Search Results for: teknik pemeriksaan lumbosacral

Prinsip-prinsip Pemeriksaan Gangguan Alat Gerak

Prinsip-prinsip Pemeriksaan Gangguan Alat GerakManual terapi secara khusus berkaitan erat dengan diagnosis dan terapi gangguan-gangguan musculoskeletal atau disfungsi somatic. Disfungsi somatic dapat terjadi dengan berbagai cara dan mempunyai karateristik sebagai berikut:

Gejala: misalnya  nyeri, kelemahan,  kekakuan, nyeri tekan.

Perubahan jaringan lunak: misalnya ketegangan, elastisitas, bentuk atau tekstur.

Perubahan fungsi: kekuatan, daya tahan, koordinasi dan  mobilitas (sendi dan jaringan lunak).

Gangguan musculoskeletal sering menampakkan  gabungan karateristik diatas antara satu dengan yang lain sangat erat kaitannya. Fisioterapis (manual terapis?) harus menentukan problem utamanya sehingga dapat memberikan terapi yang tepat. Continue reading

Pemeriksaan Panggul dan Sekitarnya

Pemeriksaan Panggul dan SekitarnyaSecara klinis fisioterapi adalah suatu proses yang berdasarkan pendekaan ilmiah untuk mengatasi problematik terhadap gangguan fungsi dan gerak. Tindakan hanyalah bagian dari proses itu yang penentuan dan pelaksanaanya merupakan “hak prerogativ fisioterapis”. Kaitannya dengan pemeriksaani fisioterapi pada daerah panggul, maka kita mengawali pemeniksaan dari lumbal kemudian SIJ dan berakhir di sendi panggul (Hip).

SISTEM PEMERIKSAAN

1. Pola dasar pemeriksaan fisioterapi

A. Anamnesis

B. lnspeksi

C.. Pemeriksaan fungsi Continue reading

Penanganan Luka-luka Pada Tinju

Penanganan Luka-luka Pada Tinju

Penanganan Luka-luka Pada TinjuPenanganan Luka-Luka
Penanganan cedera pada olah raga tinju tergantung jenis dan beratnya serta tingkat kegawatdaruratannya. Pada perlukaan kulit kepala, perdarahan seringkali banyak sehingga perlu pemeriksaan teliti dan penghentian perdarahan. Pemeriksaan dilakukan di sisi ring tinju dengan sarung tangan steril untuk memeriksa adanya fraktur. Fraktur impresi seringkali hanya menimbulkan jejas lokal dan tidak menyebabkan hilangnya kesadaran sehingga seringkali terlewatkan. Pasien yang dicurigai mengalami fraktur harus dihentikan dulu perdarahannya dengan cara menutup luka kulit kepala dengan jahitan satu-satu sebelum dibawa ke rumah sakit. Luka-luka kecil dapat dijahit dengan silk 2/0 atau 3/0. Bila ada tanda-tanda herniasi jaringan otak melalui luka di tengkorak, maka harus ditutup dengan kasa steril yang dibasahi dengan PZ dan segera dikirim ke fasilitas bedah saraf (McLatchie, 1994).

Penanganan concussion
Evaluasi di lapangan (on-the-field evaluation )
Tujuan terpenting pemeriksaan di lapangan adalah membuat diagnosis yang akurat dan lengkap tentang tingkat kesadaran dan menyingkirkan adanya cedera lain terutama cedera servikal. Dalam hal ini petugas medis harus mengetahui mekanisme cedera kepala, apakah akibat kontak langsung dengan permukaan keras atau gaya akselerasi-deselerasi yang mengenai kepala dan whiplash yang mengenai leher. Saat memeriksa, perlu diperhatikan postur, gerakan spontan dan verbalisasi (kata-kata) dari petinju yang bersangkutan. Menurunnya atau hilangnya kemampuan gerak anggota gerak harus memunculkan kecurigaan adanya cedera servikal. Pembicaraan yang melantur menunjukkan telah terjadi concussion yang berat. Helm pengaman tidak boleh dilepas dulu kecuali cedera servikal telah dapat disingkirkan (Wojtys, 1999).

Pada concussion, pertama kali pemeriksa harus memastikan apakah petinju yang bersangkutan masih bernafas spontan, jalan napasnya bebas dan nadinya masih teraba. Kedua, menentukan apakah petinju yang mengalami cedera memerlukan pemeriksaan lebih lanjut di sisi ring atau segera diangkut ke rumah sakit. Untuk pemeriksaan kardiovaskular, arteri karotis dan radialis adalah yang paling mudah diraba. Bila petinju telah dipastikan bernafas spontan dengan baik, jalan napas bebas dan fungsi sirkulasi dinyatakan baik, maka pemeriksaan kesadaran awal dilakukan dalam posisi berbaring. Bila petinju tidak sadarkan diri, harus dianggap bahwa ia juga menderita cedera servikal sampai dinyatakan sebaliknya (Wojtys, 1999).

Bila didapatkan gangguan fungsi pernapasan dan sirkulasi, harus dilakukan resusitasi. Dalam hal ini diperlukan 2 atau 3 orang tambahan untuk membantu memposisikan petinju dalam posisi telentang dengan cara dilakukan log-rolling. Setelah berada dalam posisi yang tepat maka resusitasi kardiopulmonar dapat dilakukan (Wojtys, 1999).

Pemeriksaan neurologis yang dilakukan antara lain: GCS, Ukuran dan reaksi pupil terhadap cahaya, pemeriksaan telinga dan hidung untuk mencari perdarahan, CSF, hematotympanum, pemeriksaan fungsi sensoris (termasuk area perianal), refleks-refleks tendon dalam, pemeriksaan keseimbangan dan koordinasi (termasuk finger to nose, dan finger to finger test) (McLatchie, 1994).

Pada petinju yang masih belum sadar atau memburuk setelah 10 menit harus segera dirujuk ke rumah sakit dengan fasilitas diagnostik dan tindakan bedah saraf. Bila ada fraktur tulang tengkorak, petinju harus diobservasi, dan mungkin diperlukan pemeriksaan CT scan karena resiko hematom intrakranial. Hampir separuh dari petinju yang mengalami hematom intrakranial yang dioperasi masih dapat berjalan dan berbicara, bahkan 15% masih sadar penuh sejak kejadian (McLatchie, 1994).

Pemeriksaan di luar ring (on-the-bench evaluation)
Bila petinju yang terluka dibawa keluar ring, ia harus diperiksa dengan teliti termasuk anamnesis keluhan, pemeriksaan neurologis yang lebih lengkap, dan tes neuropsikologi. Keluhan yang perlu ditanyakan meliputi rasa pusing, vertigo, gangguan penglihatan, fotofobia, tinnitus, nyeri kepala, mual, dan muntah. Muntah jarang terjadi pada cedera olah raga, tetapi bila ada akan memunculkan kecurigaan adanya kenaikan tekanan intrakranial (Wojtys, 1999).

Pemeriksaan fisik terhadap wajah dan tulang kepala, kulit dan jaringan ikatnya harus dilakukan dengan teliti untuk mencari adanya patah tulang wajah. Adanya rinnorhea menandakan telah terjadi patah tulang dasar tengkorak pada lempeng cribriformis (Wojtys, 1999).

Pemeriksaan neurologis meliputi pemeriksaan mata dan saraf-saraf kranial. Sekitar 3% dari seluruh populasi mempunyai pupil yang anisokor, dan ini harus sudah diperiksa dan dicatat pada pemeriksaan sebelum pertandingan. Pelebaran pupil unilateral akibat pukulan langsung pada wajah dapat diakibatkan oleh respons saraf simpatetik. Patah tulang atau hematom subdural dapat menyebabkan gangguan nervus occulomotorius. Nervus fasialis juga dapat terkena pada patah tulang dasar tengkorak. Pemeriksaan telinga untuk mencari adanya ottorhea yang menandakan terjadinya patah tulang dasar tengkorak di daerah petrosus (Wojtys, 1999).

Pemeriksaan neuropsikologi dilakukan untuk mencari gangguan orientasi, konsentrasi, dan memori (Wojtys, 1999).

Petinju diobservasi selama minimal 15 menit dan dapat diperiksa kembali bila diperlukan. Bila gejala atau keluhan berkembang, maka ia tidak boleh bertanding lagi hari itu. Jika gejala dan keluhan tidak ada, maka dapat dilakukan suatu manuver stres fisik untuk melihat apakah gejalanya akan muncul. Manuver tersebut dapat dilakukan dengan sit-up, push-up, knee bends, atau dengan berbaring posisi telentang dengan kaki diangkat ke atas selama beberapa detik yang akan memunculkan gejala-gejala kenaikan TIK. Bila gejala tersebut muncul setelah manuver, petinju tidak boleh melanjutkan pertandingan. Bila tak ada gejala ia dapat kembali ke pertandingan, dan selesai pertandingan harus segera dilakukan reevaluasi (Wojtys, 1999).

Klasifikasi Kembali Bertanding (Wojtys, 1999)
1. Kembali bertanding (pada hari yang sama)
a. Keluhan dan gejala menghilang dalam waktu kurang dari 15 menit baik saat istirahat atau saat bertanding
b. Tak pernah tidak sadar

2. Penundaan bertanding (tidak pada hari yang sama)
a. Keluhan dan gejala tidak menghilang dalam waktu 15 menit baik saat istirahat atau saat bertanding
b. Pernah tidak sadar

Aturan-aturan yang Harus Diketahui Terapis Dalam Melakukan Teknik-teknik Mobilisasi Manual

Aturan-aturan yang Harus Diketahui Terapis Dalam Melakukan Teknik-teknik Mobilisasi ManualSebelum melakukan terapi menggunakan teknik-teknik mobilisasi manual(manual terapi), ada aturan-aturan (treatment rules) yang harus diketahui terlebih dahulu oleh terapis, yaitu:

1. Posisi pasien
Pasien diposisikan enak/nyaman sehingga otot-ototnya rileks. Sendi diposisikan pada resting position (MLPP) atau actual resting position. Tulang pembentuk sendi bagian proksimal difiksasi.

2. Posisi Terapis
Terapis harus menggunakan prinsip-prinsip ergonomis dan berdiri atau memposisikan diri sedekat mungkin dengan pasien. Kedua kaki/tungkai melebar agar stabil. Apabila memungkinkan gunakan pengaruh gravitasi atau berat tubuh untuk rnendorong atau menarik. Continue reading

Pemeriksaan Regio Elbow (Siku)

Examination Regio ElbowGangguan dalam dan sekitar tulang pembentuk sendi pada umumnya menunjukkan keluhan—keluhan yang bersifat lokal.

Pasien biasanya datang dengan keluhan tentang adanya rasa nyeri (pain) pada daerah siku, adakalanya terjadi perambatan rasa nyeri kearah lengan bawah dan seringkali juga kearah proximal. Namun ternyata gambaran tentang keberadaan rasa nyeri (lateral, medial, ventral, dorsal ataupun bagian dalam) seringkali menunjukkan lokalisasi daripada letak cidera. Continue reading

Teknik Fisioterapi Pada Kondisi Temporomandibular

Teknik Fisioterapi Pada Kondisi TemporomandibularFisioterapi pada Temporomandibular memiliki banyak pilihan berbeda dalam pengobatan. Sementara gangguan pada TMJ disebabkan karena berbagai alasan , pada umumnya dokter menghindari menggunakan teknik ireversibel untuk menangani kondisi ini . Terapi di rumah seperti pijat dan latihan sering direkomendasikan sebagai pengobatan untuk kondisi ini . Namun, hal ini tidak selalu berhasil dengan baik . Tapi banyak orang menemukan bahwa fisioterapi dapat membantu mengurangi rasa sakit dan kurangnya mobilitas rahang dengan meningkatkan fleksibilitas dan kekuatan otot rahang , juga mengurangi jaringan parut yang disebabkan ketika daerah tersebut mengalami cedera yang berulang.

Teknik Fisioterapi yang sering digunakan pada kondisi Temporomandibular yaitu:

1 . Fisioterapi atau Terapi fisik seperti massage untuk mengurangi ketegangan otot dan meningkatkan kekuatan rahang .

2 . Penggunaan arus listrik yang ringan untuk mengurangi rasa sakit atau nyeri sehingga dapat merelaksasi otot, terapi ini disebut transcutaneous electrical nerve stimulation ( TENS ) . Metode pengobatan ini juga dapat meningkatkan sirkulasi darah pada rahang . Hal ini umumnya digunakan ketika sakit parah .

3 . Terapi dengan ultrasound yang menggunakan gelombang suara pada frekuensi tinggi ke daerah yang terkena di bagian rahang . Hal ini dapat membantu untuk menghilangkan rasa sakit atau setidaknya untuk mengurangi intensitas nyerinya . Terapi ultrasound juga dapat menurunkan pembengkakan di rahang .

Teknik Fisioterapi Pada Kondisi Temporomandibular1

4 . Terapi panas atau heat therapy yang dapat merangsang sirkulasi darah ke rahang.

5 . Terapi dingin atau ice therapy yang sangat membantu untuk mengurangi rasa sakit dan menurunkan pembengkakan.

6 . Koreksi postur untuk mengurangi ketegangan di daerah rahang , leher dan bahu . Hal ini juga diperlukan untuk memperbaiki cara di mana salah satu rahang berada dalam posisi istirahat . Postur tertentu menempatkan banyak ketegangan pada otot-otot bahu dan kebanyakan orang tidak memiliki kesadaran diri untuk menghindari kondisi ini .

Exercise fisioterapi pada Temporomandibular hanya boleh dilakukan di bawah pengawasan profesional atau kalau tidak kondisi ini bisa menjadi lebih buruk . Seorang fisioterapis yang terlatih akan dapat merekomendasikan teknik yang tepat untuk digunakan dalam keadaan tertentu . Hal ini penting untuk mengingat fakta bahwa seperti halnya pengobatan untuk masalah TMJ , fisioterapi cenderung memberikan hasil yang bervariasi tergantung pada kombinasi berbagai faktor yang bertanggung jawab menyebabkan masalah ini.

Pemeriksaan Gerak Dasar Regio Pergelangan Kaki

A. Pemeriksaan Gerak Pasif

1.  Dorsi fleksi dan plantar fleksi upper ankle (gb. 1)

a. Posisi pasien : berbaring telentang dengan lutut sedikit fleksi

b. Pegangan : satu tangan memegang tumit, tangan yang lain memegang kaki.

c. Gerakan : tes gerak pasif dorsi fleksi, tangan pada tumit memberi tarikan, tangan pada kaki mendorong ke arah dorsi feksi (gb. 1a). Tes gerak pasif plantar fleksi, tangan pada tumit memberi dorongan, tangan pada kaki menarik ke arah plantar fleksi (gb. 1b)

d. Tujuan : mengetahui ROM dan nyeri gerak Continue reading

Teknik fisioterapi untuk Carpal Tunnel Syndrome

Carpal Tunnel SyndromeSebagian besar dari kita menggunakan tangan kita setiap hari di tempat kerja atau di rumah. Mungkin Anda telah menyadari rasa sakit atau kesemutan di dalamnya. Mungkin rasa sakit terjadi setelah aktivitas tertentu untuk sementara waktu, terutama sesuatu yang kita lakukan berulang kali. Akhirnya, ia datang tanpa peringatan atau mungkin rasa sakit bangun Anda di malam hari. Ini adalah gejala klasik dari carpal tunnel syndrome dan Anda harus membaca untuk mempelajari lebih lanjut tentang kondisi ini berpotensi melemahkan.

Apa sindrom carpal tunnel?

Carpal Tunnel Syndrome (CTS) adalah neuropati jebakan dari saraf perifer di lengan. N. medianus yang terperangkap atau dikompresi di pergelangan tangan pada sisi telapak tangan Anda. Terowongan karpal adalah ruang tertutup ditutupi oleh beberapa lapisan jaringan. Melalui terowongan ini, saraf median, bersama dengan sembilan tendon melewati. Selama gerakan pergelangan tangan dan jari-jari, tendon ini dan saraf harus geser lancar. Bila ada ketidakseimbangan antara ukuran tabung dan isinya, gerakan geser dicegah dan tekanan normal ditempatkan pada saraf median. Hasil tekanan ini dalam nyeri yang terasa di jari-jari dan pergelangan tangan yang khas. Continue reading

Pemeriksaan Panjang Otot dan Penguluran

1. a. Orientasi /tes : Adductores Terapi Adductores

Biarticular Adductores

* Semimembranosus

* Semi Tendinosus

*Gracilis

Monoarticular Adductores

* Adductor Magnus

* Adductor Brevis

* Adductor Longus

b. N. Passif Abduksi 40 derajat + 10 derajat

Pemeriksaan Panjang Otot dan Penguluran Continue reading

Teknik dalam diagnosis fungsional

Diagnosis fungsional dari kolom tulang belakang membuat tuntutan yang cukup untuk teknik. Kriteria berikut harus diperhatikan: sinar-X harus diambil dalam posisi yang sesuai sedekat mungkin untuk postur alami pasien, biasanya baik dengan berdiri atau duduk (dengan pengecualian dari pandangan (AP) anteroposterior dari tulang belakang leher, yang diambil dengan pasien terlentang). Secara umum, kemudian, setiap kecenderungan sedikit atau rotasi pada postur pasien tidak boleh dikoreksi. Namun, mungkin menjadi perlu untuk melakukannya dalam rangka mencapai: Continue reading