Search Results for: saraf perifer

Sistem Saraf Tepi

Sistem saraf tepi/perifer terdiri dari Saraf Kranial (yang berhubungan dengan otak) dan Saraf Spinal (yang berhubungan dengan medula spinalis), termasuk juga ganglia (kumpulan saraf). Sistem saraf tepi terdiri dari sel-sel saraf dan serabutnya yang terletak diluar otak dan medulla spinalis, yang merupakan penghubung ke bagian tubuh lainnya. Tipe sel saraf pada sistem saraf tepi:

  • Aferen/sensorik, merupakan sel saraf yang menghantarkan informasi dari reseptor sensorik pada tubuh menuju sistem saraf pusat.
  • Eferen/motorik, merupakan sel saraf yang menghantarkan informasi dari sistem saraf pusat menuju otot/kelenjar. Continue reading

Regenerasi Saraf Dengan Teknologi Laser

Regenerasi Saraf Dengan Teknologi LaserSistem saraf tepi terdiri dari sistem saraf sadai dan sistem saraf tak sadar (sistem saraf otonom). Sistem saraf sadar mengontrol aktivitas yang kerjanya diatur oleh otak, sedangkan saraf otonom mengontrol aktivitas yang tidak dapat diatur otak antara lain denyut jantung, gerak saluran pencernaan, dan sekresi keringat.

Saraf merupakan bagian tubuh yang sulit dilihat dengan mata telanjang, sehingga kerusakan yang terjadi kadang tidak disadari. Untuk itu ketahui beberapa gejala yang muncul jika mengalami kerusakan saraf tepi (neuropati). Continue reading

Nyeri Radicular

Intinya telah secara jelas telah dibuat bahwa rasa sakit dalam sistem lokomotor adalah karena stimulasi reseptor nyeri nosiseptif, kita harus melanjutkan untuk melihat bagaimana dan mengapa nyeri timbul dalam kasus kompresi akar. Kompresi mekanis saraf sendiri tidak menyebabkan sakit tapi anestesi, paresthesia, dan paresis. Namun, kita harus ingat bahwa disk hernia menyebabkan kompresi tidak dapat menimpa pada serabut saraf sampai setelah itu telah mempengaruhi dura dan sarung dural, yang kaya disertakan dengan reseptor nyeri (Wyke 1980), dan bahwa dengan setiap gerakan kaki dan bagasi dura sedang digosok-gosok disk. Dan seharusnya tidak lupa bahwa tanda Lasègue mengindikasikan keterlibatan meningeal, bahkan dalam sindrom kompresi akar. Hal ini sejalan dengan perjalanan klinis: pertama-tama ada rasa sakit biasanya parah, dan tanda-tanda defisit neurologis muncul kemudian. Pengamatan klinis lainnya mendukung hal ini. Cerny (1948), menggunakan autodermography untuk mempelajari pasien dengan nyeri radikuler, menemukan bahwa metode ini lebih dapat diandalkan dalam lokalisasi herniasi disk untuk segmen tertentu daripada tanda-tanda khas dari defisit neurologis. Hal ini dapat dipahami anatomis dalam saraf tulang belakang tidak mengandung serat dari satu segmen saja; mereka juga membawa serat sementara banyak dari segmen tetangga. Akibatnya, kegagalan saraf tulang belakang tunggal tidak biasanya menyebabkan tanda-tanda defisit. Ada tumpang tindih bidang akar saraf. Continue reading

Gejala Klinis Sindroma Guillain Barre

Sindroma Guillain BarreSindroma Guillain Barre adalah suatu kelainan sistem saraf akut dan difus (menyeluruh) yang mengenai radiks spinalis (saraf tulang belakang) dan saraf periter (tepi), kadang – kadang juga sampai ke saraf knanialis (kepala), yang biasanya timbul setelah suatu infeksi. Penyakit ini terdapat di seluruh dunia dan menyerang semua umur, namun tersering menyerang dewasa muda( ya bisa dibilang umur – umur kita ini rentan terserang).

Sindroma Guillain Barre merupakan suatu penyakit autoimun(reaksi sistem kekebalan tubuh), dimana proses imunologis tersebut mengenai sistem saraf perifer(tepi). Miroorganisme penyebabnya belum pernah ditemukan dan pada pemeriksaan patologis tidak ditemukan tanda – tanda radang.

Sindrom ini pertamanya hanya diduga disebabkan infeksi virus tetapi akhir – akhir ini terungkap bahwa virus bukan satu – satunya penyebabnya. Ada teori yang mengatakan merupakan suatu kelainan imunobiologik. Pada umumnya sindrom ini sering didahului oleh influenza atau infeksi saluran pernafasan bagian atas atau saluran percernaan. Nah loh….. ati – ati klo kena influenza, cepet – cepet ke dokter jangan sampai kebablasen ya. Nah temen – temen kie kasih tau lagi ya penyebab infeksi dari sindrom ini umumnya virus dari kelompok herpes. Sindrom ini juga dapat di dahului dengan vaksinasi, infeksi bakteri, gangguan endokrin, tidakan operasi, anestesi dan sebagainya. Continue reading

Apa itu Sindrom Guillain-Barre?

Sindrom Guillain-BarreApa Guillain-Barre Syndrome?
Guillain-Barre Syndrome adalah kelainan neurologis di mana sistem kekebalan tubuh menyerang bagian dari sistem saraf perifer. Ini adalah kelainan parah karena serangan tiba-tiba dan tak terduga. Gangguan dapat mengembangkan selama jam atau hari, atau mungkin diperlukan waktu hingga tiga atau empat minggu. Tahap kelemahan terbesar biasanya dalam dua minggu pertama setelah gejala muncul, dan pada minggu ketiga penyakit 90% dari semua pasien terlemah mereka.

Apa gejala sindrom Guillain-Barre?
Gejala pertama mencakup berbagai derajat kelemahan atau kesemutan sensasi di kaki, yang kadang-kadang menyebar ke lengan dan tubuh bagian atas. Gejala-gejala dapat meningkatkan intensitas sampai berikut atau tidak terjadi – dalam kasus ini, kelainan dianggap darurat medis:

  • otot tidak dapat digunakan sama sekali
  • pasien menjadi hampir lumpuh
  • mungkin menjadi sulit untuk bernapas
  • tekanan darah dan detak jantung dipengaruhi Continue reading

Teknik fisioterapi untuk Carpal Tunnel Syndrome

Carpal Tunnel SyndromeSebagian besar dari kita menggunakan tangan kita setiap hari di tempat kerja atau di rumah. Mungkin Anda telah menyadari rasa sakit atau kesemutan di dalamnya. Mungkin rasa sakit terjadi setelah aktivitas tertentu untuk sementara waktu, terutama sesuatu yang kita lakukan berulang kali. Akhirnya, ia datang tanpa peringatan atau mungkin rasa sakit bangun Anda di malam hari. Ini adalah gejala klasik dari carpal tunnel syndrome dan Anda harus membaca untuk mempelajari lebih lanjut tentang kondisi ini berpotensi melemahkan.

Apa sindrom carpal tunnel?

Carpal Tunnel Syndrome (CTS) adalah neuropati jebakan dari saraf perifer di lengan. N. medianus yang terperangkap atau dikompresi di pergelangan tangan pada sisi telapak tangan Anda. Terowongan karpal adalah ruang tertutup ditutupi oleh beberapa lapisan jaringan. Melalui terowongan ini, saraf median, bersama dengan sembilan tendon melewati. Selama gerakan pergelangan tangan dan jari-jari, tendon ini dan saraf harus geser lancar. Bila ada ketidakseimbangan antara ukuran tabung dan isinya, gerakan geser dicegah dan tekanan normal ditempatkan pada saraf median. Hasil tekanan ini dalam nyeri yang terasa di jari-jari dan pergelangan tangan yang khas. Continue reading

Pleksus Brachialis

Plexus brachialis adalah yang terbaik didefinisikan sebagai jaringan saraf yang membawa sinyal dari tulang belakang untuk bahu, serta lengan dan tangan. Anda dapat angin menderita cedera pleksus brakialis jika anda merusak salah satu dari mereka saraf dalam jaringan itu. Cedera pada pleksus brakialis berarti menderita kelumpuhan di lengan Anda, kurangnya, lemas kontrol otot di tangan Anda, lengan, pergelangan tangan, Anda bahkan mungkin kehilangan sensasi apapun di tangan atau lengan. Continue reading

Kekuatan dalam Bermain Basket

Kekuatan dalam Bermain Basket

Kekuatan dalam Bermain BasketKekuatan (Strength)
M. Sajoto (1983 : 16) menggemukan bahwa faktor-faktor penentu prestasi olahraga diklasifikasikan ke dalan 4 aspek, yaitu aspek biologis, aspek psikologis, aspek lingkungan dan aspek penunjang. Dari ke 4 aspek yang dikaji adalah aspek biologis, salah satunya adalah fisik terutama kekuatan otot tungkai.
Kekuatan adalah kemampuan otot-otot atau sekelompok otot untuk mengatasi suatu beban atau tahanan dalam menjalankan aktivitas (Soedarminto, 1992 ). Kekuatan otot adalah salah satu komponen kondisi fisik yang sangat penting untuk peningkatan kondisi fisik secara keseluruhan. 1) Kekuatan adalah daya penggerak setiap aktivitas fisik. 2) Kekuatan adalah peran yang penting dalam rangka terhindarnya cedera. 3) Dengan kekuatan dapat digunakan untuk berlari, lempar, pukulan, tolakan dan untuk stabilitas sendi-sendi (Harsono, 1988 : 77). Kekuatan otot adalah kemampuan otot atau sekelompok otot untuk melakukan kerja dengan menahan beban yang diangkat (M. Sajoto, 1983 : 16). Lebih lanjut dikatakan kekuatan atau strength adalah kemampuan fisik yang mengangkat masalah kemampuan seorang atlet pada saat dalam waktu kerja tertentu (M. Sajoto, 1983 : 17). Kekuatan otot adalah kekuatan yang digunakan oleh sekelompok otot tubuh dalam satu kontraksi maksimal (Harsono, 1988 : 176). Strength adalah kemampuan otot tubuh untuk membangkitkan tegangan terhadap suatu tahanan (Harsono, 1988 : 176

Anatomi Tungkai
Tungkai atas, yaitu dari pangkal paha sampai lutut, dalam istilah anatomi disebut femur. Tungkai bawah yaitu dari lutut sampai pergelangan kaki, dalam istilah anatomi disebut leg. Tungkai bawah ini terdiri dari dua tulang, yakni os tibia dan os fibula. Os tibia atau tulang kering kerangka yang utama dari tulang bawah dan berupa tulang pipa. Sedang os fibula atau tulang betis letaknya sebelah lateral tungkai bawah, berupa tulang pipa. Tempurung lutut terdapat diantara tungkai atas dan tungkai bawah.
Telapak kaki terdiri dari tarsalia, metatarsalia dan falanx. Tulang tarsalia mendukung beban berat saat berdiri dan berjumlah tujuh buah, yang secara kolektif dinamakan tarsus. Tulang-tulang metatarsalia hanya berjumlah lima buah dan berupa tulang pipa. Secara keseluruhan tulang-tulang tersebut berjumlah 31 buah yaitu :
1 Os koxa : tulang paha
1 Os femur : tulang paha
1 Os tibia : tulang kering
1 Os fibula : tulang betis
1 Os patella : tempurung lutut
7 Os tarsalia : tulang pangkal kaki
5 Os metatarsalia ; tulang telapak kaki
14 falanx : ruas jari-jari (PASI, 1995 : 4)

Otot-otot Tungkai
Pada umumnya otot dibagi menjadi 3 jenis yaitu : otot polos, jantung dan otot kerangka. Otot polos tidak mempunyai garis-garis melintang, sedang otot jantung dan otot kerangka mempunyai garis-garis melintang. Otot polos dan otot jantung dalam kontraksinya secara ritmik tanpa adanya persyarafan dari luar, disebabkan adanya sel-sel pengatur langkah “pacemaker” yang menimbulkan impuls secara spontan. Otot kerangka dalam kontraksinya karena adanya rangsangan saraf sebagai impuls menuju otot saraf motorik.
Otot akan menarik jika menerima rangsangan saraf dari pusat saraf atau otak memberitahukan untuk melakukan tarikan. Isyarat-isyarat ini dibawa oleh saraf yang terdiri dari sel-sel saraf yang khusus. Proses kontraksi yang kenyataannya dari suatu serabut otot dimulai pada saat serabut menerima impuls saraf elektris yang dihantar sel-sel saraf. Selain rangka tulang yang membentuk rangka tungkai, tungkai yang dibentuk oleh beberapa jaringan. Sebagian jaringan yang membentuk tungkai manusia adalah otot.
Dalam kontraksi otot sedirian, tetapi merupakan kelompok. Gerakan apapun yang diberikan merupakan hasil koordinasi gerakkan beberapa otot. Demikian halnya pada otot tungkai yang dalam melakukan kontrasi selalu dengan koordinasi antara otot satu dengan otot yang lain (Pearce Evelyn, 1986 : 21).

Kekuatan Otot Tungkai
Menurut M. Sajoto (1983 : 70) tubuh manusia terdiri dari banyak sekali jaringan otot masing-masing mempunyai fungsi tertentu dalam kehidupan sehari-hari. Jaringan otot keseluruhan merupakan satu kesatuan yang cukup besar dan membentuk berat badan manusia.
James A. Baley (1986 : 16) menyebutkan ada 656 otot dan tulang dalam tubuh manusia, dan masing-masing mempunyai fungsi tertentu. Sedangkan Soekarman (1997 : 30) menerangkan bahwa untuk mencapai suatu prestasi dalam bidang olahraga disamping latihan rutin juga harus dipenuhi faktor-faktor lainnya. Faktor lain itu antara lain : Keadaan (somatic), umur, psikis, bentuk tubuh / hibitus
mempunyai arti yang besar dan dapat menimbulkan prestasi seseorang. Dengan memperhatikan hal tersebut diatas, seseorang yang ingin memperoleh prestasi optimal harus pula unsur-unsur genetis (faktor antropometri).

Penanganan Luka-luka Pada Tinju

Penanganan Luka-luka Pada Tinju

Penanganan Luka-luka Pada TinjuPenanganan Luka-Luka
Penanganan cedera pada olah raga tinju tergantung jenis dan beratnya serta tingkat kegawatdaruratannya. Pada perlukaan kulit kepala, perdarahan seringkali banyak sehingga perlu pemeriksaan teliti dan penghentian perdarahan. Pemeriksaan dilakukan di sisi ring tinju dengan sarung tangan steril untuk memeriksa adanya fraktur. Fraktur impresi seringkali hanya menimbulkan jejas lokal dan tidak menyebabkan hilangnya kesadaran sehingga seringkali terlewatkan. Pasien yang dicurigai mengalami fraktur harus dihentikan dulu perdarahannya dengan cara menutup luka kulit kepala dengan jahitan satu-satu sebelum dibawa ke rumah sakit. Luka-luka kecil dapat dijahit dengan silk 2/0 atau 3/0. Bila ada tanda-tanda herniasi jaringan otak melalui luka di tengkorak, maka harus ditutup dengan kasa steril yang dibasahi dengan PZ dan segera dikirim ke fasilitas bedah saraf (McLatchie, 1994).

Penanganan concussion
Evaluasi di lapangan (on-the-field evaluation )
Tujuan terpenting pemeriksaan di lapangan adalah membuat diagnosis yang akurat dan lengkap tentang tingkat kesadaran dan menyingkirkan adanya cedera lain terutama cedera servikal. Dalam hal ini petugas medis harus mengetahui mekanisme cedera kepala, apakah akibat kontak langsung dengan permukaan keras atau gaya akselerasi-deselerasi yang mengenai kepala dan whiplash yang mengenai leher. Saat memeriksa, perlu diperhatikan postur, gerakan spontan dan verbalisasi (kata-kata) dari petinju yang bersangkutan. Menurunnya atau hilangnya kemampuan gerak anggota gerak harus memunculkan kecurigaan adanya cedera servikal. Pembicaraan yang melantur menunjukkan telah terjadi concussion yang berat. Helm pengaman tidak boleh dilepas dulu kecuali cedera servikal telah dapat disingkirkan (Wojtys, 1999).

Pada concussion, pertama kali pemeriksa harus memastikan apakah petinju yang bersangkutan masih bernafas spontan, jalan napasnya bebas dan nadinya masih teraba. Kedua, menentukan apakah petinju yang mengalami cedera memerlukan pemeriksaan lebih lanjut di sisi ring atau segera diangkut ke rumah sakit. Untuk pemeriksaan kardiovaskular, arteri karotis dan radialis adalah yang paling mudah diraba. Bila petinju telah dipastikan bernafas spontan dengan baik, jalan napas bebas dan fungsi sirkulasi dinyatakan baik, maka pemeriksaan kesadaran awal dilakukan dalam posisi berbaring. Bila petinju tidak sadarkan diri, harus dianggap bahwa ia juga menderita cedera servikal sampai dinyatakan sebaliknya (Wojtys, 1999).

Bila didapatkan gangguan fungsi pernapasan dan sirkulasi, harus dilakukan resusitasi. Dalam hal ini diperlukan 2 atau 3 orang tambahan untuk membantu memposisikan petinju dalam posisi telentang dengan cara dilakukan log-rolling. Setelah berada dalam posisi yang tepat maka resusitasi kardiopulmonar dapat dilakukan (Wojtys, 1999).

Pemeriksaan neurologis yang dilakukan antara lain: GCS, Ukuran dan reaksi pupil terhadap cahaya, pemeriksaan telinga dan hidung untuk mencari perdarahan, CSF, hematotympanum, pemeriksaan fungsi sensoris (termasuk area perianal), refleks-refleks tendon dalam, pemeriksaan keseimbangan dan koordinasi (termasuk finger to nose, dan finger to finger test) (McLatchie, 1994).

Pada petinju yang masih belum sadar atau memburuk setelah 10 menit harus segera dirujuk ke rumah sakit dengan fasilitas diagnostik dan tindakan bedah saraf. Bila ada fraktur tulang tengkorak, petinju harus diobservasi, dan mungkin diperlukan pemeriksaan CT scan karena resiko hematom intrakranial. Hampir separuh dari petinju yang mengalami hematom intrakranial yang dioperasi masih dapat berjalan dan berbicara, bahkan 15% masih sadar penuh sejak kejadian (McLatchie, 1994).

Pemeriksaan di luar ring (on-the-bench evaluation)
Bila petinju yang terluka dibawa keluar ring, ia harus diperiksa dengan teliti termasuk anamnesis keluhan, pemeriksaan neurologis yang lebih lengkap, dan tes neuropsikologi. Keluhan yang perlu ditanyakan meliputi rasa pusing, vertigo, gangguan penglihatan, fotofobia, tinnitus, nyeri kepala, mual, dan muntah. Muntah jarang terjadi pada cedera olah raga, tetapi bila ada akan memunculkan kecurigaan adanya kenaikan tekanan intrakranial (Wojtys, 1999).

Pemeriksaan fisik terhadap wajah dan tulang kepala, kulit dan jaringan ikatnya harus dilakukan dengan teliti untuk mencari adanya patah tulang wajah. Adanya rinnorhea menandakan telah terjadi patah tulang dasar tengkorak pada lempeng cribriformis (Wojtys, 1999).

Pemeriksaan neurologis meliputi pemeriksaan mata dan saraf-saraf kranial. Sekitar 3% dari seluruh populasi mempunyai pupil yang anisokor, dan ini harus sudah diperiksa dan dicatat pada pemeriksaan sebelum pertandingan. Pelebaran pupil unilateral akibat pukulan langsung pada wajah dapat diakibatkan oleh respons saraf simpatetik. Patah tulang atau hematom subdural dapat menyebabkan gangguan nervus occulomotorius. Nervus fasialis juga dapat terkena pada patah tulang dasar tengkorak. Pemeriksaan telinga untuk mencari adanya ottorhea yang menandakan terjadinya patah tulang dasar tengkorak di daerah petrosus (Wojtys, 1999).

Pemeriksaan neuropsikologi dilakukan untuk mencari gangguan orientasi, konsentrasi, dan memori (Wojtys, 1999).

Petinju diobservasi selama minimal 15 menit dan dapat diperiksa kembali bila diperlukan. Bila gejala atau keluhan berkembang, maka ia tidak boleh bertanding lagi hari itu. Jika gejala dan keluhan tidak ada, maka dapat dilakukan suatu manuver stres fisik untuk melihat apakah gejalanya akan muncul. Manuver tersebut dapat dilakukan dengan sit-up, push-up, knee bends, atau dengan berbaring posisi telentang dengan kaki diangkat ke atas selama beberapa detik yang akan memunculkan gejala-gejala kenaikan TIK. Bila gejala tersebut muncul setelah manuver, petinju tidak boleh melanjutkan pertandingan. Bila tak ada gejala ia dapat kembali ke pertandingan, dan selesai pertandingan harus segera dilakukan reevaluasi (Wojtys, 1999).

Klasifikasi Kembali Bertanding (Wojtys, 1999)
1. Kembali bertanding (pada hari yang sama)
a. Keluhan dan gejala menghilang dalam waktu kurang dari 15 menit baik saat istirahat atau saat bertanding
b. Tak pernah tidak sadar

2. Penundaan bertanding (tidak pada hari yang sama)
a. Keluhan dan gejala tidak menghilang dalam waktu 15 menit baik saat istirahat atau saat bertanding
b. Pernah tidak sadar

Penanganan Anak Tuna Daksa

Penanganan Anak Tuna Daksa

Penanganan Anak Tuna Daksa TUJUAN

1.  Mengetahui hubungan masalah ortopedi anak tuna daksa dengan kelainan fungsi.

2. Memahami prinsip penanganan ortopedi bagi anak tuna daksa dalam upaya pemulihan fungsi.

3. Memahami prinsip-prinsip rehabilitasi bagi anak tuna daksa dalam upaya pemulihan fungsi.

4. Memahami hubungan prinsip penanganan ortopedi dan rehabilitasi dengan kegiatan pendidikan anak tuna daksa.

LATAR BELAKANG

Telah dibahas keadaan ATD mulai dari tanda gerak tidak normal, perjalanan dan gejala penyakit sebagai penyebab timbulnya gangguan fungsi.  Gangguan fungsi tersebut diantaranya adalah gerak tidak normal. Gerak tidak normal sering timbul akibat fungsi saraf, otak, tepi, tulang, dan sendi serta otot.

Kelainan tulang, sendi, saraf, dan otot ini, merupakan bagian yang dibahas oleh bidang ortopedi. Adapun penyakit penyebab timbulnya kelainan fungsi dari segi ortopedi adalah penyakit yang sering menimbulkan gangguan fungsi pada anak tuna daksa. Maka pembahasan penyebab ATD ini hanya terbatas pada penyakit cerebral palsy, polioelitis, muskular distropi, dan kelainan utama berupa amputasi.

1.  Penyembuhan / pemulihan dari penderita sakit, cedera, cacat akan tergantung pada keadaannya dan penggunaan semua bantuan medis serta alat yang berguna untuk membantu jasmaninya.

2. Seorang penderita cacat harus dapat perhatian secara keseluruhan dan tidak terbatas pada bagian organ maupun anggota tubuh, tujuannya adalah mengintegrasikan seluruh fungsi ke arah pola yang dinamis efektif.

3. Pengobatan penyembuhan harus dimulai sedini mungkin untuk mencegah kelainan sebagai akibat dari imobilisasu yang terlalu lama dengan adanya kehilangan tonus, kelainan metabolik dan  gangguan fungsi biologis.

Keuntungan pelayanan unit rehabilitasi medis:

- Peningkatan pelayanan kesehatan

- Masa penyembuhan dan perawatan dipersingkat

- Mengurangi penderita yang dikirim ke pusat rehabilitasi.

Mengenal kelainan fungsi pada ATD akibat penyakit tersebut ditinjau dari segi ortopedi dan hubungannya dengan kepentingan pendidikan. ATD. Penyebab timbulnya gangguan fungsi ATD ditinjau dari segi ortopedi, gejala-gejaja spesifik kelainan fungsi ATD tersebut akhirnya dibahas pula prinsip dasar cara mengenal kelainan fungsi pada ATD.

Setelah mengetahui permasalahan ATD baik mengenai masalah gangguan fungsi yang ada kaitannya dengan faktor ortopedi maupun dengan kepentingan pendidikan ATD, maka yang akan dibahas berikutnya adalah upaya memperhatikan peran ortopedi dalam penanganan demi kelancaran pendidikan.

PENDAHULUAN

Selanjutnya akan dibahas mengenai upaya-upaya penanganan terpadu gangguan fungsi akibat kelainan otot, tulang, sendi, saraf. Tujuan utama dari penanganan adalah sebagai upaya untuk mempertahankan ,atau memulihkan fungsi semaksimal mungkin, sehingga keadaan fungsi ATD akibat penyakit tersebut dapat mencapai tingkat atau derajat fungsi yang mampu melaksanakan kegiatan komunikasi, memelihara diri sendiri melaksanakan kegiatan mobilisasi dan jalan. Dengan kemampuan fungsi tersebut ATD diharapkan akan mampu melaksanakan kegiatan pendidikan dan mampu mandiri di tengah-tengah masyarakat.

Ditinjau secara keseluruhan ATD akan mengalami kelainan struktur alat gerak sebagai bagian dari ilmu medik ortopedi yang meliputi faktor otot, tulang, sendi, dan saraf. Seluruhnya kelainan faktor ortopedi ini akan merupakan masalah faktor medik atau masalah medik.

Selanjutnya akibat faktor medik akan terjadi masalah fungsi ATD secara keseluruhan yang disebut masalah habilitasi atau rehabilitasi. Dengan demikian pada ATD akan sering ditemukan dua kelompok masalah yaitu masalah medik dan selalu berhubungan dengan- sebab timbulnya masalah fungsi atau masalah rehabilitasi atau habilitasi medik.

Selanjutnya akan diuraikan pokok-pokok bahasan sebagai berikut:

1. Prinsip penanganan masalah dari segi ortopedi dan kaitannya dengan mengatasi kelainan fungsi dalam upaya pemulihan fungsi ATD. Disebut juga mengatasi masalah medik. Sasarannya adalah mengatasi keseluruhan nyeri, hambatan gerak sendi, otot yang lemah, gangguan koordinasi gerak dan hambatan gerak fungsional.

2. Prinsip rehabilitasi atau habilitasi medik ada kaitannya dengan upaya mengatasi kelainan fungsi untuk mengembalikan fungsi yang tidak normal pada ATD sehingga anak mampu melaksanakan kegiatan sehari-hari atau sampai dapat mengikuti kegiatan pendidikan. sasarannya adalah mengatasi hambatan komunikasi, ADL, mobilisasi dan jalan.

3.  Pelaksanaan upaya pemulihan fungsi dari segi rehabilitasi atau habilitasi medik bersifat terpadu dan menyeluruh serta dilaksanakan secara tim dengan hubungan kerja secara interdisipliner. Hubungan kerja secara interdisipliner mengharuskan setiap anggota tim memahami hal-hal sebagai berikut:

a. Satu tujuan upaya terpadu yaitu memulihkan fungsi anak secara keseluruhan baik yang menyangkut aspek fisik, mental psikologi., sosial dan pendidikan.

b. Karena sifat kegiatannya terpadu dan terkait maka tiap anggota tim berkewajiban mengetahui/ memahami kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh anggota tim lainnya baik cara tindakannya maupun tujuan akhirnya.

Dalam pelaksanaannya, maka setiap periode tertentu perlu adanya pertemuan tim yang akan melaksanakan saling tukar informasi perkembangan hasil kegiatan tiap anggota tim. Untuk selanjutnya tim akan menentukan target kegiatannya dalam upaya mencapai sasaran akhir pemulihan fungsi tersebut. Tujuan akhir yang akan dicapai dalam waktu yang diperlukan ditentukan oleh tim.

1. Penanganan masalah rehabilitasi medis secara pendekatan tim untuk ATD.

Dalam upaya menyelesaikan masalah rehabilitasi atau habilitasi medis perlu tim khusus. Tim ini terdiri dari berbagai cabang keahlian profesional yang akan bekerja secara tim. Anggota tim terdiri dari:

a. Dokter spesialis rehabilitasi medik.

Dokter spesialis rehabilitasi medik akan memeriksa dan menilai jenis kelainan fungsi, problem medis dan rehabilitasi serta hubungan kelainan fungsi yang timbul. Selanjutnya akan menentukan garis besar program-program rehabilitasi serta tujuan yang ingin dicapai yang akan dilaksanakan anggota tim dalam bentuk kerjasama interdisipliner.

b. Fisioterapis / Fisikalterapis

Fisioterapis akan mengadakan penilaian dan melaksanakan program rehabilitasi medis untuk menyelesaikan masalah mobilisasi. Bentuk kegiatannya kebanyakan mengatasi gangguan sendi, menguatkan otot dan saraf yang lemah yang menunjang untuk kegiatan mobilisasi dan khususnya jalan dengan bantuan atau tanpa alat.

c. Okupasional terapis

Okupasional terapis akan mengadakan penilaian dan melaksanakan program rehabilitasi medis untuk melatih fungsi tangan, untuk kegiatan ADL. Bentuk kegiatan dasar terutama untuk kegiatan makan, minum, mandi dan berpakaian.

d. Speech terapis

Speech terapis akan mengadakan penilaian dan melaksanakan program mengatasi hambatan komunikasi. Biasanya ATD akibat polio tidak sering mengalami hambatan komunikasi.

e. Prostetis dan ortosis

Prostesis dan ortosis akan mengadakan penilaian dan melaksanakan pengukuran, pengepasan dan menyerahkan alat bantu ortesa sebagai alat penunjang mobilisasi ADL. Alat yang diberikan untuk kaki adalah brace pendek (SLB) atau brace panjang (LLB), sepatu koreski. tongkat kruk, splin untuk tangan dan sebagainya, semua peralàtan bantu ini dapat menunjang kelancaran upaya pemulihan fungsi.

f. Psikolog

Psikologi akan mengadakan penilaian dan membuat program Psikoterapi untuk memperbaiki atau meningkatkan motivasi anak dalam upaya pemulihan fungsi secara keseluruhan.

g. Sosial Medis

Sosial medis akan menyelesaikan masalah keluarga agar dapat berpartisipasi aktif dalam upaya memulihkan fungsi anak. Keterlibatan orang tua dalam masalah finansial dan hubungan interaksi antar anak dalam keluarga ikut menentukan keberhasilan upaya rehabilitasi medis.

h. Pendidik

Pendidik ATD akibat polio ikut menentukan keberhasilan upaya rehabilitasi medis secara keseluruhan dalam hal mencerdaskan anak, sesuai dengan kondisi fisik yang ada menuju tercapainya anak berkualitas. Upaya pendidik harus sesuai dengan derajat fungsi dan faktor penyebabnya, serta program rehabilitas yang diberikan perlu dilaksanakan sambil melaksanakan kegiatan pendidik.