi.
Range antara ambang stimulus dengan ambang terminal merupakan daerah kekuatan stimulus yang dapat disadari kekuatannya.
Subliminal ;stimulus di bawah amabng stimulus. Supraminal; stimulus diatas ambang terminal, misalnya kekuatan penglihatan 390 – 760 milimokron (< 390 subliminal ) dan (> 760 supraminal), pendengaran 20 – 20.000 Hz. Continue reading

Refleks proses dalam disfungsi vertebrogenic

Meskipun pentingnya faktor mekanik untuk patogenesis, tidak identik dengan penyakit klinis. Pasien umumnya tidak cenderung mengeluh gangguan mobilitas, melainkan rasa sakit, baik di punggung, tungkai, kepala, atau jeroan. Mereka bahkan mungkin menderita pembatasan gerakan yang cukup besar, namun mereka tidak memperhatikan ini. Pemeriksaan kadang-kadang bahkan mengungkapkan tanda-tanda rritation nociceptive (titik pemicu laten atau zona hyperalgesic pada kulit), namun pasien tidak merasa sakit. Penjelasannya terletak pada kapasitas dari sistem saraf untuk bereaksi. Kita sekarang perlu tahu bagaimana itu adalah bahwa disfungsi menghasilkan rasa sakit. Continue reading

Sifat dan Manfaat Thalassotherapy

Sifat thalassotherapy berkaitan dengan kimia air, ganggang dan udara. Mulai menunjukkan manfaat setelah 7 hari berturut-turut dengan pengobatan.

Komposisi air laut adalah sama dengan plasma darah. Ini berarti bahwa sifat kimia mereka sehingga mudah diserap oleh tubuh dan mengembalikan keseimbangan osmotik. Proses alami terjadi pada semua sel hidup dan didasarkan pada fluks air dengan difusi, hasilnya adalah untuk menyeimbangkan tubuh dalam faktor kimia yang rendah atau nol. Continue reading