Search Results for: tabel penilaian shoot under ring

Cardiorespiratory Endurance

Cardiorespiratory Endurance

Cardiorespiratory EnduranceCardiorespiratory endurance

Tes VO2max

a. Run Test

1)      Cooper Test

Tes ini bertujuan untuk mengukur kemampuan VO2max seseorang dan memonitor perkembangannya. Dalam tes ini, alat dan fasilitas yang digunakan adalah :

  • Area lapangan yang berjarak 400 meter – setiap 100 meter diberi tanda
  • Stopwatch dan meteran
  • Seorang asisten/pembantu

Prosedur pelaksanaannya adalah :

  • Tentukan titik star dan titik finish
  • Suruh orang coba untuk berlari/berjalan dari titik star sampai titik akhir jarak lari, kemudian kembali lagi dan seterusnya sampai mencapai waktu 12 menit. Jika waktu telah mencapai 12 menit, perintahkan orang coba untuk berhenti berlari/berjalan.
  • Seorang asisten mencatat jumlah putaran yang dilaluinya, kemudian menghitung total jarak yang ditempuh dengan cara menjumlahkan putaran yang dilaluinya.
  • Hasil yang dicapai, dicocokkan dengan Tabel VO2max berdasarkan jarak yang ditempuh.

Hasil VO2max : untuk menilai VO2max-nya dapat dihitung dengan menggunakan rumus : ( jarak yang ditempuh dalam meter – 504,9) / 44,73. Hasil dari rumus tersebut dicocokkan dengan tabel VO2max.

Tabel VO2max. menurut Cooper

Usia

Sgt Baik

Baik

Sedang

Kurang

Sgt Krg.

Laki2  13-14

>2700m

2400-2700m

2200-2399m

2100-2199m

<2100m

Pr 13-14

>2000m

1900-2000m

1600-1899m

1500-1599m

<1500m

Laki2 15-16

>2800m

2500-2800m

2300-2499m

2200-2299m

<2200m

Pr. 15-16

>2100m

2000-2100m

1700-1999m

1600-1699m

<1600m

Laki2 17-20

>3000m

2700-3000m

2500-2699m

2300-2499m

<2300m

Pr. 17-20

>2300m

2100-2300m

1800-2099m

1700-1799m

<1700m

Laki2 20-29

>2800m

2400-2800m

2200-2399m

1600-2199m

<1600m

Pr. 20-29

>2700m

2200-2700m

1800-2199m

1500-1799m

<1500m

Laki2 30-39

>2700m

2300-2700m

1900-2299m

1500-1899m

<1500m

Pr.  30-39

>2500m

2000-2500m

1700-1999m

1400-1699m

<1400m

Laki2 40-49

>2500m

2100-2500m

1700-2099m

1400-1699m

<1400m

Pr. 40-49

>2300m

1900-2300m

1500-1899m

1200-1499m

<1200m

Laki2 >50

>2400m

2000-2400m

1600-1999m

1300-1599m

<1300m

Pr.  >50

>2200m

1700-2200m

1400-1699m

1100-1399m

<1100m

2)      Balke Test

Tes ini bertujuan untuk mengukur kemampuan VO2max seseorang dan memonitor perkembangannya. Dalam tes ini, alat dan fasilitas yang digunakan adalah :

  • Area lapangan yang berjarak 400 meter – setiap 100 meter diberi tanda
  • Stopwatch dan meteran
  • Seorang asisten/pembantu

Prosedur Pelaksanaannya adalah :

  • Tentukan titik star dan titik finish.
  • Suruh orang coba untuk berlari/berjalan dari titik star sampai titik akhir jarak lari, kemudian kembali lagi dan seterusnya sampai mencapai waktu 15 menit. Jika waktu telah mencapai 15 menit, perintahkan orang coba untuk berhenti berlari/berjalan.
  • Seorang asisten mencatat jumlah putaran yang dilaluinya, kemudian menghitung total jarak yang ditempuh dengan cara menjumlahkan putaran yang dilaluinya.
  • Hasil yang dicapai, dicocokkan dengan Tabel VO2max.

Hasil VO2max : untuk menilai VO2max-nya dapat dihitung dengan menggunakan rumus : [ { ( jarak yang ditempuh dalam meter : 15) – 133 } x 0,172 ] + 33,3. Hasil dari rumus tersebut dicocokkan dengan tabel VO2max.

Tabel VO2max (mlO2/kg/min) untuk Perempuan

Usia

Sgt Kurang

Kurang

Sedang

Baik

Sgt Baik

Sempurna

13-19

<25.0

25.0 – 30.9

31.0 – 34.9

35.0 – 38.9

39.0 – 41.9

>41.9

20-29

<23.6

23.6 – 28.9

29.0 – 32.9

33.0 – 36.9

37.0 – 41.0

>41.0

30-39

<22.8

22.8 – 26.9

27.0 – 31.4

31.5 – 35.6

35.7 – 40.0

>40.0

40-49

<21.0

21.0 – 24.4

24.5 – 28.9

29.0 – 32.8

32.9 – 36.9

>36.9

50-59

<20.2

20.2 – 22.7

22.8 – 26.9

27.0 – 31.4

31.5 – 35.7

>35.7

60+

<17.5

17.5 – 20.1

20.2 – 24.4

24.5 – 30.2

30.3 – 31.4

>31.4

Tabel VO2max (mlO2/kg/min) untuk Laki-Laki

Usia

Sgt Kurang

Kurang

Sedang

Baik

Sgt Baik

Sempurna

13-19

<35.0

35.0 – 38.3

38.4 – 45.1

45.2 – 50.9

51.0 – 55.9

>55.9

20-29

<33.0

33.0 – 36.4

36.5 – 42.4

42.5 – 46.4

46.5 – 52.4

>52.4

30-39

<31.5

31.5 – 35.4

35.5 – 40.9

41.0 – 44.9

45.0 – 49.4

>49.4

40-49

<30.2

30.2 – 33.5

33.6 – 38.9

39.0 – 43.7

43.8 – 48.0

>48.0

50-59

<26.1

26.1 – 30.9

31.0 – 35.7

35.8 – 40.9

41.0 – 45.3

>45.3

60+

<20.5

20.5 – 26.0

26.1 – 32.2

32.3 – 36.4

36.5 – 44.2

>44.2

  1. b.      Rockport Walking Test

Tes ini bertujuan untuk mengukur kemampuan VO2max seseorang dan memonitor perkembangannya. Dalam tes ini, alat dan fasilitas yang digunakan adalah :

  • Area lapangan.
  • Stopwatch.
  • Seorang asisten/pembantu.

Prosedur Pelaksanaannya adalah

  • Tentukan titik star dan titik finish.
  • Catat berat badan orang coba dan jenis kelaminnya.
  • Suruh orang coba untuk berjalan sampai mencapai jarak 1 mil (1609 meter) secepat mungkin.
  • Catat waktunya jika telah mencapai jarak 1 mil, kemudian segera hitung denyut nadinya (bpm).
  • Setelah itu, masukkan kedalam rumus VO2max untuk menghitung nilai VO2max-nya.

Hasil VO2max : Untuk menilai VO2max-nya, masukkan data jenis kelamin (sex), usia, berat badan, denyut nadi pada akhir tes, dan waktu yang ditempuh. Kemudian gunakan rumus VO2max sebagai berikut :

VO2max = 132,853 – (0,0769 x berat badan) – (0,3877 x usia) + (6,315 x sex) – (3,2649 x waktu) – (0,1565 x HR).

Keterangan :

  • berat badan dalam pounds (lbs)
  • usia dalam tahun
  • sex, dimana laki-laki = 1 & perempuan = 0
  • waktu dalam menit
  • HR (denyut nadi) dalam beats/menit (bpm)

  1. c.       Bruce Treadmill Test dan Max.Bicycle Test

1)      Bruce Treadmill Test

Tes ini bertujuan untuk mengukur kemampuan VO2max seseorang dan memonitor perkembangannya. Dalam tes ini, alat dan fasilitas yang digunakan adalah :

  • Treadmill Marathon
  • Seorang asisten/pembantu

Prosedur Pelaksanaannya adalah :

  • Hidupkan mesin treadmill marathon
  • Suruh orang coba untuk berdiri diatas treadmill marathon dan siap untuk berlari diatas treadmill, kemudian atur tombol kecepatan treadmill secara bertahap dari kecepatan rendah sampai maksimal.
  • Setelah mencapai kecepatan maksimal, orang coba tetap berlari sampai terjadi kelelahan.
  • Setelah terjadi kelelahan, turunkan kecepatan treadmill secara bertahap dan perlahan kemudian catat waktu yang telah diperoleh.
  • Hasil waktu yang dicapai dimasukkan kedalam rumus.

Hasil VO2max : untuk menilai VO2max, dapat dihitung dengan menggunakan rumus : 14,8 – 1,379 (waktu) + 0,451 (waktu2) – 0,012 (waktu3)

2)      Storer-Davis Maximal Bicycle Test

Tes ini bertujuan untuk mengukur kemampuan VO2max seseorang dan memonitor perkembangannya. Dalam tes ini, alat dan fasilitas yang digunakan adalah :

  • Static Bicycle Ergometer
  • Seorang asisten/pembantu

Prosedur Pelaksanaannya adalah :

  • Atur beban kerja pada 0 watt, kemudian orang coba disuruh bersepeda pada kecepatan 60 rpm selama 4 menit sebagai “warm-up”
  • Kemudian tingkatkan beban kerja sampai 15 watt dan setiap 1 menit ditingkatkan 15 watt lagi, dan pertahankan kecepatan sekitar 60 rpm.
  • Jika kecepatan pedal telah menurun berarti telah terjadi kelelahan, dan tes dihentikan.
  • Catat beban kerja terakhir yang telah dicapai, kemudian masukkan kedalam rumus untuk menilai VO2max.

Hasil VO2max : untuk menilai VO2max, dapat dihitung dengan menggunakan rumus : (10,51 x watt) + (6,35 x kg) – (10,49 x usia) + 519.3 à untuk laki2

(9,39 x watt) + (7,7 x kg) – (5,88 x usia) + 136,7 à untuk wanita.

  1. 2.      Tes Denyut Nadi
    1. a.      Step test yang sederhana

Tes ini bertujuan untuk mengukur cardiovaskular endurance seseorang.  Dalam tes ini, alat dan fasilitas yang digunakan adalah :

  • Sebuah bangku/tempat duduk (bench) yang tingginya sekitar 12 inchi (sama ukurannya dengan anak tangga di rumah)
  • Seorang asisten/pembantu

Prosedur Pelaksanaannya adalah :

  • Orang coba melangkah keatas bench dengan satu kaki kemudian diikuti kaki lainnya.
  • Kemudian, melangkah kebawah dengan satu kaki lalu diikuti kaki lainnya.
  • Pertahankan siklus langkah ; untuk mudahnya mempertahankan siklus langkah selalu mengatakan aba-aba “naik, naik, turun, turun” sesuai dengan langkah kaki.
  • Pertahankan siklus langkah selama 3 menit, kemudian pada akhir 3 menit orang coba berhenti melangkah dan tetap berdiri ; segera periksa denyut nadinya dalam 1 menit.
  • Hasil denyut nadinya dicocokkan dengan tabel 3-minute Step Test

3 Minute Step Test (Men)

Age

18-25

26-35

36-45

46-55

56-65

65+

Excellent

<79

<81

<83

<87

<86

<88

Good

79-89

81-89

83-96

87-97

86-97

88-96

Above Average

90-99

90-99

97-103

98-105

98-103

97-103

Average

100-105

100-107

104-112

106-116

104-112

104-113

Below Average

106-116

108-117

113-119

117-122

113-120

114-120

Poor

117-128

118-128

120-130

123-132

121-129

121-130

Very Poor

>128

>128

>130

>132

>129

>130

3 Minute Step Test (Women)

Age

18-25

26-35

36-45

46-55

56-65

65+

Excellent

<85

<88

<90

<94

<95

<90

Good

85-98

88-99

90-102

94-104

95-104

90-102

Above Average

99-108

100-111

103-110

105-115

105-112

103-115

Average

109-117

112-119

111-118

116-120

113-118

116-122

Below Average

118-126

120-126

119-128

121-129

119-128

123-128

Poor

127-140

127-138

129-140

130-135

129-139

129-134

Very Poor

>140

>138

>140

>135

>139

>134

  1. b.      Harvard Step test

Tes ini bertujuan untuk mengukur cardiovaskular endurance seseorang.  Dalam tes ini, alat dan fasilitas yang digunakan adalah :

  • Sebuah bangku yang tingginya 45 cm.
  • Stopwatch
  • Seorang asisten/pembantu

Prosedur Pelaksanaannya adalah :

  • Suruh orang coba untuk melangkah keatas bangku dan melangkah turun dari bangku secara berirama dengan mempertahankan kecepatan 30 langkah per menit selama 5 menit.
  • Jika orang coba tidak dapat mempertahankan kecepatan langkah maka tes dihentikan (terjadi kelelahan).
  • Satu menit setelah tes berakhir, hitunglah denyut nadinya – sebagai Pulse I.
  • Dua menit setelah tes, hitunglah denyut nadinya – sebagai Pulse II.
  • Tiga menit setelah tes, hitunglah denyut nadinya – sebagai Pulse III.

Hasil : untuk menilai cardiovaskular endurancenya, masukkan data Pulse I, II dan III kedalam rumus : {(Pulse I + Pulse II + Pulse III) x 2} / (5 x 60 detik x 150). Hasil perhitungan dicocokkan dengan tabel Harvard.

Tabel Harvard Tes

J.Kel.

Sgt Baik

Baik

Sedang

Kurang

Sangat Kurang

Laki-laki

>90

80-90

65-79

55-64

<55

Perempuan

>86

76-86

61-75

50-60

<50

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Status Gizi

Pengertian Status Gizi

Status gizi adalah ukuran keberhasilan dalam  pemenuhan nutrisi untuk anak yang diindikasikan oleh berat badan dan tinggi badan anak. Status gizi juga didefinisikan sebagai status kesehatan yang dihasilkan oleh keseimbangan antara kebutuhan dan masukan nutrien. Penelitian status gizi merupakan pengukuran yang didasarkan pada data antropometri serta biokimia dan riwayat diit (Beck, 2000: 1). Continue reading

Cara Mengukur Daya Tahan Otot

Cara Mengukur Daya Tahan OtotDaya tahan otot adalah kemampuan otot untuk mengaplikasikan gaya submaksimal secara berulang-ulang atau kontraksi otot yang terus menerus dalam jangka waktu yang tertentu. Ukuran daya tahan otot untuk atlit adalah beban (kg) dan jumlah repetisi yang dicapai. Untuk mengukur daya tahan otot digunakan tes bent-knee sit-up 1 menit, push-up, pull-up, bench press. Continue reading

Mengukur Daya Tahan Jantung Paru

Mengukur Daya Tahan Jantung ParuUkuran dari daya tahan jantung paru adalah VO2max. VO2max adalah suatu ukuran kapasitas tubuh dalam menggunakan oksigen.
VO2max adalah nilai maksimum oksigen yang dapat dikonsumsi selama latihan. “V” adalah volume oksigen yang digunakan per menit. “O2” adalah oksigen. “max” adalah kondisi latihan maksimal.

VO2max adalah nilai maksimum oksigen yang dapat diserap, didistribusi, dan digunakan oleh tubuh selama aktivitas fisik. VO2max merupakan pemeriksaan laboratorium yang paling obyektif untuk mengukur daya tahan jantung paru. Tes-tes VO2max adalah tes lari 12 menit (Cooper test), tes berjalan 1-mil (Rockport Walking Test), tes lari 15 menit (Balke test), Bruce Treadmill Protokol.

Tes lari 12-menit (Cooper test)

Alat dan fasilitas yang digunakan :
- Area lapangan berjarak 400 meter – setiap 100 meter diberi tanda
- Stopwatch dan meteran
- Seorang asisten Continue reading

Hubungan Antara Panjang tungkai Dengan Hasil Lay Up Shoot.

Hubungan Antara Panjang tungkai Dengan Hasil Lay Up Shoot.

Hubungan Antara Panjang tungkai Dengan Hasil Lay Up Shoot.Telah dikemukan diatas, bahwa banyak faktor yang dapat memberikan pengaruh untuk hasil lay up shoot dalam bola basket. Salah satu faktor tersebut adalah keadaan anatomi tubuh atau komponen otot yang terlibat adalah tungkai.

Gerakan lay up merupakan kombinasi gerakan antara lompat – langkah – langkah, dalam hal ini panjang tungkai sangat berpengaruh pada panjang langkah yang dihasilkan untuk mendekatkan diri pada ring basket. Jadi makin panjang tuas tungkai maka semakin panjang pula langkah untuk melakukan awalan tolakan

Memilih Olahraga yang Sesuai dengan Tubuh

Memilih Olahraga yang Sesuai dengan TubuhPilihan olahraga yang sesuai akan mereduksi beban aktifitas paksaan dari dalam dan luar tubuh, disamping sebagai upaya mendekati dengan daya toleransi tubuh. Dari hasil-hasil penelitian ternyata dapat menemukan hasil-hasil untuk menunjukan adanya bakat-bakat tertentu dan kualitas fisik, seperti misalnya tipe serabut otot, besarnya jantung, kapasitas paru-paru, kerrangka badan, yang dapat menyebabkan seseorang lebih mampu untuk melakukan suatu macam olahraga dibanding dengan olah raga yang lain.

Penelitian Bob Arnot, M.D. seorang dokter ahli faal olah raga, diturunkan suatu seri dari 6 tes sebagai bahan penentuan jenis olah raga pilihan. Tentu saja setiap orang yang sehat dan bugar dapat melakukan olah raga apa saja, dan setiap orang dapat menjadi lebih baik pada salah satu macam olah raga bila selalu melakukan latihan-latihan yang cukup.

Bila seseorang sudah menekuni dan menyukai salah satu macam olah raga, tetapi dalam tes tadi ternyata menunjukan ke macam olah raga yang lain, janganlah ditinggalkan olah raga tadi, yang penting adalah berlatih yang teratur, agar anda menjadi selalu sehat dan bugar.
Hasil tes seperti tersebut diatas, lebih penting bagi mereka yang ingin menjadi atlet yang betul terlatih. Tapi setidak-tidaknya dari hasil tes tadi, dapatlah diperkirakan petunjuk secara garis besar, untuk menentukan pilihan anda sehingga anda dapat lebih mencapai hasil yang baik.

Keenam tes tadi adalah sebagai berikut:
1. Tes kemampuan yang explosif, misal : Tes Lompat Vertikal.
Makin tinggi seseorang dapat melompat berarti makin banyak serabut otot cepat yang dimilikinya.
Penilaian : 70 cm atau lebih : nilai 10
55 cm – < style=”font-weight: bold;”>2. Tes Kardiorespirasi, misal : Tes berjalan 1.6 KM Continue reading

Penanganan Anak Tuna Daksa

Penanganan Anak Tuna Daksa

Penanganan Anak Tuna Daksa TUJUAN

1.  Mengetahui hubungan masalah ortopedi anak tuna daksa dengan kelainan fungsi.

2. Memahami prinsip penanganan ortopedi bagi anak tuna daksa dalam upaya pemulihan fungsi.

3. Memahami prinsip-prinsip rehabilitasi bagi anak tuna daksa dalam upaya pemulihan fungsi.

4. Memahami hubungan prinsip penanganan ortopedi dan rehabilitasi dengan kegiatan pendidikan anak tuna daksa.

LATAR BELAKANG

Telah dibahas keadaan ATD mulai dari tanda gerak tidak normal, perjalanan dan gejala penyakit sebagai penyebab timbulnya gangguan fungsi.  Gangguan fungsi tersebut diantaranya adalah gerak tidak normal. Gerak tidak normal sering timbul akibat fungsi saraf, otak, tepi, tulang, dan sendi serta otot.

Kelainan tulang, sendi, saraf, dan otot ini, merupakan bagian yang dibahas oleh bidang ortopedi. Adapun penyakit penyebab timbulnya kelainan fungsi dari segi ortopedi adalah penyakit yang sering menimbulkan gangguan fungsi pada anak tuna daksa. Maka pembahasan penyebab ATD ini hanya terbatas pada penyakit cerebral palsy, polioelitis, muskular distropi, dan kelainan utama berupa amputasi.

1.  Penyembuhan / pemulihan dari penderita sakit, cedera, cacat akan tergantung pada keadaannya dan penggunaan semua bantuan medis serta alat yang berguna untuk membantu jasmaninya.

2. Seorang penderita cacat harus dapat perhatian secara keseluruhan dan tidak terbatas pada bagian organ maupun anggota tubuh, tujuannya adalah mengintegrasikan seluruh fungsi ke arah pola yang dinamis efektif.

3. Pengobatan penyembuhan harus dimulai sedini mungkin untuk mencegah kelainan sebagai akibat dari imobilisasu yang terlalu lama dengan adanya kehilangan tonus, kelainan metabolik dan  gangguan fungsi biologis.

Keuntungan pelayanan unit rehabilitasi medis:

- Peningkatan pelayanan kesehatan

- Masa penyembuhan dan perawatan dipersingkat

- Mengurangi penderita yang dikirim ke pusat rehabilitasi.

Mengenal kelainan fungsi pada ATD akibat penyakit tersebut ditinjau dari segi ortopedi dan hubungannya dengan kepentingan pendidikan. ATD. Penyebab timbulnya gangguan fungsi ATD ditinjau dari segi ortopedi, gejala-gejaja spesifik kelainan fungsi ATD tersebut akhirnya dibahas pula prinsip dasar cara mengenal kelainan fungsi pada ATD.

Setelah mengetahui permasalahan ATD baik mengenai masalah gangguan fungsi yang ada kaitannya dengan faktor ortopedi maupun dengan kepentingan pendidikan ATD, maka yang akan dibahas berikutnya adalah upaya memperhatikan peran ortopedi dalam penanganan demi kelancaran pendidikan.

PENDAHULUAN

Selanjutnya akan dibahas mengenai upaya-upaya penanganan terpadu gangguan fungsi akibat kelainan otot, tulang, sendi, saraf. Tujuan utama dari penanganan adalah sebagai upaya untuk mempertahankan ,atau memulihkan fungsi semaksimal mungkin, sehingga keadaan fungsi ATD akibat penyakit tersebut dapat mencapai tingkat atau derajat fungsi yang mampu melaksanakan kegiatan komunikasi, memelihara diri sendiri melaksanakan kegiatan mobilisasi dan jalan. Dengan kemampuan fungsi tersebut ATD diharapkan akan mampu melaksanakan kegiatan pendidikan dan mampu mandiri di tengah-tengah masyarakat.

Ditinjau secara keseluruhan ATD akan mengalami kelainan struktur alat gerak sebagai bagian dari ilmu medik ortopedi yang meliputi faktor otot, tulang, sendi, dan saraf. Seluruhnya kelainan faktor ortopedi ini akan merupakan masalah faktor medik atau masalah medik.

Selanjutnya akibat faktor medik akan terjadi masalah fungsi ATD secara keseluruhan yang disebut masalah habilitasi atau rehabilitasi. Dengan demikian pada ATD akan sering ditemukan dua kelompok masalah yaitu masalah medik dan selalu berhubungan dengan- sebab timbulnya masalah fungsi atau masalah rehabilitasi atau habilitasi medik.

Selanjutnya akan diuraikan pokok-pokok bahasan sebagai berikut:

1. Prinsip penanganan masalah dari segi ortopedi dan kaitannya dengan mengatasi kelainan fungsi dalam upaya pemulihan fungsi ATD. Disebut juga mengatasi masalah medik. Sasarannya adalah mengatasi keseluruhan nyeri, hambatan gerak sendi, otot yang lemah, gangguan koordinasi gerak dan hambatan gerak fungsional.

2. Prinsip rehabilitasi atau habilitasi medik ada kaitannya dengan upaya mengatasi kelainan fungsi untuk mengembalikan fungsi yang tidak normal pada ATD sehingga anak mampu melaksanakan kegiatan sehari-hari atau sampai dapat mengikuti kegiatan pendidikan. sasarannya adalah mengatasi hambatan komunikasi, ADL, mobilisasi dan jalan.

3.  Pelaksanaan upaya pemulihan fungsi dari segi rehabilitasi atau habilitasi medik bersifat terpadu dan menyeluruh serta dilaksanakan secara tim dengan hubungan kerja secara interdisipliner. Hubungan kerja secara interdisipliner mengharuskan setiap anggota tim memahami hal-hal sebagai berikut:

a. Satu tujuan upaya terpadu yaitu memulihkan fungsi anak secara keseluruhan baik yang menyangkut aspek fisik, mental psikologi., sosial dan pendidikan.

b. Karena sifat kegiatannya terpadu dan terkait maka tiap anggota tim berkewajiban mengetahui/ memahami kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh anggota tim lainnya baik cara tindakannya maupun tujuan akhirnya.

Dalam pelaksanaannya, maka setiap periode tertentu perlu adanya pertemuan tim yang akan melaksanakan saling tukar informasi perkembangan hasil kegiatan tiap anggota tim. Untuk selanjutnya tim akan menentukan target kegiatannya dalam upaya mencapai sasaran akhir pemulihan fungsi tersebut. Tujuan akhir yang akan dicapai dalam waktu yang diperlukan ditentukan oleh tim.

1. Penanganan masalah rehabilitasi medis secara pendekatan tim untuk ATD.

Dalam upaya menyelesaikan masalah rehabilitasi atau habilitasi medis perlu tim khusus. Tim ini terdiri dari berbagai cabang keahlian profesional yang akan bekerja secara tim. Anggota tim terdiri dari:

a. Dokter spesialis rehabilitasi medik.

Dokter spesialis rehabilitasi medik akan memeriksa dan menilai jenis kelainan fungsi, problem medis dan rehabilitasi serta hubungan kelainan fungsi yang timbul. Selanjutnya akan menentukan garis besar program-program rehabilitasi serta tujuan yang ingin dicapai yang akan dilaksanakan anggota tim dalam bentuk kerjasama interdisipliner.

b. Fisioterapis / Fisikalterapis

Fisioterapis akan mengadakan penilaian dan melaksanakan program rehabilitasi medis untuk menyelesaikan masalah mobilisasi. Bentuk kegiatannya kebanyakan mengatasi gangguan sendi, menguatkan otot dan saraf yang lemah yang menunjang untuk kegiatan mobilisasi dan khususnya jalan dengan bantuan atau tanpa alat.

c. Okupasional terapis

Okupasional terapis akan mengadakan penilaian dan melaksanakan program rehabilitasi medis untuk melatih fungsi tangan, untuk kegiatan ADL. Bentuk kegiatan dasar terutama untuk kegiatan makan, minum, mandi dan berpakaian.

d. Speech terapis

Speech terapis akan mengadakan penilaian dan melaksanakan program mengatasi hambatan komunikasi. Biasanya ATD akibat polio tidak sering mengalami hambatan komunikasi.

e. Prostetis dan ortosis

Prostesis dan ortosis akan mengadakan penilaian dan melaksanakan pengukuran, pengepasan dan menyerahkan alat bantu ortesa sebagai alat penunjang mobilisasi ADL. Alat yang diberikan untuk kaki adalah brace pendek (SLB) atau brace panjang (LLB), sepatu koreski. tongkat kruk, splin untuk tangan dan sebagainya, semua peralàtan bantu ini dapat menunjang kelancaran upaya pemulihan fungsi.

f. Psikolog

Psikologi akan mengadakan penilaian dan membuat program Psikoterapi untuk memperbaiki atau meningkatkan motivasi anak dalam upaya pemulihan fungsi secara keseluruhan.

g. Sosial Medis

Sosial medis akan menyelesaikan masalah keluarga agar dapat berpartisipasi aktif dalam upaya memulihkan fungsi anak. Keterlibatan orang tua dalam masalah finansial dan hubungan interaksi antar anak dalam keluarga ikut menentukan keberhasilan upaya rehabilitasi medis.

h. Pendidik

Pendidik ATD akibat polio ikut menentukan keberhasilan upaya rehabilitasi medis secara keseluruhan dalam hal mencerdaskan anak, sesuai dengan kondisi fisik yang ada menuju tercapainya anak berkualitas. Upaya pendidik harus sesuai dengan derajat fungsi dan faktor penyebabnya, serta program rehabilitas yang diberikan perlu dilaksanakan sambil melaksanakan kegiatan pendidik.

Penanganan Luka-luka Pada Tinju

Penanganan Luka-luka Pada Tinju

Penanganan Luka-luka Pada TinjuPenanganan Luka-Luka
Penanganan cedera pada olah raga tinju tergantung jenis dan beratnya serta tingkat kegawatdaruratannya. Pada perlukaan kulit kepala, perdarahan seringkali banyak sehingga perlu pemeriksaan teliti dan penghentian perdarahan. Pemeriksaan dilakukan di sisi ring tinju dengan sarung tangan steril untuk memeriksa adanya fraktur. Fraktur impresi seringkali hanya menimbulkan jejas lokal dan tidak menyebabkan hilangnya kesadaran sehingga seringkali terlewatkan. Pasien yang dicurigai mengalami fraktur harus dihentikan dulu perdarahannya dengan cara menutup luka kulit kepala dengan jahitan satu-satu sebelum dibawa ke rumah sakit. Luka-luka kecil dapat dijahit dengan silk 2/0 atau 3/0. Bila ada tanda-tanda herniasi jaringan otak melalui luka di tengkorak, maka harus ditutup dengan kasa steril yang dibasahi dengan PZ dan segera dikirim ke fasilitas bedah saraf (McLatchie, 1994).

Penanganan concussion
Evaluasi di lapangan (on-the-field evaluation )
Tujuan terpenting pemeriksaan di lapangan adalah membuat diagnosis yang akurat dan lengkap tentang tingkat kesadaran dan menyingkirkan adanya cedera lain terutama cedera servikal. Dalam hal ini petugas medis harus mengetahui mekanisme cedera kepala, apakah akibat kontak langsung dengan permukaan keras atau gaya akselerasi-deselerasi yang mengenai kepala dan whiplash yang mengenai leher. Saat memeriksa, perlu diperhatikan postur, gerakan spontan dan verbalisasi (kata-kata) dari petinju yang bersangkutan. Menurunnya atau hilangnya kemampuan gerak anggota gerak harus memunculkan kecurigaan adanya cedera servikal. Pembicaraan yang melantur menunjukkan telah terjadi concussion yang berat. Helm pengaman tidak boleh dilepas dulu kecuali cedera servikal telah dapat disingkirkan (Wojtys, 1999).

Pada concussion, pertama kali pemeriksa harus memastikan apakah petinju yang bersangkutan masih bernafas spontan, jalan napasnya bebas dan nadinya masih teraba. Kedua, menentukan apakah petinju yang mengalami cedera memerlukan pemeriksaan lebih lanjut di sisi ring atau segera diangkut ke rumah sakit. Untuk pemeriksaan kardiovaskular, arteri karotis dan radialis adalah yang paling mudah diraba. Bila petinju telah dipastikan bernafas spontan dengan baik, jalan napas bebas dan fungsi sirkulasi dinyatakan baik, maka pemeriksaan kesadaran awal dilakukan dalam posisi berbaring. Bila petinju tidak sadarkan diri, harus dianggap bahwa ia juga menderita cedera servikal sampai dinyatakan sebaliknya (Wojtys, 1999).

Bila didapatkan gangguan fungsi pernapasan dan sirkulasi, harus dilakukan resusitasi. Dalam hal ini diperlukan 2 atau 3 orang tambahan untuk membantu memposisikan petinju dalam posisi telentang dengan cara dilakukan log-rolling. Setelah berada dalam posisi yang tepat maka resusitasi kardiopulmonar dapat dilakukan (Wojtys, 1999).

Pemeriksaan neurologis yang dilakukan antara lain: GCS, Ukuran dan reaksi pupil terhadap cahaya, pemeriksaan telinga dan hidung untuk mencari perdarahan, CSF, hematotympanum, pemeriksaan fungsi sensoris (termasuk area perianal), refleks-refleks tendon dalam, pemeriksaan keseimbangan dan koordinasi (termasuk finger to nose, dan finger to finger test) (McLatchie, 1994).

Pada petinju yang masih belum sadar atau memburuk setelah 10 menit harus segera dirujuk ke rumah sakit dengan fasilitas diagnostik dan tindakan bedah saraf. Bila ada fraktur tulang tengkorak, petinju harus diobservasi, dan mungkin diperlukan pemeriksaan CT scan karena resiko hematom intrakranial. Hampir separuh dari petinju yang mengalami hematom intrakranial yang dioperasi masih dapat berjalan dan berbicara, bahkan 15% masih sadar penuh sejak kejadian (McLatchie, 1994).

Pemeriksaan di luar ring (on-the-bench evaluation)
Bila petinju yang terluka dibawa keluar ring, ia harus diperiksa dengan teliti termasuk anamnesis keluhan, pemeriksaan neurologis yang lebih lengkap, dan tes neuropsikologi. Keluhan yang perlu ditanyakan meliputi rasa pusing, vertigo, gangguan penglihatan, fotofobia, tinnitus, nyeri kepala, mual, dan muntah. Muntah jarang terjadi pada cedera olah raga, tetapi bila ada akan memunculkan kecurigaan adanya kenaikan tekanan intrakranial (Wojtys, 1999).

Pemeriksaan fisik terhadap wajah dan tulang kepala, kulit dan jaringan ikatnya harus dilakukan dengan teliti untuk mencari adanya patah tulang wajah. Adanya rinnorhea menandakan telah terjadi patah tulang dasar tengkorak pada lempeng cribriformis (Wojtys, 1999).

Pemeriksaan neurologis meliputi pemeriksaan mata dan saraf-saraf kranial. Sekitar 3% dari seluruh populasi mempunyai pupil yang anisokor, dan ini harus sudah diperiksa dan dicatat pada pemeriksaan sebelum pertandingan. Pelebaran pupil unilateral akibat pukulan langsung pada wajah dapat diakibatkan oleh respons saraf simpatetik. Patah tulang atau hematom subdural dapat menyebabkan gangguan nervus occulomotorius. Nervus fasialis juga dapat terkena pada patah tulang dasar tengkorak. Pemeriksaan telinga untuk mencari adanya ottorhea yang menandakan terjadinya patah tulang dasar tengkorak di daerah petrosus (Wojtys, 1999).

Pemeriksaan neuropsikologi dilakukan untuk mencari gangguan orientasi, konsentrasi, dan memori (Wojtys, 1999).

Petinju diobservasi selama minimal 15 menit dan dapat diperiksa kembali bila diperlukan. Bila gejala atau keluhan berkembang, maka ia tidak boleh bertanding lagi hari itu. Jika gejala dan keluhan tidak ada, maka dapat dilakukan suatu manuver stres fisik untuk melihat apakah gejalanya akan muncul. Manuver tersebut dapat dilakukan dengan sit-up, push-up, knee bends, atau dengan berbaring posisi telentang dengan kaki diangkat ke atas selama beberapa detik yang akan memunculkan gejala-gejala kenaikan TIK. Bila gejala tersebut muncul setelah manuver, petinju tidak boleh melanjutkan pertandingan. Bila tak ada gejala ia dapat kembali ke pertandingan, dan selesai pertandingan harus segera dilakukan reevaluasi (Wojtys, 1999).

Klasifikasi Kembali Bertanding (Wojtys, 1999)
1. Kembali bertanding (pada hari yang sama)
a. Keluhan dan gejala menghilang dalam waktu kurang dari 15 menit baik saat istirahat atau saat bertanding
b. Tak pernah tidak sadar

2. Penundaan bertanding (tidak pada hari yang sama)
a. Keluhan dan gejala tidak menghilang dalam waktu 15 menit baik saat istirahat atau saat bertanding
b. Pernah tidak sadar

Jenis Susu Formula

1. Pengertian

Susu formula adalah susu yang dibuat dari susu sapi atau susu buatan yang diubah komposisinya hingga dapat dipakai sebagai pengganti ASI. Alasan dipakainya susu sapi sebagai bahan dasar mungkin oleh banyaknya susu yang dapat dihasilkan oleh peternak (Pudjiadi, 2002). Continue reading

Tes Untuk Balance (Keseimbangan)

Standing Stork Test

Standing Stork TestStanding Stork Test

Tes ini bertujuan untuk mengukur kemampuan atlit untuk mempertahankan keadaan equilibrium/balance dalam posisi statik

Dalam tes ini diperlukan :

  • Gymnasium
  • Stop watch
  • Seorang asisten

Prosedur pelaksanaannya adalah :

  • Berdiri dengan nyaman/enak pada kedua kaki
  • Letakkan kedua tangan pada pinggul/hip
  • Angkat satu kaki dan letakkan jari-jari kaki pada knee sisi kontralateral
  • Angkat tumit dan berdiri dengan jari-jari kaki
  • Seorang asisten mulai menjalankan stop watch
  • Pertahankan balance selama mungkin tanpa tumit menyentuh tanah atau jari-jari kaki bergeser dari knee.
  • Seorang asisten mencatat waktu yang mampu dicapai dalam mempertahankan balance
  • Ulangi tes pada tungkai yang satu.
  • Hasil waktu yang dicatat dicocokkan dengan tabel dibawah ini.

Untuk menganalisis hasil pengukuran maka perlu dibandingkan antara hasil tes awal dan tes akhir. Dengan program training yang tepat, maka diharapkan analisis tersebut menunjukkan perbaikan.

Tes ini memiliki validitas tinggi karena terdapat tabel yang berkaitan dengan hasil level balance yang potensial dan memiliki korelasi yang tinggi.

Tabel Standing Stork Test

Gender

Excellent

Above Average

Average

Below Average

Poor

Male

>50 secs

50 – 41 secs

40 – 31 secs

30 – 20 secs

<20 secs

Female

>30 secs

30 – 23 secs

22 – 16 secs

15 – 10 secs

<10 secs

Table Reference: Arnot R and Gaines C, Sports Talent, 1984