Search Results for: sistem imun pada lansia

Pengertian Distribusi Epidemiologi

A. PENGERTIAN EPIDEMIOLOGI
1. Pengertian Epidemiologi Menurut Asal Kata
Jika ditinjau dari asal kata Epidemiologi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari 3 kata dasar yaitu EPI yang berarti pada atau tentang, demos yang berati penduduk dan kata terakhir adalalah logos yang berarti ilmu pengetahuan. Jadi epidemilogi adalah ilmu yang mempelajari tentang penduduk.
Sedangkan dalam pengertian modern pada saat ini EPIDEMIOLOGI adalah :
“Ilmu yang mempelajari tentang Frekuensi dan Distribusi (Penyebaran) serta Determinat masalah kesehatan pada sekelompok orang/masyarakat serta Determinannya (Faktor – factor yang Mempengaruhinya). Continue reading

Efek Fisiologi Latihan Dalam Olahraga

Efek Fisiologi Latihan Dalam OlahragaAda 2 tipe latihan untuk physical fitness :

1) latihan aerobik,

2) latihan anaerobik.

Latihan aerobik menggunakan bantuan oksigen untuk membakar sumber energi.Latihan anaerobik menggunakan sistem cadangan energi yang tersimpan dalam otot tanpa bantuan oksigen. Latihan aerobik dapat menimbulkan efek pada tingkat jaringan, pada sistem cardiovaskular, dan pada sistem respira-si.Latihan anaerobik hanya dapat menim-bulkan efek pada tingkat jaringan.

LATIHAN ANAEROBIK

Latihan anaerobik menggunakan sistem fosfagen (ATP-PC) & sistem glikolisis anaerobik (sistem asam laktat).Pada sistem fosfagen, sumber energi yang digunakan adalah phosfokreatin à sumber energi ini tersimpan dalam otot (mitokondria).Sistem fosfagen hanya terjadi selama 30 detik.

Pada sistem glikolisis anaerobik,  sum-ber energi yg digunakan adalah gliko-gen & glukosa.Sistem ini menghasilkan asam laktat à penyebab kelelahan.Sistem ini hanya menghasilkan 3 mole-kul ATP sebagai energi.Sistem ini menyediakan energi selama 1 – 3 menit.

EFEK PADA TINGKAT JARINGAN

Meningkatnya kapasitas sistem fosfagen atau sistem energi fosfat (ATP-PC) à karena bertambahnya cadangan ATP-PC dalam otot & bertambahnya aktivitas enzim dalam sistem energi fosfat.Meningkatnya kapasitas glikolisis anaerobik à karena meningkatnya enzim fosfofruktoki-nase (Pfk) yg berperan dalam glikolisis anaerobik.Meningkatnya persentase serabut otot tipe FT (fast-twitch).Meningkatnya perekrutan motor unit tipe FT. Continue reading

Regenerasi Saraf Dengan Teknologi Laser

Regenerasi Saraf Dengan Teknologi LaserSistem saraf tepi terdiri dari sistem saraf sadai dan sistem saraf tak sadar (sistem saraf otonom). Sistem saraf sadar mengontrol aktivitas yang kerjanya diatur oleh otak, sedangkan saraf otonom mengontrol aktivitas yang tidak dapat diatur otak antara lain denyut jantung, gerak saluran pencernaan, dan sekresi keringat.

Saraf merupakan bagian tubuh yang sulit dilihat dengan mata telanjang, sehingga kerusakan yang terjadi kadang tidak disadari. Untuk itu ketahui beberapa gejala yang muncul jika mengalami kerusakan saraf tepi (neuropati). Continue reading

Osteoartritis dan Penyebabnya

Definisi

Osteoartritis adalah penyakit peradangan sendi yang sering muncul pada usia lanjut. Jarang dijumpai pada usia dibawah 40 tahun dan lebih sering dijumpai pada usia diatas 60 tahun.

Etiologi

Penyebab dari osteoartritis hingga saat ini masih belum terungkap, namun beberapa faktor resiko untuk timbulnya osteoartritis antara lain adalah : Continue reading

Gerakan Tulang dan Sendi

Ilmu yang mempelajari gerakan tubuh manusia (Kinematika) dibagi menjadi dua yaitu yang mempelajari gerakan tulang disebut Osteokinematika dan yang mempelajari gerakan sendi atau gerakan yang terjadi pada permukaan sendi di sebut artrokinematika.

Ada 2 tipe dasar gerakan tulang :
Rotasi : gerakan berputar pada suatu aksis Continue reading

Shoulder Kompleks

Shoulder KompleksShoulder complex merupakan sendi yang paling kompleks pada tubuh manusia. Dibentuk oleh tulang-tulang scapula, clavicula, sternum dan humerus. Dari keempat tulang ini membentuk  sendi-sendi: glenohumeralis, acromioclavicularis, sternoclavicularis dan scapulothoracic. Sendi-sendi ini bergerak bersama-sama saling mempengaruhi dan menjadi gerak sendi yang kompleks.

“Range of motion” dari shoulder kompleks yaitu:

-         Gerak fleksi dapat mencapai 180˚ dan dapat berkurang dengan bertambahnya umur (Murray et al, 1985), sedang ekstensi bisa sampai 60˚.

-         Geraka abduksi juga mencapai 180˚ (AAOS, 1965) maksimal abduksi terjadi pada “scapularpalne” (diantara bidang gerak fleksi dan abduksi). Sedang gerak adduksi dapat mencapai 75˚ di depan tubuh.

-         Gerak rotasi bervariasi, tergantung posisi fleksi shoulder dan total ROM external dan internal rotasi dapat mencapai 180˚.

Gerakan  shoulder kompleks (shoulder girdle) saling mempengaruhi , dengan pengertian apabila salah satu mengalami gangguan gerak  (terbatas) maka dapat dilakukan aktifitas fungsional dengan cara kompensasi dan gerak sendi yang lain. Continue reading

Refleks proses dalam disfungsi vertebrogenic

Meskipun pentingnya faktor mekanik untuk patogenesis, tidak identik dengan penyakit klinis. Pasien umumnya tidak cenderung mengeluh gangguan mobilitas, melainkan rasa sakit, baik di punggung, tungkai, kepala, atau jeroan. Mereka bahkan mungkin menderita pembatasan gerakan yang cukup besar, namun mereka tidak memperhatikan ini. Pemeriksaan kadang-kadang bahkan mengungkapkan tanda-tanda rritation nociceptive (titik pemicu laten atau zona hyperalgesic pada kulit), namun pasien tidak merasa sakit. Penjelasannya terletak pada kapasitas dari sistem saraf untuk bereaksi. Kita sekarang perlu tahu bagaimana itu adalah bahwa disfungsi menghasilkan rasa sakit. Continue reading

Proses Terjadinya Penuaan

1. Biologi

a. Teori “Genetic Clock”;

Teori ini menyatakan bahwa proses menua terjadi akibat adanya program jam genetik didalam nuklei. Jam ini akan berputar dalam jangka waktu tertentu dan jika jam ini sudah habis putarannya maka, akan menyebabkan berhentinya proses mitosis. Hal ini ditunjukkan oleh hasil penelitian Haiflick, (1980) dikutif Darmojo dan Martono (1999) dari teori itu dinyatakan adanya hubungan antara kemampuan membelah sel dalam kultur dengan umur spesies Mutasisomatik (teori error catastrophe) hal penting lainnya yang perlu diperhatikan dalam menganalisis faktor-aktor penyebab terjadinya proses menua adalah faktor lingkungan yang menyebabkan terjadinya mutasi somatik. Sekarang sudah umum diketahui bahwa radiasi dan zat kimia dapat memperpendek umur. Menurut teori ini terjadinya mutasi yang progresif pada DNA sel somatik, akan menyebabkan terjadinya penurunan kemampuan fungsional sel tersebut. Continue reading

Sprain Ankle

Sprain AnkleSprain ankle adalah kondisi terjadinya penguluran dan kerobekan pada ligamentum lateral compleks. Hal ini disebabkan oleh adanya gaya inversi dan plantar fleksi yang tiba-tiba saat kaki tidak menumpu sempurna pada lantai/ tanah, dimana umumnya terjad pada permukaan lantai/ tanah yang tidak rata. Sprain ankle memiliki derajat sprain sesuai tingkat kerusakannya. Derajat I sprain ankle umumnya terjadi penguluran pada ligamentum talofibular anterior sehingga pasien mengalami nyeri yang ringan dan sedikit bengkak. Sedangkan derajat II dan III sprain ankle, kerobekan parsial dan komplet telah terjadi pada ligamentum lateral compleks ankle (ligamentum talofibular anterior, ligamentum calcaneofibular, ligamentum calcaneocuboideum, ligamentum talocalcaneus dan ligamentum talofibular posterior). Pada derajat II dan III, pasien mengalami nyeri hebat (aktualitas tinggi), bengkak dan penurunan fungsi ankle (gangguan berjalan), sehingga umumnya pasien langsung berobat ke dokter/ fisioterapi untuk mendapatkan terapi. Terapi PRICE sering digunakan pada tahap akut sprain ankle, yang kemudian diikuti dengan program exercise untuk memperkuat stabilitas sendi ankle. Continue reading

AFR Pada Amputasi Tangan

PENDAHULUAN

Pengertian

Amputasi merupakan tindakan operasi dengan jalan memotong anggota atau organ tubuh sebagian atau seluruhnya, yang pada umumnya dilakukan pada angota gerak. Yang dibahas di sini adalah amputasi pada tangan. Amputasi tangan merupakan tindakan operasi dengan jalan memotong anggota tubuh pada extremitas superior yang mana potongan dilakukan pada bagian wrist pemisahan antara telapak tangan dan regio anterbrachium.

Perubahan patologi

Perubahan patologi merupakan pendorong dilakukan amputasi. Ada beberapa indikasi antara lain:

- Akibat adanya trauma ulang seperti fraktur yang di ikuti jaringan nekrosis dan menimbulkan pembusukan.

- lnfeksi tulang

- Kanker / Tumor tulang

-  Gangurn sirkulasi darah seperti: Burge diseases dan gangrene

-  Genital Ampitatum atau perbaikan fungsi tubuh agar dapat berguna untuk ambulansi dan beraktifitas.

Gejala — gejala yang timbul sebelum dilakukan amputasi, dikaitkan dengan indikasi yang timbul atau faktor penyebab maka gejala yang timbul adalah:

• Nyeri

• Pembengkakan pada sekitar wrist

• Keterbatasan ROM pada elbow dan shoulder

• Nekrosis jaringan yang menimbulkan pembusukan

Setelah Amputasi dilakukan, timbul problem-problem atau terjadi komplikasi seperti:

• Ruftura kulit : Terjadi robekan pada kulit

• Haematoma : Pembengkakang hasil operasi karena penimbunan darah di ujung amputasi

• Neuroma : Perasaan nyeri karena ada saraf, arteri yang terpotong

• Bad stump (ujung stump yang jelek)

• Phantom pain:  Masih adanya rasa nyeri pada angota badan yang sebenarnya sudah tidak ada

• Phantom sensation : Masih merasa kalau masih ada rasa gatal tapi kulitnya sebenarnya sudah tidak ada

• Osteomylisis : Infeksi yang terjadi pada tulang yang disebabkan oleh kuman

• Stiff Joint (Elbow dan Shoulder) Terjadinya kekuatan pada sendi

• Kontraktur Otot : Pengenduran otot

Problem/hambatan aktifitas sehari-hari

Adanya amputasi atau hilangnya sebagian organ tubuh yaitu tangan akan mempengaruhi aktifitas kegiatan sehari-hari, apalagi jika tangan yang dominan. Aktifitas yang terhambat akibat amputasi tangan yaitu makan dan minum, berpakaian, membersihkan dan mengatur diri, kegiatan kamar mandi seperti buang air besar, kecil dan mandi.

Jika setelah diamputasi tidak dilakukan kegiatan maka akan terjadi kekakuan karena pasien ragu untuk menggunakan tangan bekas amputasi.

Pemeriksaan fisik

Agar aktifitas kegiatan sehari-hari tidak terhambat maka perlu adanya latihan. Namun yang perlu diketahui sebelum latihan harus ada pemeriksaan fisik berupa inspeksi, palpasi (ROM dan MT)

Auskultasinya. Inspeksi yang dilakukan yaitu melihat atau mengetahui apakah ada kelemahan-kelemahan yang timbul setelah dilakukan amputasi. lnspeksi yang dilakukan antara lain:

- Gerakan-gerakan apa saja yang biasa dilakukan oleh tangan yang diamputasi

-  Perubahan postur

-  Oedema pada puntung amputasi

Selain di inspeksi harus diadakan MT dan pengukuran ROM. MT yang dilakukan yaitu pada group Musculus Nexor Elbow, Nexor Shoulder, Extensor Elbow dan Shoulder, Pronator dan Supinator, Abduktor dan Abduktor Shoulder serta rotator medial dan lateral shoulder.

Pengukuran ROM dilakukan dengan menggunakan Genio Meter. Tujuan pengukuran ROM adalah untuk mengetahui seberapa besar jarak gerak sendi pada Shoulder Joint dan Elbow Joint. Pengukuran ROM dilakukan pada semua gerakan pada kedua sendi (shoulder & elbow).

Pada kondisi ini tidak dapat dilakukan Auskultasi karena Auskultasi merupakan pemeriksaan pendengaran.

Tujuan AFR

Tujuan dilakukannya AFR yakni:

- Agar penderita dapat melakukan kegiatan hidup sehari-hari dengan tangannya atau dengan kata lain mencegah one hand edness’ (penggunaan satu tangan saja)

- Mencegah Suff Joint dan kontraktur khususnya pada elbow dan shoulder

- Mengajarkan proses untuk memakai protesa secara tepat dan benar

-  Mengurangi beban mental

- Agar pasien dapat melakukan kegiatan hidup sehari-hari dengan menggunakan alat Bantu atau palsu.

Aktifitas yang diberikan atau diprogramkan

Aktifitas yang diprogramkan harus sesuai dengan program dari AFR yang mana:

-  Perlu penyesuaian jenis amputasinya

-  Unsure penderitaan dan pekerjaan serta lokasi tempat tinggalnya

-  Jumlah tanggungan keluarga

- Alat Bantu yang digunakan sehari-hari / alat palsu

Pemilihan jenis AFR juga harus berdasarkan kondisi penderita yakni problem yang ada dan dialami dan dapat mengganggu kehidupan sehari-hari jenis aktifitas yang harus diberikan yaitu:

-  Dam-dam yang ditinggikan

- Permainan kartu untuk melatih gerakan memegang dan secara halus

-  Membersihkan sepeda.

Aktifitas fungsional seperti:

- Penggunaan berbagai macam kunci

- Membuka pintu

-  Memungut korek api

- Membuang air

- Menaruh sepatu

- Menimba air dari sumur

- Untuk pekerjaan yang harus dilakukan dengan skrup dan baut ,

- Mesin gergaji dengan potongan gergaji yang besar

Aktifitas yang diberikan juga hendaknya disesuaikan dengan profesi penderita.

Keamanan yang harus diperhatikan pada pasien

Keamanan yang harus diperhatikan pada pasien yang mengalami amputasi pada tangan yaitu:

- Pembalutan pada puntung amputasi

- Pengunaan pakaian khususnya kemeja, jas, dan juga baju hangat, yang mana harus dihindari kemeja yang sempit dan yang berlengan panjang, dan juga hindari baju yang harus disisipkan kedalam celana.

Evaluasi

Evaluasi dibagi dua yaitu sesaat dan berkala. Evaluasi sesaat yaitu pada saat dilakukan latihan sedangkan berkala yaitu setelah beberapa kali melakukan latihan.

Komplikasi yang timbul akibat amputasi tersebut dapat dipulihkan kembali dan juga pasien dapat melakukan aktifitas kegiatan sehari-hari dengan menggunakan bekas amputasi.

Pemberian alat bantu sesuai cacatnya

Bagian tubuh atau organ tubuh yang hilang atau diamputasi yaitu tangan dapat dibantu dengan tangan palsu. Tangan palsu ini bentuk seperti lengan bawah sampai tangan dan dipasang mulai dari elbow.

Selain tangan palsu biasa juga menggunakan karet yang diikat pada puntung tangan yang telah diamputasi yang mana alat Bantu ini dipake pada saat pasien akan melakukan aktifitas yaitu makan.

Pada pasien amputasi sering juga digunakan alat Bantu seperti MiteIIa yang mana digunakan setelah dilaksanakan amputasi atau baru diamputasi. Mitella ini digunakan untuk menggendong lengan yang diamputasi.

Saran — saran

Bagi pasien amputasi tangan, diminta untuk tidak memanjakan tangan bekas amputasi, sering melakukan latihan serta selalu menjaga kebersihan pada puntung amputasi.

Bagi keluarga pasien diharap untuk selalu membantu dan memotivasi pasien.